Senin, 20 April 2026

Kupi Beungoh

Mengembalikan Martabat Guru: Dari Tuntutan Berlebih ke Dukungan Nyata

Pada 2025, ketika dunia pendidikan bergerak cepat mengikuti arus digitalisasi dan dinamika sosial, isu ini semakin mendesak untuk diperhatikan.

Editor: Agus Ramadhan
SERAMBINEWS.COM/HO
Nora Maulida Julia SPd, Pengurus Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD) Aceh. 

Banyak guru bekerja di luar jam kerja, mengeluarkan uang pribadi untuk membeli perlengkapan kelas, bahkan menanggung tekanan emosional dari pekerjaan mereka. Martabat guru menjadi rentan ketika tuntutan melampaui batas kemampuan yang didukung oleh kebijakan.

Untuk benar-benar mengembalikan martabat guru, kita perlu menggeser fokus dari tuntutan menuju dukungan sistem yang nyata.

Pertama, pemerintah dan lembaga pendidikan harus menyederhanakan beban administrasi. Platform digital perlu dibuat lebih terintegrasi, mudah digunakan, dan tidak membebani. Administrasi seharusnya mendukung pembelajaran, bukan sebaliknya. Guru harus diberikan ruang untuk mengajar dengan passion dan kreativitas, bukan tertutup oleh laporan-laporan yang mengekang.

Kedua, kesejahteraan guru perlu menjadi prioritas. Guru tidak hanya membutuhkan gaji yang layak, tetapi juga akses terhadap pelatihan berkualitas, dukungan kesehatan mental, serta lingkungan kerja yang menghargai mereka sebagai profesional. Negara-negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia selalu menempatkan guru sebagai profesi terhormat dengan dukungan penuh dari pemerintah. Indonesia harus bergerak ke arah itu jika ingin mengejar kualitas pendidikan global.

Ketiga, orang tua dan masyarakat juga perlu mengubah cara pandang. Guru bukan “pengasuh tambahan” atau “pelayan pendidikan”, tetapi mitra dalam mendidik generasi. Komunikasi yang kolaboratif dan saling menghormati antara guru dan keluarga akan menciptakan ekosistem pendidikan yang sehat. Ketika masyarakat memahami batasan dan peran masing-masing, guru dapat menjalankan tugasnya dengan lebih fokus.

Keempat, sekolah harus memperkuat budaya kerja yang sehat. Kepala sekolah perlu memastikan bahwa guru memiliki ruang untuk berkembang, berinovasi, dan melakukan praktik reflektif. Tim pendukung seperti konselor dan tenaga administrasi harus diperkuat agar tugas guru tidak melebar ke luar ranah profesionalnya.

Mengembalikan martabat guru bukanlah pekerjaan satu hari, tetapi komitmen jangka panjang. Guru adalah pilar peradaban, tetapi mereka tidak bisa berdiri sendirian.

Mereka membutuhkan sistem yang menopang, masyarakat yang menghargai, dan kebijakan yang berpihak pada pendidikan berkualitas.

Jika kita benar-benar ingin melihat generasi masa depan yang cerdas, berkarakter, dan berdaya saing, maka dimulai dari menghargai orang-orang yang setiap hari berada di depan kelas: para guru.

Dengan dukungan nyata dan penghormatan yang tulus, martabat guru tidak hanya terjaga, tetapi juga menjadi fondasi kuat bagi kemajuan pendidikan Indonesia. (*)

*) PENULIS adalah Pengurus Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD) Aceh

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved