Kupi Beungoh
Menanti Kiprah Alumni USK di Pusat Keputusan Bangsa
Namun, jumlahnya masih jauh lebih sedikit dibandingkan alumni kampus besar di Pulau Jawa atau bahkan Unhas yang sama-sama berakar di daerah.
*) Prof. Dr. Ir. Muhammad Irham, S.Si, M.Si.
DALAM peta besar pendidikan tinggi Indonesia, Universitas Syiah Kuala (USK) menempati posisi strategis sebagai perguruan tinggi tertua dan terbesar di Aceh, sekaligus mercusuar pendidikan tinggi di kawasan barat Indonesia.
Namun, jika dibandingkan dengan perguruan tinggi besar lain seperti Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Pertanian Bogor (IPB), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), atau Universitas Hasanuddin (Unhas), peran alumni USK dalam panggung nasional masih relatif terbatas.
Pertanyaan yang patut diajukan ialah: mengapa alumni USK belum sepenuhnya tampil dominan di ruang-ruang pengambilan keputusan strategis bangsa?
Dan apa yang harus dilakukan agar ke depan, USK tidak hanya menjadi “kampus daerah”, melainkan benar-benar kampus nasional dengan alumni yang diperhitungkan dalam percaturan politik, ekonomi, maupun kebijakan publik Indonesia?
Jejak Alumni, Jejak Daerah
Sejak didirikan pada tahun 1961, USK telah melahirkan puluhan ribu alumni yang berkiprah di berbagai sektor.
Beberapa di antaranya memang berhasil menembus panggung nasional, terutama dalam birokrasi, akademisi, maupun politik.
Namun, jumlahnya masih jauh lebih sedikit dibandingkan alumni kampus besar di Pulau Jawa atau bahkan Unhas yang sama-sama berakar di daerah.
Faktor historis tidak bisa diabaikan. Konflik panjang di Aceh pada era 1970–2000-an menjadikan ruang gerak alumni USK terbatas.
Banyak yang akhirnya berkarier di wilayah sendiri, fokus pada rekonstruksi pasca-tsunami dan pembangunan lokal, ketimbang menembus gelanggang nasional.
Akibatnya, jejaring alumni USK di Jakarta tidak sekuat jejaring UI, ITB, UGM, atau Unhas yang sejak awal aktif menempatkan alumninya di kementerian, BUMN, hingga lembaga legislatif.
Namun, keterbatasan historis bukan berarti penghalang permanen. Saat ini, era baru tengah terbuka.
Alumni USK generasi muda mulai menempati posisi penting di pemerintahan pusat, lembaga riset, serta dunia internasional.
Momentum ini harus ditangkap agar kiprah mereka tidak berhenti di level individu, tetapi menjadi kekuatan kolektif yang mengangkat nama USK sebagai kampus nasional.
Belajar dari Kampus Lain
Ada pola menarik dari universitas besar di Indonesia yang alumninya banyak menduduki jabatan strategis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-Dr-Ir-Muhammad-Irham-SSi-MSi-0101.jpg)