100 Tahun Hasan Tiro

100 Tahun Hasan Tiro: “The Great Storyteller”

Tapi narasi Tiro bukan sekadar retorika politik. Ia lahir dari rasa, dari luka, dari sejarah yang tak diakui, dan dari peran yang direduksi

|
Editor: Subur Dani
FOR SERAMBINEWS.COM
Sosiolog dan Guru Besar USK, Prof Ahmad Humam Hamid 

Ahmad Humam Hamid*)

TANGGAL 25 September besok, Hasan Muhammad Tiro, -pencetus dan pendiri Aceh Merdeka- akan genap seratus tahun. 

Seratus tahun bukan sekadar menghitung waktu, melainkan menghitung jejak narasi yang ia ukir melintasi sejarah dan geopolitik. 

100 Tahun Hasan Tiro: The Great Storyteller bukan hanya sebuah penghormatan, tapi sebuah perenungan tentang kekuatan narasi dalam membentuk dunia. 

Filosof kontemporer yang paling banyak dikutip pikirannya, Yuval Noah Harari, menyebutkan kehebatan manusia—Homo sapiens—bukan terletak pada kekuatan fisik atau kelincahan biologisnya.

Baca juga: Hasan Tiro, Surat Ultimatum dan Tragedi Pulot Cot Jeumpa Aceh Besar

Kekuatan manusia yang sesungguhnya, berpucuk pada kemampuannya yang luar biasa menciptakan, menyebarkan, dan mempercayai cerita-cerita bersama. 

Inilah yang disebut sebagai “realitas intersubjektif”, sesuatu yang tak bisa disentuh atau dibuktikan secara ilmiah, namun bisa menggerakkan jutaan manusia. 

Negara, hukum, mata uang, perusahaan, hingga bangsa—semuanya adalah hasil dari kesepakatan kolektif, sebuah fiksi bersama yang diyakini seolah nyata. 

Karena kita sepakat bahwa selembar kertas bernama uang memiliki nilai, maka  ekonomi bangsa dan dunia berjalan. 

Karena kita sepakat untuk percaya pada bendera merah putih dan Pancasila, maka Indonesia menjadi satu tubuh. 

Dan karena orang Aceh percaya pada sejarah Kesultanan, syariat Islam, dan luka masa lalu, maka lahirlah semangat perlawanan. 

Baca juga: Mualem Anak Ideologis Hasan Tiro

Cerita-cerita inilah yang menyatukan atau memisahkan, membangun atau mengguncang, dan tak ada spesies lain di muka bumi yang mampu menciptakan dunia bersama seperti ini. 

Dalam ruang unik inilah para pemimpin besar, seperti  Jefferson, Sukarno, Lenin, Raja Abdul Azis Saudi Arabia, Hitler, Lee Kuan Yew dan bahkan Hasan Tiro pun, tampil bukan hanya sebagai politikus, tapi sebagai pencerita hebat yang menulis ulang kenyataan melalui narasi. 

Para pemimpin, tokoh-tokoh besar, terutama mereka yang lahir dari rahim bangsa—bukan sekadar memimpin lewat jabatan, melainkan lewat imajinasi. 

Mereka adalah para penenun cerita, penabur makna, yang ucapan dan tulisannya menjelma menjadi semacam virus suci- menyusup ke dalam sukma, menggugah hati yang diam, menggerakkan jiwa yang letih, dan menyalakan bara dalam dada mereka yang nyaris padam.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved