Selasa, 5 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Ketika Pendidikan Mencari Jiwanya

Pendidikan membentuk manusia berpikir kritis, memiliki empati, dan mampu hidup berdampingan dalam keberagaman.

Tayang:
Editor: Muhammad Hadi
FOR SERAMBINEWS.COM
Dr. Iswadi, M.Pd, Dosen Universitas Esa Unggul-Jakarta 

Penulis: Dr. Iswadi, M.Pd*)

Pagi itu, matahari menyelinap pelan di sela-sela jendela ruang kelas. Anak-anak duduk rapi di bangkunya, wajah mereka tampak lelah, sebagian menunduk, yang lain menatap kosong ke papan tulis. 

Di depan, seorang guru menjelaskan materi dengan suara datar, memegang buku paket seolah hidup mereka semua digantungkan pada lembar demi lembar halaman yang kaku.

Itulah potret umum dari banyak ruang kelas di negeri ini tempat di mana pendidikan seharusnya menjadi ruang penghidupan, justru kerap terasa seperti ruang penghakiman. 

Di sinilah pertanyaan itu lahir Di manakah jiwa pendidikan kita?

Dulu, pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Bukan sekadar alat untuk mendapatkan pekerjaan atau status sosial, melainkan jalan untuk mengasah hati dan akal. 

Pendidikan membentuk manusia berpikir kritis, memiliki empati, dan mampu hidup berdampingan dalam keberagaman. 

Namun, kini, nilai-nilai itu perlahan terkikis. Digantikan oleh angka-angka, ranking, sertifikat, dan standar yang seragam.

Anak-anak dididik untuk menghafal, bukan memahami. Untuk mengikuti, bukan mempertanyakan. Untuk tunduk pada sistem, bukan bertumbuh secara alami. 

Di sekolah, kreativitas kerap kali dianggap gangguan, dan keberbedaan dimaknai sebagai penyimpangan. 

Maka lahirlah generasi yang pandai menjawab soal, namun gagap menghadapi persoalan hidup.

Pendidikan kita sedang kehilangan jiwanya

Lebih menyedihkan lagi, guru yang seharusnya menjadi pelita bagi murid terjebak dalam rutinitas administrasi dan tekanan kurikulum. 

Waktu mereka habis untuk mengisi laporan, bukan mendampingi proses belajar yang sesungguhnya. 

Padahal, dalam diri seorang guru, seharusnya ada ruh yang menghidupkan ruang kelas: keteladanan, kehangatan, dan inspirasi.

Baca juga: Kabar Gembira Bagi Guru Aceh Utara yang Viral Gagal Ikut Ujian PPG Akibat Listrik Padam

Dan siswa? Mereka diperlakukan bak mesin yang harus menghasilkan output. Nilai tinggi menjadi tujuan utama, bukan proses tumbuh menjadi manusia yang utuh. 

Padahal setiap anak membawa potensi yang berbeda, ritme belajar yang unik, dan mimpi yang tak bisa diseragamkan. Namun sistem yang kaku telah mengabaikan itu semua.

Apakah ini yang disebut pendidikan?

Di tengah semua itu, ada keresahan yang mengendap. Sebuah kerinduan akan pendidikan yang memerdekakan. 

Yang tidak hanya mengajarkan apa yang harus dipikirkan,  tapi bagaimana berpikir. Pendidikan yang tidak hanya mencetak lulusan, tapi melahirkan manusia yang sadar akan dirinya dan lingkungannya.

Jiwa pendidikan adalah tentang relasi. Antara guru dan murid, antara ilmu dan kehidupan. Ia hidup dalam percakapan yang tulus, dalam proses mendengar, memahami, dan menemani.

 Jiwa pendidikan tidak bisa ditemukan dalam laporan evaluasi, tapi dalam tanya yang jujur dan semangat mencari.

Kita perlu menengok kembali pada para pemikir pendidikan yang mengusung nilai nilai ini. Ki Hadjar Dewantara, misalnya, tidak pernah memandang pendidikan sebagai mesin pencetak buruh intelektual.

 Ia melihat pendidikan sebagai sarana membimbing anak agar selamat dan bahagia, lahir dan batin.

 Prinsip Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani" bukan sekadar slogan, tapi filosofi mendalam tentang posisi guru dan suasana belajar yang ideal.

Maka, jika hari ini kita merasa hampa di ruang ruang pendidikan, mungkin karena kita telah terlalu jauh berjalan tanpa arah. 

Kita membangun gedung, tapi lupa membangun relasi. Kita memperbarui kurikulum, tapi lupa memperbarui semangat. Kita sibuk mengejar target, tapi lupa bertanya: Apakah anak anak kita bahagia belajar?

Baca juga: Yang tak Terliput dari Lirboyo

Mencari jiwa pendidikan bukan pekerjaan sehari dua hari. Ia adalah proses panjang untuk kembali ke nilai nilai dasar. 

Dimulai dari keberanian untuk mengubah cara pandang: bahwa pendidikan bukan industri, bukan proyek, dan bukan kompetisi semata. 

Pendidikan adalah jalan untuk membentuk manusia yang utuh berpikir, merasa, dan bertindak dengan nurani.

Mungkin kita tidak bisa langsung mengubah sistem besar. Tapi kita bisa mulai dari ruang kelas kita sendiri, dari cara kita berbicara dengan murid, dari bagaimana kita memperlakukan perbedaan.

 Kita bisa mulai dari mendengarkan lebih banyak, daripada terus memberi perintah.

Baca juga: Arah Baru Pendidikan Indonesia

Karena pada akhirnya, pendidikan yang sejati tidak hidup dalam gedung atau aturan. Ia hidup dalam hati yang peduli, dalam pikiran yang terbuka, dan dalam tangan yang mau membimbing. 

Dan ketika pendidikan menemukan kembali jiwanya, saat itulah kita akan melihat ruang ruang belajar berubah menjadi taman kehidupan tempat anak-anak tumbuh menjadi manusia, bukan hanya lulusan.

*) PENULIS adalah Dosen Universitas Esa Unggul, Jakarta

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved