Selasa, 21 April 2026

Kupi Beungoh

Hari Dokter Nasional: Mengenal Mohammad Majoedin, Dokter Pribumi di Aceh Era Kolonial  

Menjelang satu dekade sebelum Jepang mendarat di Aceh, RS ini memiliki seorang dokter umum dan belasan dokter spesialis.

Editor: Yeni Hardika
FOR SERAMBINEWS.COM
Azhar Abdullah Panton, peminat literasi sejarah Aceh. 

Oleh: Azhar Abdullah Panton*)

Sebelum era kolonial, Aceh telah banyak melahirkan dokter. Mereka adalah lulusan Jami’ah (Universitas) Baiturrahman.

Jami’ah ini terletak di ibukota kerajaan Aceh, Bandar Aceh Darussalam –zaman kolonial diganti menjadi Kutaraja (sekarang Banda Aceh)- yang sekompleks dengan Masjid Raya Baiturrahman. 

Jami’ah yang berdiri pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda ini memiliki 17 Daar (fakultas), dimana salah satunya adalah Daar al-Thibb (kedokteran).

Jami’ah ini memiliki 44 guru besar yang berasal dari mancanegara, seperti Arab, Turki, Persia, dan India (acehprov.go.id).

Tentunya, saat itu sudah banyak dokter dari kalangan bangsa Aceh

Bumi berputar, zaman berganti. Kejayaan Kesultanan Aceh semakin memudar dan adanya konspirasi Barat menyebabkan Belanda mengeluarkan maklumat perang terhadap Aceh pada Rabu, 26 Maret 1873.

Perang Aceh dengan Belanda adalah episode terlama dan paling berdarah sepanjang sejarah kolonial di Nusantara. 

Gigihnya perjuangan rakyat Aceh mengakibatkan banyaknya korban di pihak Belanda. Banyak serdadunya terluka dan tewas di tangan pejuang Aceh.

Pemerintah Hindia Belanda sangat kewalahan dalam menangani korban perang.

Perawatan masih dilakukan di barak-barak dengan segala keterbatan.

Baca juga: Mewujudkan Visi Kesehatan Indonesia: Sinergi di Balik Hari Dokter Nasional

Karena itu pada tahun 1880, tujuh tahun setelah menduduki Aceh, Pemerintah Hindia Belanda berhasil merampungkan pembangunan Militair Hospital (Rumah Sakit Militer) di Kutaraja. 

Sejak difungsikan hingga 1935, semua dokter Rumah Sakit Militer Pemerintah Hindia Belanda (RSMHB) di Kutaraja berkebangsaan Belanda.

Menjelang satu dekade sebelum Jepang mendarat di Aceh, RS ini memiliki seorang dokter umum dan belasan dokter spesialis.

Dokter pribumi pertama yang dipercaya mengabdi di RSMHB adalah Mohammad Majoedin

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved