Jumat, 10 April 2026

Opini

Lezatnya Kuah Beulangong, Benarkah Pemicu Hipertensi?

KARI Kambing salah satu makanan favorit di kalangan masyarakat Provinsi Aceh, khususnya Kabupaten Aceh Besar,

Editor: mufti
IST
Nanda Lestia 

Nanda Lestia, Mahasiswi Magister Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran USK

KARI Kambing salah satu makanan favorit di kalangan masyarakat Provinsi Aceh, khususnya Kabupaten Aceh Besar, yang lebih dikenal dengan nama “Kuah Beulagong”. Kuliner yang memiliki cita rasanya yang khas ini terbuat dari bahan dasar daging kambing segar yang berpadu dengan rempah-rempah masakan.
Asal‑usul kuah beulangong bermula pada masa kejayaan Kesultanan Aceh Darussalam pada abad ke‑19. Pada era itu, perdagangan global memperkenalkan rempah‑rempah asing yang kemudian bersinergi dengan bahan‑bahan lokal.

Proses memasak tradisional biasanya dilakukan secara bersama oleh para laki-laki: memotong bahan, menyembelih hewan, menyiapkan bumbu, hingga mengaduk kuah dalam belanga besar. Kegiatan ini tidak sekadar menyajikan makanan, melainkan menjadi ritual sosial yang menekankan nilai gotong‑royong, solidaritas, dan persaudaraan.

Kuah beulangong bukan sekadar hidangan utama pada berbagai acara “khanduri” (kenduri) di Aceh, baik kenduri yang berkaitan dengan momen Agama Islam (Kenduri Maulid, Kenduri Isra Mikraj, Kenduri Kematian), kenduri yang berkaitan dengan kepercayaan (Kenduri Blang, Kenduri Tulak Bala, Kenduri Laot, Kenduri Neuheun), atau kenduri di dalam rumah tangga (Kenduri Preh Linto, Kenduri Tueng Dara Baro, Kenduri Peutron Aneuek Manyak, Kenduri Akikah, Kenduri Sunat Rasul/Khitan).

Melainkan telah menjadi bagian dari warisan budaya dan tradisi kearifan lokal di Aceh dan telah resmi diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Indonesia sejak tahun 2018. Namun, di balik kelezatannya, terselip kekhawatiran yang turun-temurun: menyantap kari kambing bisa menyebabkan hipertensi.

Pendekatan Ilmiah

Hipertensi adalah kondisi tekanan darah pada dinding pembuluh darah terlalu tinggi. Tekanan darah dianggap tinggi jika sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih, dan diastolik mencapai 90 mmHg atau lebih. Hipertensi saat ini menjadi masalah global yang signifikan. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2023, lebih dari 1 miliar orang di seluruh dunia menderita hipertensi, dan angka kejadiannya terus meningkat dari tahun ke tahun.

Studi terbaru oleh CDC (Center for Disease Control and Prevalention) tahun 2022, prevalensi hipertensi cenderung lebih tinggi pada usia lanjut, dimana lebih dari setengah orang dewasa di atas usia 60 tahun menderita kondisi ini. Prevalensi hipertensi di Indonesia saat ini mencapai angka mengkhawatirkan. Berdasarkan data terbaru Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sebanyak 34,11 persen masyarakat Indonesia mengidap hipertensi. Angka tersebut menempatkan Indonesia di peringkat kelima dunia sebagai negara dengan jumlah penderita hipertensi terbanyak.

Mayoritas penderita tidak menyadari bahwa mereka telah mengidap hipertensi, karena penyakit ini kerap hadir tanpa gejala namun terus menerus merusak tubuh. Oleh karena itu, hipertensi dikenal sebagai salah satu penyakit silent killer di kalangan medis. Jika tidak dikendalikan bukan hanya mengganggu kualitas hidup kita, ia juga dapat menyebabkan komplikasi serius seperti penyakit jantung dan pembuluh darah, stroke, gangguan penglihatan (retinopati), gagal ginjal bahkan kematian.

Berdasarkan data global terbaru (2023) menunjukkan konsumsi garam di dunia rata‑rata 10,8 g garam per orang per hari, hampir dua kali lipat dari rekomendasi WHO. Di Indonesia sendiri, dari Survei 2022‑2023 (GAIN Health) mengidentifikasi 6,68 g garam/hari rata‑rata, naik dari 5,3‑5,9 g pada periode 2018‑2020. Penyebab lonjakan tersebut karena peningkatan penggunaan garam dalam masakan rumah dan produk olahan (misalkan bumbu instan, sambal siap pakai). Data terbaru dari UNICEF 2024 menambahkan bahwa 42‑45 % kebutuhan natrium berasal dari garam makanan, termasuk yang ditambahkan di rumah.

Lalu timbul pertanyaan “Benarkah kari kambing biang kerok hipertensi?” Secara ilmiah, daging kambing sebenarnya mengandung lemak jenuh dan kolesterol yang lebih rendah dibandingkan daging sapi. Namun, klaim bahwa makan kari kambing "langsung" menyebabkan hipertensi adalah simplifikasi yang berbahaya. Masalahnya tidak terletak semata-mata pada daging kambingnya, tetapi pada tiga faktor utama yang sering kali menyertainya: Pertama, kandungan garam (Natrium) yang tinggi: Kuah kari yang gurih dan lezat berasal dari campuran rempah dan garam dalam jumlah yang signifikan.

Asupan natrium yang berlebihan adalah faktor risiko hipertensi yang telah terbukti secara kuat di berbagai penelitian. Tubuh menahan cairan untuk mengencerkan natrium berlebih dalam darah, yang meningkatkan volume darah dan pada akhirnya menaikkan tekanan darah. Kedua, porsi dan frekuensi konsumsi: Masalah muncul ketika konsumsi dilakukan dalam porsi besar dan atau frekuensi yang sering (karena menghadiri acara kenduri).

Satu porsi (sekali-sekali) mungkin tidak signifikan dampaknya, tetapi konsumsi rutin dalam jumlah banyak akan memberikan beban natrium dan lemak yang kumulatif pada tubuh. Ketiga, gaya gidup secara keseluruhan. Hipertensi adalah penyakit multifaktorial. Seseorang yang sudah memiliki risiko akibat faktor genetik, merokok, kurang aktivitas fisik, stres, dan pola makan tidak sehat lainnya, akan membuat konsumsi kari kambing menjadi "pemicu" tambahan yang memperberat kondisi, bukan menjadi penyebab tunggal.

Oleh karena itu, WHO telah menetapkan batasan takaran yang direkomendasikan untuk orang dewasa sebanyak < 5>

Preventif dan promotif

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved