Opini
Alone Together: Mati Rasa Moral di Ruang Digital
DI banyak warung kopi di Aceh hari ini, kita menyaksikan sebuah pemandangan yang tampak biasa, tetapi sesungguhnya menyimpan
Abdul Wahid Arsyad, Guru Besar Hadis Ahkam UIN Ar-Raniry Banda Aceh
DI banyak warung kopi di Aceh hari ini, kita menyaksikan sebuah pemandangan yang tampak biasa, tetapi sesungguhnya menyimpan kegelisahan sosial yang mendalam. Puluhan orang duduk berdekatan di meja yang sama, namun masing-masing sibuk menatap layar telepon genggamnya. Tidak ada percakapan hangat, tidak ada tawa bersama, bahkan kadang tidak ada saling tegur sapa. Mereka hadir secara fisik, tetapi absen secara emosional. Fenomena ini mengingatkan pada istilah alone together, sendiri-sendiri meskipun sedang bersama.Warung kopi dalam tradisi masyarakat Aceh sejatinya bukan sekadar tempat menikmati kopi.
Ia adalah ruang sosial, tempat bertukar pikiran, memperkuat silaturahmi, mendiskusikan persoalan kampung, agama, hingga politik. Warkop dahulu menjadi simbol keterbukaan sosial dan kehangatan relasi antarmanusia. Namun kini, ruang publik itu perlahan berubah menjadi ruang sunyi digital. Orang berkumpul, tetapi hubungan antarmanusia justru semakin renggang.
Fenomena ini bukan hanya persoalan perubahan gaya hidup, melainkan tanda lahirnya krisis moral dan krisis empati di era digital. Teknologi yang seharusnya mendekatkan manusia justru sering kali menjauhkan manusia dari manusia lain. Kita hidup dalam era koneksi tanpa kedekatan, komunikasi tanpa kehangatan, dan interaksi tanpa kepedulian.
Dalam perspektif psikologi sosial, kondisi ini dapat disebut sebagai gejala social disconnection, yakni terputusnya hubungan emosional akibat dominasi interaksi virtual. Media sosial memberikan ilusi kebersamaan, padahal yang terjadi sering kali adalah keterasingan batin. Seseorang bisa memiliki ribuan pengikut di media sosial, tetapi kehilangan kemampuan untuk berbicara hangat dengan orang yang duduk di sebelahnya.
Lebih jauh lagi, ruang digital juga membentuk budaya individualisme baru. Algoritma media sosial bekerja berdasarkan kepentingan pribadi pengguna. Setiap orang diarahkan untuk menikmati dunia sesuai preferensinya sendiri. Akibatnya, manusia semakin larut dalam ruang ego masing-masing. Kepekaan sosial menurun, empati melemah, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar menjadi semakin tipis.
Islam sesungguhnya sangat menekankan pentingnya interaksi sosial yang sehat dan penuh adab. Rasulullah saw mengajarkan bahwa senyum adalah sedekah, menyapa adalah kemuliaan, dan menjaga silaturahmi merupakan bagian dari kesempurnaan iman. Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah bersabda: “Janganlah kalian saling membenci, saling memutus hubungan, dan jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara.” Nilai-nilai seperti ini menegaskan bahwa Islam dibangun di atas fondasi hubungan sosial yang hangat dan manusiawi.
Karena itu, fenomena diam bersama di ruang publik sebenarnya bertolak belakang dengan semangat ukhuwah dalam Islam. Ketika seseorang lebih sibuk berinteraksi dengan dunia virtual daripada memperhatikan orang di sekitarnya, maka perlahan muncul apa yang dapat disebut sebagai “mati rasa moral”. Hati menjadi kurang peka terhadap keberadaan orang lain. Kehadiran fisik tidak lagi bermakna sebagai hubungan sosial.
Mati rasa moral di ruang digital tampak dalam banyak bentuk. Kita sering menyaksikan orang lebih cepat memberi komentar pedas di media sosial daripada memberikan solusi nyata di dunia nyata. Banyak orang merasa bebas menghina, memfitnah, atau mempermalukan orang lain karena bersembunyi di balik layar. Dalam ruang digital, etika sering kali dikalahkan oleh sensasi dan viralitas.
Lebih ironis lagi, tragedi kemanusiaan kadang berubah menjadi tontonan. Ketika terjadi kecelakaan, sebagian orang justru sibuk merekam video daripada menolong korban. Ketika ada musibah, yang muncul pertama kali bukan empati, melainkan dorongan untuk membuat konten. Inilah salah satu bentuk degradasi moral akibat budaya digital yang kehilangan nilai kemanusiaan.
Fenomena ini juga dipengaruhi oleh budaya kecepatan dalam dunia digital. Media sosial membentuk manusia untuk bereaksi cepat, bukan berpikir mendalam. Orang terbiasa membaca singkat, menilai cepat, dan menghakimi tanpa verifikasi. Akibatnya, ruang publik digital dipenuhi amarah, hoaks, ujaran kebencian, dan polarisasi sosial.
Menanamkan empati
Dalam perspektif sosiologi, kondisi ini melahirkan masyarakat yang rapuh secara emosional. Kedekatan sosial menurun, rasa percaya antarmanusia melemah, dan solidaritas perlahan terkikis. Padahal masyarakat Aceh selama ini dikenal memiliki tradisi kebersamaan yang kuat. Nilai seperti musyawarah, gotong-royong, dan penghormatan terhadap sesama merupakan identitas sosial yang diwariskan turun-temurun. Jika ruang digital terus mendominasi tanpa kontrol moral, maka budaya kolektif tersebut berpotensi melemah.
Di sisi lain, generasi muda menjadi kelompok yang paling rentan. Banyak anak muda lebih nyaman berbicara di media sosial daripada berdialog langsung dengan keluarga atau lingkungan sekitar. Mereka aktif secara digital, tetapi pasif secara sosial. Kecanduan gawai bahkan dapat menurunkan kemampuan komunikasi interpersonal dan mengurangi kecerdasan emosional.
Karena itu, tantangan terbesar era digital sebenarnya bukan sekadar perkembangan teknologi, tetapi bagaimana menjaga kemanusiaan di tengah kemajuan teknologi. Kita membutuhkan literasi digital yang tidak hanya mengajarkan kemampuan menggunakan media, tetapi juga etika menggunakan media. Teknologi harus dikendalikan oleh nilai moral, bukan sebaliknya.
Dalam konteks ini, keluarga memiliki peran penting. Orang tua perlu membangun kembali budaya dialog di rumah. Meja makan tidak boleh dikuasai telepon genggam. Anak-anak perlu diajarkan pentingnya mendengar, menyapa, dan menghargai kehadiran orang lain. Pendidikan akhlak di era digital harus menanamkan empati sebagai fondasi utama kehidupan sosial.
Lembaga pendidikan juga perlu memberi perhatian serius terhadap persoalan ini. Sekolah dan perguruan tinggi tidak cukup hanya mengajarkan kecerdasan akademik, tetapi juga kecerdasan sosial dan spiritual. Mahasiswa harus dilatih untuk aktif berdiskusi, bekerja sama, dan membangun sensitivitas sosial di tengah arus individualisme digital.
Demikian pula para ulama dan tokoh agama perlu menghadirkan dakwah yang relevan dengan tantangan zaman digital. Mimbar-mimbar keagamaan harus mengingatkan masyarakat bahwa menjaga adab di media sosial adalah bagian dari akhlak Islam. Menjaga lisan hari ini bukan hanya soal ucapan langsung, tetapi juga soal komentar, unggahan, dan interaksi digital.
Teknologi pada dasarnya tidak salah. Media sosial juga bukan musuh. Yang menjadi masalah adalah ketika manusia kehilangan kendali moral dalam menggunakannya. Kita boleh modern, tapi jangan kehilangan empati. Kita boleh aktif di dunia digital, tetapi jangan mati rasa terhadap manusia di sekitar kita.
Warung kopi di Aceh seharusnya tetap menjadi ruang hidup yang menghadirkan kehangatan sosial, bukan sekadar tempat berkumpul tanpa percakapan. Jangan sampai kita menjadi generasi yang terlalu sibuk terhubung dengan dunia maya, tetapi gagal membangun hubungan nyata dengan sesama manusia.
Pada akhirnya, ukuran kemajuan sebuah masyarakat bukan hanya seberapa cepat internetnya, tetapi seberapa kuat rasa kemanusiaannya. Sebab manusia tidak hanya membutuhkan koneksi digital, tetapi juga sentuhan empati, sapaan hangat, dan kehadiran sosial yang tulus. Jika semua itu hilang, maka kita mungkin sedang hidup bersama, tetapi sesungguhnya berjalan sendiri-sendiri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Abdul-Wahid-Arsyad-MAg.jpg)