Kupi Beungoh
Ketika Mimbar Menasihati Korban, tetapi Membisu kepada Pelaku
Yang salah adalah ketika nasihat hanya diarahkan kepada korban, sementara pelaku ketidakadilan tidak pernah disentuh.
Sejarah mencatat bahwa para ulama besar tidak dibedakan oleh banyaknya pengikut, melainkan oleh keberanian mereka menyampaikan kebenaran. Mereka tidak mengukur ucapan berdasarkan siapa yang akan tersinggung. Mereka mengukur ucapan berdasarkan apakah itu benar atau tidak.
Sebab kebenaran memang sering kali tidak nyaman.
Ia mengganggu kepentingan.
Ia mengusik zona aman.
Ia membuat sebagian orang kehilangan privilege.
Karena itu, suara kebenaran hampir selalu memiliki harga.
Hari ini kita membutuhkan lebih banyak mimbar yang berani berbicara tentang keadilan sosial, tata kelola yang bersih, amanah kekuasaan, hak-hak rakyat, dan perlindungan terhadap kelompok lemah. Bukan untuk menjadikan masjid sebagai arena politik praktis, tetapi untuk mengembalikan agama pada misi moralnya.
Sebab agama yang hanya menghibur korban tanpa menegur pelaku, lambat laun akan kehilangan daya transformasinya.
Ia mungkin tetap dipenuhi jamaah.
Tetapi gagal menghadirkan perubahan.
Dan ketika mimbar lebih sibuk mengajarkan rakyat miskin untuk menerima nasib daripada mengingatkan para pemegang kuasa agar takut kepada hisab Allah, saat itulah agama berisiko kehilangan salah satu fungsi terbesarnya: menjadi suara bagi mereka yang tidak memiliki suara.
Mimbar tidak dilahirkan untuk menyenangkan penguasa.
Mimbar juga tidak dibangun untuk meninabobokan rakyat.
Mimbar ada untuk menjaga nurani umat tetap hidup.
Walaupun pahit.
Walaupun berisiko.
Walaupun tidak disukai.
*) Penulis adalah Da’i Muda, Dosen STAI Nusantara Banda Aceh, Mahasiswa Doktor Studi Islam Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dai-Muda-Alwy-Akbar-Al-Khalidi.jpg)