Minggu, 3 Mei 2026

Pojok Humam Hamid

MSAKA21 : Kerajaan Peureulak: Paku Bumi Pertama Islam Nusantara - Bagian XIV

Perkawinan campuran antara pedagang Muslim dengan penduduk lokal menjadi faktor utama percepatan islamisasi.

Tayang:
Editor: Muhammad Hadi
SERAMBINEWS.COM/HANDOVER
Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Oleh Ahmad Humam Hamid*)

Di sepanjang sejarah Nusantara, Kesultanan Peureulak berdiri sebagai pilar penting yang menandai babak awal masuknya Islam ke kepulauan ini. 

Berada di pesisir timur Aceh, Peureulak bukan sekadar sebuah kerajaan biasa—melainkan titik pertemuan antara dunia Islam dan budaya lokal yang akhirnya membentuk fondasi bagi islamisasi Nusantara secara damai dan bertahap. 

Berdiri sekitar tahun 840 Masehi, Kesultanan Peureulak mengukir sejarah sebagai kesultanan bercorak Islam pertama di Indonesia, dan menjadi tonggak penting dalam proses transisi sosial, budaya, dan politik yang akan mengguncang tatanan lama masyarakat Nusantara.

Sultan Alaidin Syed Maulana Abdul Aziz Syah, pendiri sekaligus raja pertama Peureulak, merupakan sosok simbolis yang menggambarkan transformasi masyarakat yang perlahan meninggalkan tradisi animisme dan kepercayaan lokal yang memuja roh-roh leluhur dan kekuatan alam. 

Baca juga: MSAKA21: Peureulak dan Samudera Pasai, Poros Mula Islam Nusantara - Bagian XIII

Menurut sejumlah sumber sejarah, Alaidin Syed Maulana merupakan keturunan langsung dari Nabi Muhammad SAW, yang memperkuat akar keislaman kerajaan ini sejak awal. 

Namun proses islamisasi bukanlah sebuah ledakan tiba-tiba melainkan perjalanan panjang yang dipenuhi interaksi sosial, politik, dan ekonomi yang kompleks.

Kehadiran Kesultanan Peureulak sesungguhnya merupakan kesinambungan dari kerajaan pra-Islam yang telah ada sebelumnya. 

Kisah bermula saat datangnya rombongan berjumlah sekitar seratus orang dari wilayah Arab, dipimpin seorang tokoh yang dikenal sebagai Nakhoda Khalifah. 

Mereka datang dengan dua misi utama, berdagang dan berdakwah. 

Melalui jaringan perdagangan yang padat, rombongan ini tidak hanya membawa komoditas dan kekayaan, tetapi juga ajaran Islam yang egaliter dan universal. 

Nakhoda Khalifah bersama pengikutnya memulai proses konversi pemimpin lokal dan sebagian penduduk setempat secara perlahan. 

Ali bin Muhammad bin Ja`far Shadiq, salah satu anak buah Nakhoda Khalifah, menikah dengan Makhdum Tansyuri, adik Syahri Nuwi, dan dari perkawinan ini lahirlah Alaidin Syed Maulana Abdul Aziz Syah yang kelak menjadi sultan pertama Peureulak. 

Sebagai bentuk penghormatan, ibukota kerajaan yang awalnya bernama Bandar Peureulak diubah menjadi Bandar Khalifah, simbol dari kedalaman pengaruh Islam yang mulai menancap di tanah ini.

Secara ekonomi, Peureulak bukan hanya pusat agama, melainkan juga pelabuhan dagang yang penting dan maju. 

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved