Kamis, 30 April 2026

Kupi Beungoh

Mengembalikan Martabat Guru: Dari Tuntutan Berlebih ke Dukungan Nyata

Pada 2025, ketika dunia pendidikan bergerak cepat mengikuti arus digitalisasi dan dinamika sosial, isu ini semakin mendesak untuk diperhatikan.

Tayang:
Editor: Agus Ramadhan
SERAMBINEWS.COM/HO
Nora Maulida Julia SPd, Pengurus Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD) Aceh. 

*)Oleh: Nora Maulida Julia, S.Pd.

SETIAP tahun, Hari Guru Nasional selalu menjadi momen refleksi untuk mengingat peran besar para pendidik dalam perjalanan bangsa. Namun, penghormatan yang diberikan sering kali berhenti pada slogan, ucapan terima kasih, atau upacara seremonial.

Di balik itu semua, terdapat persoalan besar yang jarang dibahas secara mendalam: martabat guru yang perlahan terkikis oleh tuntutan berlebihan, beban administrasi yang menumpuk, serta ekspektasi sosial yang sering kali tidak realistis.

Pada 2025, ketika dunia pendidikan bergerak cepat mengikuti arus digitalisasi dan dinamika sosial, isu ini semakin mendesak untuk diperhatikan.

Selama beberapa tahun terakhir, guru tidak hanya dituntut untuk mengajar dan mendidik, tetapi juga menjadi tenaga administratif, ahli psikologi, konselor keluarga, motivator, bahkan “content creator” pendidikan.

Mereka diminta membuat laporan yang berlapis-lapis, mengisi aplikasi yang terus berubah, memenuhi indikator kinerja yang kompleks, dan tetap menghasilkan lulusan yang “unggul”.

Semua ini dilakukan, sering kali, dengan sumber daya yang terbatas dan dukungan sistem yang tidak memadai. Beban semacam ini bukan hanya menguras energi, tetapi juga merenggut esensi peran guru sebagai pendidik.

Salah satu persoalan paling nyata adalah menumpuknya beban administrasi. Di banyak sekolah, guru menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengisi dokumen, menyusun laporan, atau mengunggah data ke berbagai platform digital ketimbang merancang pembelajaran yang kreatif.

Padahal, kualitas pengajaran sejatinya lahir dari persiapan yang matang, interaksi mendalam dengan murid, dan kesempatan untuk melakukan refleksi pedagogis. Ketika waktu guru banyak tersita pada hal-hal administratif, maka kualitas tersebut terancam menurun.

Apalagi jika sistem administrasi kerap berganti, dengan pelatihan yang minim dan akses teknologi yang tidak merata.

Selain itu, guru juga menghadapi tekanan sosial yang semakin berat. Orang tua menuntut hasil belajar yang tinggi, karakter anak yang sempurna, dan pelayanan penuh sepanjang waktu.

Di sisi lain, masyarakat sering menilai kinerja guru hanya dari skor ujian atau perilaku murid, tanpa memahami kompleksitas kondisi di ruang kelas.

Tidak jarang, ketika ada masalah pada anak, guru menjadi pihak pertama yang disalahkan. Padahal, pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara sekolah, keluarga, dan lingkungan sosial.

Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah ekspektasi berlebihan terhadap guru. Guru diminta menjadi solusi bagi semua masalah pendidikan, padahal mereka adalah bagian dari sistem yang lebih besar.

Bagaimana mungkin guru diminta mencetak generasi emas jika kurikulum berubah terus, sarana prasarana tidak memadai, dan dukungan kesejahteraan jauh dari ideal?

Banyak guru bekerja di luar jam kerja, mengeluarkan uang pribadi untuk membeli perlengkapan kelas, bahkan menanggung tekanan emosional dari pekerjaan mereka. Martabat guru menjadi rentan ketika tuntutan melampaui batas kemampuan yang didukung oleh kebijakan.

Untuk benar-benar mengembalikan martabat guru, kita perlu menggeser fokus dari tuntutan menuju dukungan sistem yang nyata.

Pertama, pemerintah dan lembaga pendidikan harus menyederhanakan beban administrasi. Platform digital perlu dibuat lebih terintegrasi, mudah digunakan, dan tidak membebani. Administrasi seharusnya mendukung pembelajaran, bukan sebaliknya. Guru harus diberikan ruang untuk mengajar dengan passion dan kreativitas, bukan tertutup oleh laporan-laporan yang mengekang.

Kedua, kesejahteraan guru perlu menjadi prioritas. Guru tidak hanya membutuhkan gaji yang layak, tetapi juga akses terhadap pelatihan berkualitas, dukungan kesehatan mental, serta lingkungan kerja yang menghargai mereka sebagai profesional. Negara-negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia selalu menempatkan guru sebagai profesi terhormat dengan dukungan penuh dari pemerintah. Indonesia harus bergerak ke arah itu jika ingin mengejar kualitas pendidikan global.

Ketiga, orang tua dan masyarakat juga perlu mengubah cara pandang. Guru bukan “pengasuh tambahan” atau “pelayan pendidikan”, tetapi mitra dalam mendidik generasi. Komunikasi yang kolaboratif dan saling menghormati antara guru dan keluarga akan menciptakan ekosistem pendidikan yang sehat. Ketika masyarakat memahami batasan dan peran masing-masing, guru dapat menjalankan tugasnya dengan lebih fokus.

Keempat, sekolah harus memperkuat budaya kerja yang sehat. Kepala sekolah perlu memastikan bahwa guru memiliki ruang untuk berkembang, berinovasi, dan melakukan praktik reflektif. Tim pendukung seperti konselor dan tenaga administrasi harus diperkuat agar tugas guru tidak melebar ke luar ranah profesionalnya.

Mengembalikan martabat guru bukanlah pekerjaan satu hari, tetapi komitmen jangka panjang. Guru adalah pilar peradaban, tetapi mereka tidak bisa berdiri sendirian.

Mereka membutuhkan sistem yang menopang, masyarakat yang menghargai, dan kebijakan yang berpihak pada pendidikan berkualitas.

Jika kita benar-benar ingin melihat generasi masa depan yang cerdas, berkarakter, dan berdaya saing, maka dimulai dari menghargai orang-orang yang setiap hari berada di depan kelas: para guru.

Dengan dukungan nyata dan penghormatan yang tulus, martabat guru tidak hanya terjaga, tetapi juga menjadi fondasi kuat bagi kemajuan pendidikan Indonesia. (*)

*) PENULIS adalah Pengurus Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD) Aceh

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved