Kupi Beungoh
Aceh Ingin Berhijrah ke Mana?
Julukan Serambi Mekkah yang melekat pada Aceh selama ini sering dipahami sebagai simbol identitas keagamaan. Padahal maknanya jauh lebih luas.
*) Oleh: Djamaluddin Husita, S.Pd., M.Si
MUHARRAM tidak hanya menandai pergantian tahun dalam kalender Islam, tetapi juga mengingatkan makna hijrah sebagai keberanian melakukan perubahan menuju keadaan yang lebih baik.
Dalam konteks Aceh, momentum ini layak dijadikan ruang refleksi untuk menilai kembali arah pembangunan yang sedang ditempuh, terutama dalam bidang pendidikan yang selama ini diyakini sebagai fondasi utama kemajuan masyarakat.
Perkembangan pendidikan di Aceh sesungguhnya cukup menggembirakan. Sekolah, madrasah, dayah, hingga perguruan tinggi terus bertambah dan berkembang.
Kesempatan melanjutkan pendidikan hingga jenjang magister dan doktor juga semakin terbuka. Namun di tengah kemajuan tersebut, muncul pertanyaan yang patut direnungkan: mengapa pertumbuhan lembaga pendidikan yang demikian pesat belum sepenuhnya berbanding lurus dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia dan daya saing masyarakat
Tentu tidak tepat jika dikatakan bahwa pendidikan Aceh tidak mengalami kemajuan. Banyak capaian yang patut diapresiasi. Akan tetapi, refleksi tetap diperlukan agar pembangunan tidak berhenti pada pencapaian-pencapaian yang bersifat administratif.
Sebab keberhasilan pendidikan tidak diukur dari banyaknya gedung yang berdiri atau jumlah lulusan yang dihasilkan, melainkan dari kemampuan pendidikan tersebut dalam menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat.
Faktanya, lembaga pendidikan formal dan nonformal tumbuh hampir di setiap sudut Aceh. Jumlah sarjana terus bertambah, program studi semakin beragam, dan akses pendidikan relatif lebih terbuka dibandingkan masa lalu.
Namun dalam banyak kesempatan, kita masih lebih sering menghitung jumlah lembaga pendidikan daripada mengukur dampaknya terhadap kemajuan masyarakat. Kita lebih mudah membanggakan angka daripada menilai kualitas perubahan yang dihasilkan.
Karena itu, Muharram mengingatkan bahwa hijrah tidak cukup dimaknai sebagai perpindahan waktu dari satu tahun ke tahun berikutnya. Hijrah adalah keberanian melakukan pembaruan cara berpikir.
Aceh membutuhkan lompatan dari orientasi kuantitas menuju kualitas, dari kebanggaan terhadap angka menuju perhatian yang lebih besar pada dampak, serta dari sekadar menghasilkan lulusan menuju melahirkan generasi yang mampu memberikan solusi bagi persoalan zamannya.
Meneguhkan Serambi Mekkah melalui Tradisi Ilmu
Julukan Serambi Mekkah yang melekat pada Aceh selama ini sering dipahami sebagai simbol identitas keagamaan. Padahal maknanya jauh lebih luas.
Julukan tersebut lahir dari sejarah panjang yang menempatkan Aceh sebagai salah satu pusat penyebaran Islam, pusat pendidikan, sekaligus tempat bertemunya berbagai tradisi intelektual di kawasan Asia Tenggara.
Karena itu, menjaga marwah Serambi Mekkah tidak cukup dilakukan melalui pelestarian simbol-simbol keagamaan semata. Yang lebih penting adalah memastikan tradisi ilmu tetap hidup dan berkembang.
Sebab dalam sejarah Islam, kemajuan sebuah peradaban selalu ditopang oleh kekuatan pendidikan, budaya literasi, dan penghargaan terhadap pengetahuan.
Dalam konteks ini, Masjid Raya Baiturrahman memiliki posisi yang sangat istimewa. Selama ini masjid tersebut dikenal sebagai ikon Aceh, baik karena nilai sejarah maupun kemegahan arsitekturnya.
Ribuan wisatawan datang setiap tahun untuk melihat langsung salah satu simbol kebanggaan masyarakat Aceh tersebut.
Namun sesungguhnya nilai Baiturrahman tidak berhenti pada aspek fisik dan historis. Masjid ini memiliki peluang untuk terus diperkuat sebagai pusat pembinaan umat, pengembangan literasi, dan penggerak aktivitas intelektual yang mampu menjawab tantangan zaman.
Dengan demikian, Baiturrahman tidak hanya menjadi pengingat kejayaan masa lalu, tetapi juga bagian dari ikhtiar membangun masa depan.
Dalam kaitan itulah keberadaan Kompleks Pendidikan Darussyariah Banda Aceh menjadi penting untuk diperhatikan. Meskipun secara fisik tidak berada dalam kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Darussyariah memiliki keterkaitan historis dan semangat pengembangan pendidikan Islam yang selama ini melekat pada Baiturrahman.
Kehadirannya dapat dipandang sebagai salah satu bagian dari upaya memperkuat fungsi pendidikan yang selama ini menjadi ruh dari perkembangan peradaban Islam di Aceh.
Apabila Baiturrahman ingin terus memainkan peran sebagai simbol peradaban Islam Aceh, maka berbagai lembaga pendidikan yang tumbuh dari semangat yang sama juga perlu diperkuat.
Dengan posisi yang strategis di pusat ibu kota serta kedekatannya dengan berbagai institusi pendidikan dan pemerintahan, Darussyariah memiliki peluang untuk berkembang menjadi salah satu ruang pembelajaran yang lebih dinamis dan berpengaruh.
Di tengah kebutuhan Aceh akan pusat-pusat pengembangan sumber daya manusia yang unggul, Darussyariah sesungguhnya dapat mengambil peran yang lebih besar.
Bukan hanya sebagai tempat berlangsungnya proses pendidikan formal, tetapi juga sebagai ruang lahirnya gagasan, penguatan budaya literasi, pembinaan kepemimpinan generasi muda, dan pengembangan pemikiran keislaman yang responsif terhadap perubahan zaman.
Harapan tersebut bukan dimaksudkan untuk membandingkan Darussyariah dengan dayah atau lembaga pendidikan Islam lain yang telah lama memberikan kontribusi besar kepada masyarakat.
Sebaliknya, harapan itu muncul karena posisi dan peluang yang dimilikinya memang cukup unik. Dengan dukungan pengelolaan yang visioner serta program-program yang adaptif terhadap kebutuhan masa depan, Darussyariah berpotensi menjadi salah satu simpul penting dalam penguatan ekosistem pendidikan Aceh.
Yang diperlukan tentu bukan semata-mata pembangunan fisik atau kegiatan seremonial. Yang jauh lebih penting adalah tumbuhnya kehidupan akademik dan intelektual yang berkelanjutan.
Sebuah lembaga pendidikan akan memiliki pengaruh ketika di dalamnya berlangsung diskusi, penelitian, pengembangan literasi, kaderisasi, serta kolaborasi yang melibatkan berbagai kalangan. Dari lingkungan seperti itulah biasanya lahir gagasan-gagasan baru yang mampu memberi kontribusi bagi masyarakat.
Pelajaran tersebut tetap relevan hingga hari ini. Ketika dunia bergerak cepat akibat perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, dan persaingan global yang semakin terbuka, Aceh membutuhkan generasi yang tidak hanya memahami nilai-nilai agama, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, berinovasi, berkolaborasi, dan beradaptasi dengan perubahan.
Karena itu, pertanyaan yang layak direnungkan pada setiap Muharram bukan sekadar berapa tahun yang telah berlalu, melainkan ke mana arah yang sedang kita tuju.
Sebab masa depan tidak dibangun oleh nostalgia terhadap kejayaan masa lalu, melainkan oleh kesungguhan mempersiapkan generasi yang akan menghadapi masa depan tersebut.
Jika Aceh ingin berhijrah menuju keadaan yang lebih baik, maka hijrah itu harus dimulai dari penguatan kualitas manusia. Pendidikan perlu ditempatkan sebagai investasi peradaban, bukan sekadar program pembangunan.
Dengan cara itulah julukan Serambi Mekkah akan menemukan maknanya yang paling substantif: sebuah daerah yang tidak hanya kuat dalam identitas keislamannya, tetapi juga unggul dalam ilmu pengetahuan, karakter, dan kemajuan masyarakatnya.
Pada akhirnya, hijrah yang paling penting bagi Aceh bukan sekadar pergantian tahun dalam kalender Hijriah. Hijrah yang sesungguhnya adalah keberanian mengubah cara pandang terhadap pendidikan, menjadikannya sebagai investasi peradaban, sekaligus menempatkan generasi muda sebagai pusat dari seluruh agenda pembangunan.
Jika langkah itu mampu dilakukan secara konsisten, maka Aceh tidak hanya akan dikenang sebagai Serambi Mekkah dalam catatan sejarah, tetapi juga hadir sebagai pusat lahirnya generasi berilmu, berkarakter, dan mampu menjawab tantangan zaman. (*)
*) Penulis adalah Alumnus Pascasarjana FMIPA UNPAD Bandung, Kepala Madrasah, Pengiat dan Pemerhati Masalah Pendidikan
KUPI Beungoh adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel dalam rubrik ini tidak mencerminkan pandangan Redaksi dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Alumnus-Pascasarjana-FMIPA-UNPAD-Bandung-Djamaluddin-Husita.jpg)