Kamis, 23 April 2026

100 Tahun Hasan Tiro

100 Tahun Hasan Tiro: “The Great Storyteller”

Tapi narasi Tiro bukan sekadar retorika politik. Ia lahir dari rasa, dari luka, dari sejarah yang tak diakui, dan dari peran yang direduksi

|
Editor: Subur Dani
FOR SERAMBINEWS.COM
Sosiolog dan Guru Besar USK, Prof Ahmad Humam Hamid 

Namun setiap kata indah yang mereka ucapkan, setiap visi luhur yang mereka tawarkan, tak lahir dari angan kosong. 

Ia disulam dari pengorbanan—dari malam-malam panjang tanpa tidur, dari langkah-langkah sunyi dalam kesendirian, dan dari pilihan untuk terus berdiri ketika mudah untuk menyerah. 

Setiap ide besar kebangsaan, jika dicermati dalam-dalam, selalu membawa jejak luka, darah yang ditumpahkan, cinta yang dikorbankan, dan air mata yang tak terlihat kamera.

Sebab, cinta pada tanah air bukan sekadar soal simbol atau selebrasi—tetapi soal kehilangan. 

Cinta yang memaksa seseorang meletakkan egonya, menanggalkan kenyamanannya, dan berdiri di garis depan saat semua orang mundur. 

Cinta yang rela melihat anak-anak tumbuh tanpa pelukannya demi negeri yang lebih baik bagi anak-anak semua orang.

Lahir dari Sejarah

Katika narasi bercampur dengan darah para pejuang maka itu tak  hanya membasahi tanah. Ia menjadi tinta yang menulis sejarah. Air mata para ibu, istri, dan rakyat kecil—merekalah yang diam-diam mengukir keberanian dalam narasi besar bangsa.

Maka, sejarah besar selalu lahir dari cerita yang digerakkan oleh satu hal yang paling manusiawi, keyakinan bahwa sebuah mimpi yang diceritakan dengan jujur, diperjuangkan dengan cinta, dan dibayar dengan pengorbanan, dapat mengubah dunia.

Terlepas dengan segala kebaikan dan keburukan, fiksi itulah yang menjadi virus  yang merasuk sukma Uni Soviet yang menumbangkan Romanov akibat narasi Lenin, Ali Mughayatsyah yang menyatukan Aceh untuk memerangi Portugis, Mao Tje Tung yang memerdekakan Cina, Ali Jinnah yang membangun Pakistan, dan Osman yang melahirkan imperium Turki Ottoman.

Maka, memahami dunia hari ini—dari negara hingga konflik, dari nasionalisme hingga perdamaian—harus dimulai dari memahami bahwa kita semua hidup dalam cerita, dan cerita yang dipercaya bersama itulah yang menentukan arah sejarah.

Lihatlah Kekaisaran Romawi. Mereka tidak hanya dibentuk oleh besi dan darah, tetapi oleh kisah—tentang Romulus dan Remus, tentang SPQR-Senat dan Rakyat Romawi, tentang Pax Romana—kisah-kisah yang memperkuat rasa menjadi “orang Romawi” lebih dari sekadar garis batas. 

Lalu Amerika Serikat. Negara itu tidak tumbuh dari satu ras, agama, atau leluhur. Tapi dari sebuah fiksi kolektif yang diyakini, yakni “The American Dream”

Fiksi negara Paman SAM adalah mereka kampiun kebebasan, demokrasi, hak asasi. Dan mereka merawat narasi itu dalam konstitusi, pidato Abraham Lincoln, Martin Luther King, hingga lagu kebangsaan dan film Holywood.

Para pencerita ulung—pemimpin, penyair, pendakwah, dan orator yang benar-benar mengerti seni kata.

Kadang mereka tak ubahnya seperti pembuat dan pengedar “drug-sabu sabu”, semacam “candu suci” yang diselundupkan lewat metafora, lewat diksi yang diracik bukan untuk sekadar didengar, tapi untuk ditunggu, ditagih, bahkan dirindukan.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved