Sabtu, 25 April 2026

KUPI BEUNGOH

Cinta Iskandar Muda: Antara Ketulusan, Politisasi & Fenomena Terlantarnya Makam Permaisuri di Pidie

Bangsa besar adalah bangsa yang menghargai jasa indatu atau pendahulu. Falsafah hidup ini dipegang teguh oleh para pemimpin negara besar di dunia

Editor: Muhammad Hadi
SERAMBINEWS.COM/HO
Tarmizi A Hamid dan Hasan Basri M.Nur adalah pengelola Museum Manuskrip Aceh 

Oleh: Tarmizi A Hamid dan Hasan Basri M.Nur*)

SERAMBINEWS.COM - Bangsa besar adalah bangsa yang menghargai jasa indatu atau pendahulu. Falsafah hidup ini dipegang teguh oleh para pemimpin negara besar di dunia.

Para pemimpin Turkiye modern saat ini selalu mengenang dan mengikuti jejak Utsman bin Ertogrul, Sultan Muhammad Alfatih yang mampu menaklukkan Kekaisaran Bizantium hingga Mustafa Kemal Attaturk sebagai Bapak Turki Modern.

Demikian juga para pemimpin Iran modern yang senantiasa mengingat kebesaran para pendahulu sejak era Imperium Persia yang adidaya hingga Safawi Islam yang masih super power.

Makanya tak mengherankan jika Turki dan Iran ingin tetap berusaha untuk merebut pengaruh pada tatanan dunia, hingga saat ini. Kedua bangsa besar ini selalu rindu kisah heroik akan masa lalu. 

Baca juga: Makam Permaisuri Iskandar Muda di Pidie Terlantar, Budayawan dan Arkeolog USK Kecewa

Di tanah Jawa, para penduduk dan pemimpinnya selalu mengenang kebesaran legenda Patih Gajah Mada yang mereka yakini sebagai “penakluk” Nusantara walau tak didukung oleh jejak bukti nyata dan peninggalan sejarah. 

Kebesaran kisah Gajah Mada berbeda dalam pemahaman penduduk Melayu Tamiang yang menyakini misi Gajah Mada mampu mereka gagalkan tatkala hendak menyerbu Aceh. Diyakini, orang Tamiang hebat pada eranya. 

Terdapat cerita rakyat local di Tamiang, Gajah Mada terbunuh di tangan pendekar Aceh Tamiang dikuburkan di kawasan Manyak Payed, sekarang menjadi satu kecamatan di Aceh Tamiang. Manyak Payed diyakini berasal dari kata: Majapahit.

Begitulah sekilas bentuk apresiasi terhadap para pembesar masa lampau. Lalu, apakah apresiasi kepada pembesar negara masa lampau masih berlaku di Aceh saat ini?

Kebesaran Iskandar Muda

Baru-baru ini kami dengan didampingi arkelog Universitas Syiah Kuala, Prof Husaini Ibrahim melakukan kunjungan ke lokasi makam isteri pertama (permaisuri) dari Sultan Iskandar Muda yang terletak di Gampong Reuntoh, Kemukiman Reubee, Kecamatan Delima, Kabupaten Pidie.

Sultan Iskandar Muda adalah Raja Diraja atau Raja Agung dalam sejarah Kerajaan Aceh Darussalam. Ia memerintah dari tahun 1607-1636 M.

Sultan Iskandar Muda mempeluas kekuasaan Aceh hingga separuh Sumatera dan sebagai semenanjung Malaysia; meliputi Pahang, Melaka hingga Johor. 

Isteri kedua Iskandar Muda Adalah bangsawan Pahang yang dibawa pulang setelah penaklukan, disebut Putroe Phang.

Baca juga: Puluhan Siswa SMAN 2 Delima Sambangi Makam Putroe Tsani

Menantu Iskandar Muda, yang digelari sebagai Iskandar Tsani atau suami dari Safiyatuddin adalah bangsawan Pahang yang ia jadikan sebagai anak angkat setelah dia taklukkan Negeri Pahang.

Berbeda dengan Aceh yang telah menjadi provinsi dalam NKRI, Pahang hingga hari ini masih merupakan kesultanan dan tergabung dalam Federasi Malaysia.

Cinta Iskandar Muda: Antara Tulus dan Dusta

Dalam amatan kami, kuburuan permaisuri tersebut tampak tak terurus. Bangunan tempat makam tak selesai dibangun.

Kondisi batu nisan yang kuno tersebut mulai terputus dan sangat disayangkan telah disambung dengan semen. 

Kenyataan ini menunjukkan bahwa pihak yang melakukan pembangunan kala itu tak memiliki pengetahuan tentang tata cara perawatan benda purba kala. 

Sesungguhnya dalam merawat benda purbaka ada tata cara tersendiri.

Lahan makam sangat luas, perkiraan kami lebih dari 5000 meter. Namun yang dipagari hanya ukuran sekitar 15 x 15 meter.

Tragis, kondisi pagar yang sederhana mulai roboh sehingga sangat mudah masuk binatang ternak.

“Sangat luas lahan makam ini. Yang dipagari itu hanya sebagian kecil saja,” ujar Ramadhan (37), pengusaha lokal di samping makam. 

