Kamis, 23 April 2026

Pojok Humam Hamid

MSAKA21: Gender Aceh Abad 15, Ratu Nahrisyah dari Pasai – Bagian XIX

Keunikan Samudera Pasai terletak pada kemampuannya menerima dan menempatkan perempuan sebagai penguasa

|
Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/HO
Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh, 

Oleh Ahmad Humam Hamid*)

Di pelabuhan-pelabuhan Asia Tenggara yang ramai oleh kapal Gujarat, Arab, dan Tiongkok, nama Pasai masih bergema sebagai negeri emas, tempat para ulama dan saudagar bertemu. 

Namun di balik kejayaan itu, arus perubahan mulai terasa--dunia sedang bergerak cepat, dan kerajaan ini bersiap menghadapi senjanya.

Ketika Sultan Ahmad Malik az-Zahir wafat, Pasai memasuki masa genting. 

Takhta kehilangan penjaganya, sementara perpecahan bangsawan mengintai. 

Di tengah pusaran itu, muncul seorang perempuan muda dari darah kerajaan: Putri Nahrisyah.

Nahrisyah dibesarkan dalam tradisi ilmu dan adab Islam. 

Di istana, ia belajar bahasa Arab, hukum syariat, dan sastra dari para ulama. 

Ia tumbuh bukan hanya sebagai bangsawan, tetapi juga murid yang tekun dan cerdas. 

Maka ketika dinobatkan menjadi penguasa, masyarakat Pasai menerima dengan hormat--bukan hanya karena keturunan, tetapi karena kecerdasan dan keluhurannya.

Tantangan Zaman dan Jalan Sunyi

Menjadi ratu di masa itu bukan perkara mudah. 

Dunia perdagangan bergeser ke Malaka, hubungan diplomatik mulai retak.

Di tengah tekanan itu, Ratu Nahrisyah memilih jalan sunyi tetapi terhormat: menjaga kesinambungan kerajaan, memperkuat kehidupan keagamaan, dan meneguhkan identitas Pasai sebagai pusat ilmu Islam.

Catatan sejarah tidak banyak menyinggung pemerintahannya. 

Namun batu nisannya di Kompleks Makam Kuta Krueng, Aceh Utara, berbicara lebih lantang. 

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved