Kupi Beungoh
Belum Sembuh dari Corona, Membedah Trauma Kolektif Penonton Berita Hantavirus
Hantavirus bukan Covid-19, penularannya berbeda, skalanya berbeda, risikonya bagi kebanyakan orang jauh lebih kecil.
Disinilah hal yang perlu kita ketahui bersama, kesalahpahaman yang paling sering terjadi adalah ketika orang mengira trauma kolektif akan berakhir ketika peristiwanya berakhir. Padahal kenyataaanya justru sebaliknya.
Menurut salah satu sosiolog yang juga mengembangkan konsep trauma kolektif ini, Jeffrey Alexander, menyatakan bahwa justru trauma kolektif ini baru selesai dikonstruksi setelah peristiwanya berlalu.
Trauma tersebut akan tetap terus ada diperbincangkan, respons yang terus berulang dan kewaspadaan yang tidak akan pernah padam. Komentar komentar para netizen itu merupakan bukti konstruksi trauma kolektif yang sedang berlangsung secara real-time.
Ketika berita berseliweran mengenai Hantavirus muncul dengan framing yang mengaktifkan memori luka itu, respons yang terjadi bukan kepanikan irasional, melainkan respons yang sangat logis dari sistem saraf yang sudah pernah melewati pandemi sebelumnya.
Ekosistem media digital yang beroperasi dengan engagement dan berlomba-lomba dalam kecepatan, sehingga tidak memiliki mekanisme untuk memperlambat diri demi memberi ruang bagi konteks dan proporsisi.
Tetapi dibalik beberapa komentar yang mengandung trauma kolektif ada juga @in*** yang memilih untuk tidak panik, melainkan peduli secara konkret dengan narasi “Semoga ini ga jadi wabah, kasian yang kerja dimall, tempat wisata, kasian para pedagang, jaga kebersihan ya guys, sehat sehat kalian, semoga selalu dalam lindungan Allah”.
Kepedulian ini merupakan bentuk ketahanan kolektif yang paling dasar dan ketahan inilah yang bisa menjadi sebuah contoh untuk menghadapi krisis kesehatan berikutnya. Bukan hanya mempersiapkan stok masker, obat dan vaksin, melainkan kapasitas komunitas untuk saling menjaga.
Dari tulisan ini, terdapat paparan kebijakan yang menjadi arah untuk para pembaca. Pertama, bedakan membaca berita dengan mengingat memori luka. Maksudnya, sebagai pembaca berita kita harus menyadari terlebih dahulu, apa yang dirasakan ketika membaca berita virus tersebut, panik? atau menjadi sebuah hal baru yang perlu digali?.
Jika yang dirasakan adalah kepanikan, maka yang dibutuhkan bukan lebih banyak informasi tentang virus, melainkan memilih untuk mengakui memori lama itu masih ada dan hal ini wajar.
Dari kesadaran ini juga, kita bisa menahan diri untuk menyebarkan konten yang hanya memuat judul dramatis tanpa konteks, memprioritaskan sumber informasi kesehatan yang diberikan orang yang lebih kompeten dan yang paling penting adalah tidak malu mengakui kepada orang lain bahwa berita virus tertentu bukan karena virusnya, melainkan yang pernah dilalui sebelumnya terasa berat. Pengakuan tersebut merupakan pemulihan sederhana yang bisa dilakukan oleh pembaca.
Kedua, untuk media pemberitaan dan konten kreator, framing adalah tanggung jawab, bukan sekadar strategi. Framing yang dramatis akan hanya memperburuk kondisi bagi audiens yang mengalami trauma kolektif.
Yang perlu dibenahi adalah niat serta standar dalam memberitakan sesuatu, bukan karena kecepatan dan banyaknya views, tetapi seberapa paham dan teredukasi setelah menonton berita tersebut.
Jika ingin memberitakan hal seperti penyebaran virus ataupun penyakit, alangkah baiknya di barengi dengan menyajikan fakta dalam bingkai yang memberdayakan, mengedukasi, bukan yang menakut-nakuti.
Ketiga, baca berita dengan kritis dan bijak, bukan ikut ikutan panik seperti yang lain. Kebijakan ini dari komentar @in*** yang menjadi bukti bahwa ketika seseorang memilih untuk merespons dengan kepedulian dan tenang akan suatu berita, orang lain akan meresponnya dengan antusias.
Hal ini bisa menjadi pengetahuan untuk orang lain ketika ingin meneruskan informasi atau mengetik pendapat di kolom komentar.
Kita bisa memilih untuk memberi konteks ketenangan disbanding memperburuk kecemasan kolektif yang ada. Membaca berita dengan kritis dan bijak di tengah trauma kolektif mengenai Hantavirus adalah salah satu bentuk pilihan yang baik dan bentuk solidaritas yang nyata [].
Penulis adalah Nahasiswa Magister, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran
| Rp 1.620 Triliun untuk MBG, Mengapa Bukan untuk Menghidupkan Dapur Rakyat? |
|
|---|
| Sulaiman Tripa: Dari Pantee Raja ke Mimbar Profesor |
|
|---|
| Lapangan Tangkulo dan Masa Depan Energi Aceh: Peluang Strategis yang Tak Boleh Disia-siakan |
|
|---|
| MBG dan Piring Keadilan yang Retak |
|
|---|
| Generasi Muda dan Tantangan Demokrasi Pancasila di Era Digital: Antara Kebebasan dan Tanggung Jawab |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Anzelia-Anggrahini-Mahasiswa-Magister-Fakultas-Ilmu-Komunikasi-Universitas-Padjadjaran.jpg)