Di sekitar lokasi makam tak ada tempat istirahat bagi pengunjung. Demikian juga tidak ada toilet dan area parkir, walau lahannya sangat luas.

Di samping banguna makam, terdapat sebuah sumur berair jernih. Sumur ini adalah sedekah dari seorang pengunjung. 

“Sumur ini yang ada di dekat makam adalah sumbangan dari seorang pengunjung yang prihatin melihat tak ada sumber air bersih di situ,” ungkap Ramadhan alias Rama.

Menurut Rama, tak ada yang peduli pada kondisi makam. Tak ada upacara apa pun di sana.

“Saya yang rutin melaksanakan kenduri setiap tahun pada jeurat itu agar warga mengetahui betapa pentingnya makam ini,” katanya.

“Pengunjung dari luar Pidie sering berkunjung kemari. Ada dari Aceh Timur, Aceh Barat dan lain-lain,” lanjut Rama.

Tak Tulus, Hanya Politis?

Kami beranggapan tak ada ketulusan dari ucapan politisi di Aceh yang mengatakan cinta akan Sultan Iskandar Muda

Pernyataan cinta itu bertolak belakang dengan kepedulian pada makan sang permaisuri. 

Kami menganggap ucapan cinta pada sosok Iskandar Muda hanyalah sebatas bahasa politis semata, atau ikut-ikutan alias latah. 

Lalu, kebesaran nama Iskandar Muda dipolitisasi untuk kepentingan tertentukah?

Semua orang Aceh, terutama pejabat eksekutif dan legislatif, mengaku bangga pada Iskandar Muda, tapi makam isteri Sultan di Pidie tak ada yang peduli.

Semua kita sekarang mengaku sebagai cucu Sultan Iskandar Muda

Tapi pada makam permaisuri Sang Sultan (nenek orang Aceh) tak ada yang peduli. Omong kosong alias tem soh semua.

“Ini adalah makam permaisuri dari Sultan Besar Aceh. Tak pantas mendapat perlakuan seperti ini,” kata Prof Husaini di kokasi makam.

Dari beberapa referensi disebutkan, permaisuri tersebut adalah putri dari Teungku Syik di Reubee. Teungku Syik di Reubee adalah bangsawan, selain ulama besar.

Menurut tokoh adat Aceh, Drs H Nurdin AR MSi, nama permaisuri tersebut adalah Puteri Sendi Ratna Indra.

Namun, penduduk setempat menyebutnya sebagai Putroe Sani. Sani maksudnya adalah Sendi.

Baca juga: Kerajaan Aceh Punya Dua Istana, Begini Kisah Sultan Mengungsi dari Kraton ke Keumala Dalam

“Nama sang permaisuri itu adalah Putri Sendi Ratna Indra binti Maharaja Daèng Mansur alias Syèkh Da-im atawa Teungku Chik di Reubèë,” ujar Nurdin AR yang alumnus UGM Yogyakarta. 

Putri Sendi atau Putroe Sani adalah ibunda dari Puteri Sri Alam Permaisuri atau Sultanah Tajul Alam Safiyatuddin Syah dan Poteu Cut atau Meusrah Popo yang terkadang oleh orang awam disebut Meurah Pupok.

Sultanah Tajul Alam Safiyatuddin Syah selanjutnya melanjutkan kepemimpinan Sultan Iskandar Muda setelah sang suami yang berasal dari Kerajaan Pahang (Malaysia) meninggal dunia.

Adapun Sultan Husein, Maharaja Pidie, adalah paman dari Sultan Iskandar Muda, yaitu abang dari ibundanya. 

Rekomendasi

Setelah observasi awal ke lokasi makam Permaisuri Iskandar Muda, kami dari Museum Manuskrip Aceh merekomendasikan kepada Bupati Pidie, Gubernur Aceh, DPRK Pidie dan DPRA agar melakukan koordinasi untuk rencana rekonstruksi makam tersebut yang meliputi:

1.    Melakukan FGD tentang sosok Permaisuri Puteri Sendri Ratna Indra alias Putroe Sani, baik di Pidie maupun di Provinsi.

2.    Melakukan penelitian dan penulisan sejarah tentang Permaisuri Puteri Sendri Ratna Indra alias Putroe Sani dengan melibatkan ahli sejarah Aceh dan penulis ternama.

3.    Menyiapkan perencanaan pembangunan kembali makam permaisuri yang lengkap dan layak menjadi kawasan wisata religi dan sejarah.

4.    Membuka website Permaisuri Puteri Sendri Ratna Indra alias Putroe Sani yang memuat segala informasi tentang lokasi makam dan sejarahnya yang lengkap.

5.    Mengadakan even tahunan pada lokasi makam permaisuri dengan mengundang pihak-pihak terkait dari Pusat dan Malaysia (terutama Pahang, Johor dan Melaka).

6.    Menetapkan khadam dan pemandu yang mampu memberi penjelasan tentang sosok permaisuri kepada pengunjung di lokasi makam.

Banda Aceh, 06 September 2025

*) PENULIS adalah adalah pengelola Museum Manuskrip Aceh, email: hasanbasrimnur@gmail.com

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved