Senin, 1 Juni 2026

Serambi Ramadhan

Tgk Sirajuddin Ajak Umat Perkuat Solidaritas di Bulan Ramadhan, Pahala Setara Orang Berpuasa

Tgk Sirajuddin menjelaskan, keutamaan tersebut bukan sekadar simbolis, melainkan motivasi nyata agar umat Islam berlomba-lomba dalam kebaikan.

Tayang:
Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Ansari Hasyim
Serambinews.com
SERAMBI RAMADHAN - Dewan Pembina ISAD Aceh, Dr Tgk H Sirajuddin Saman MA menjadi narasumber dalam program ‘Serambi Ramadhan’ yang ditayangkan di Youtube Serambinews, Sabtu (21/2/2026), dipandu oleh host Agus Ramadhan. 

Ia menilai pandangan tersebut tidak tepat dan berbahaya.

“Jangan ketika melihat musibah lalu muncul bahasa bahwa itu karena ini dan itu, seolah-olah kita tahu sebab di balik ketetapan Allah. Tidak mungkin ada manusia yang bisa memastikan apa penyebab di balik suatu kejadian. Itu wilayah Allah SWT,” ujarnya.

Jangan Kendorkan Semangat Ibadah

Pimpinan Dayah Khamsatul Anwar di Denong, Darul Imarah, Aceh Besar, Dr Tgk H Sirajuddin Saman MA menyoroti fenomena menurunnya semangat ibadah umat Islam setelah bulan suci Ramadhan.

Menurutnya, kondisi tersebut hampir terjadi setiap tahun dan perlu menjadi bahan refleksi bersama.

Ia menggambarkan suasana masjid yang penuh sesak pada malam-malam awal Ramadhan.

“Kalau malam pertama Ramadhan, masjid itu penuh. Bahkan kalau bisa diperbesar lagi, tetap penuh. Tapi memasuki malam ke-10 sudah mulai berkurang, dan setelah Ramadhan masjid-masjid kembali lengang,” ujarnya.

Tgk Sirajuddin menyebut, penurunan semangat ibadah tidak hanya terjadi setelah Ramadhan berakhir, tetapi bahkan sudah mulai terlihat di pertengahan bulan suci. Fenomena ini, kata dia, menunjukkan bahwa sebagian umat masih memaknai Ramadhan secara terbatas.

“Jangan sampai Ramadhan dipahami hanya sebagai bulan pengampunan dosa dan bulan melipatgandakan pahala, lalu merasa cukup beramal di bulan Ramadhan saja untuk bekal sampai tahun depan,” tegasnya.

Tgk Sirajuddin mengingatkan bahwa amal saleh tidak mengenal batas waktu tertentu. Konsistensi dalam beribadah justru menjadi salah satu tanda kebahagiaan dan keberuntungan seorang hamba.

Ia mengutip konsep ahlus sa’adah (orang-orang yang beruntung), yang selalu merasa amalnya belum cukup.

“Salah satu ciri orang yang bahagia itu adalah dia selalu bertanya dalam hatinya: dengan amalku yang masih sedikit seperti ini, bagaimana nasibku di akhirat nanti? Bagaimana keadaanku di alam kubur?” katanya.

Pertanyaan-pertanyaan reflektif tersebut, menurutnya, menjadi motor penggerak untuk terus memperbaiki dan meningkatkan kualitas ibadah, bukan justru merasa puas setelah menjalani Ramadhan.

Ia pun mengajak umat untuk benar-benar meresapi nilai puasa, bukan sekadar menjalankannya secara rutinitas tahunan.

 “Kalaupun setelah Ramadhan kita tidak bisa bertahan 100 persen seperti di bulan itu, setidaknya bisa bertahan 50 persen saja sudah Alhamdulillah, sambil terus berupaya meningkat. Semoga Allah SWT selalu meridhai kita,” pungkasnya. (ar)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved