Opini
Syawal: Bulan Peningkatan yang Tinggal Nama?
Dan akhirnya: apakah Syawal benar-benar bulan peningkatan—atau hanya tinggal dalam nama?
M. Shabri Abd. Majid*)
Setelah 30 hari puasa, kita memasuki Syawal—yang disebut sebagai bulan peningkatan.
Ia seharusnya menjadi jembatan dari latihan menuju perubahan, dari ibadah menuju perbaikan nyata.
Selama Ramadhan, kita tidak sekadar berpuasa—kita dilatih mengendalikan diri, menjaga lisan, menata waktu, memperkuat ibadah, dan menumbuhkan empati. Ia adalah training system yang membentuk manusia secara utuh.
Secara normatif, Syawal bukan fase penurunan, tetapi penguatan. Amalan harus meningkat, perilaku harus berubah, dan nilai harus menjadi kebiasaan.
Namun ketika ditarik ke realitas yang lebih luas—terutama pada masyarakat dan pembangunan—pertanyaannya menjadi jauh lebih serius.
Aceh memiliki nilai agama yang kuat, dan Ramadhan dijalani secara kolektif. Namun kinerja ekonomi belum menunjukkan lompatan: pertumbuhan tertahan, produktivitas belum optimal, kemiskinan tetap tinggi, dan daya saing belum mampu melampaui daerah lain.
Di titik ini, pertanyaan menjadi struktural: jika nilai dilatih setiap tahun, mengapa kinerja tidak meningkat? Jika disiplin, integritas, dan empati telah dibentuk, mengapa tidak terakumulasi menjadi produktivitas dan kesejahteraan?
Maka pertanyaan paling jujur tak terhindarkan: apakah kita benar-benar meningkat—atau hanya merasa meningkat?
Apakah Ramadhan membentuk perilaku—atau hanya suasana? Apakah disiplin bertahan—atau runtuh? Apakah kejujuran menjadi karakter—atau kembali dinegosiasikan?
Dan akhirnya: apakah Syawal benar-benar bulan peningkatan—atau hanya tinggal dalam nama?
Ramadhan: Pelatihan yang Tak Seharusnya Gagal
Ramadhan bukan sekadar ibadah, tetapi sebuah program pelatihan komprehensif—melampaui integrated training system dalam manajemen modern—dengan kurikulum jelas, disiplin ketat, dan capaian yang terukur.
Ia membentuk manusia secara utuh: mental, moral, sosial, dan fisik. Dengan desain sekomprehensif ini, kegagalan bukanlah sesuatu yang seharusnya terjadi.
Pada tahap awal, Ramadhan melatih pengendalian diri (self-control) dan kemampuan menunda kepuasan (delayed gratification)—fondasi rasionalitas dalam pengambilan keputusan.
Dari sini lahir integritas: kejujuran tanpa pengawasan, sebuah self-regulation yang menjadi basis rendahnya korupsi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Guru-Besar-Ekonomi-Islam-Universitas-Syiah-Kuala-Banda-Aceh-Shabri-A-Majid.jpg)