RAMADHAN MUBARAK
Hemat di Bulan Nikmat
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari berbagai nafsu, termasuk nafsu berbelanja
M Hendra Supardi, Direktur Dana & Jasa Bank Aceh Syariah
Hemat bukan berarti pelit. Hemat adalah sikap bijak dalam mengelola nikmat yang Allah titipkan, agar tidak berlebihan dan tetap memberi manfaat. Ramadhan, bulan penuh berkah, sesungguhnya adalah madrasah yang mengajarkan kita arti hemat.
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari berbagai nafsu, termasuk nafsu berbelanja, nafsu konsumsi berlebihan, dan nafsu mengejar kesenangan dunia tanpa batas (menjelang lebaran).
Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara-saudara setan” (QS. Al-Isra: 26-27).
Ayat ini menegaskan bahwa sikap boros bukan hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga menjauhkan kita dari nilai ketakwaan yang menjadi tujuan utama Ramadhan.
Di bulan Ramadhan, kita sering tergoda oleh berbagai hidangan lezat, pasar kuliner, dan ragam belanja kebutuhan. Namun, Ramadhan mengajarkan kita untuk menahan diri. Hemat bukan berarti menolak nikmat, melainkan mengatur nikmat agar tidak berujung pada mubazir.
Dengan hemat, kita bisa mengalokasikan sebagian rezeki untuk berbagi kepada yang membutuhkan, menunaikan zakat, infak, dan sedekah. Inilah hakikat hemat yang sesungguhnya: menahan diri demi memberi ruang bagi orang lain merasakan keberkahan.
Rasulullah SAW bersabda: “Tidak akan berkurang harta karena sedekah” (HR. Muslim). Hadis ini mengingatkan kita bahwa berbagi tidak akan membuat kita miskin, justru menambah keberkahan. Hemat di bulan Ramadhan berarti mengurangi pengeluaran yang tidak perlu, lalu mengalihkannya untuk berbagi dan membantu sesama.
Sebagai lembaga keuangan syariah, Bank Aceh Syariah melihat Ramadhan sebagai momentum untuk menanamkan nilai hemat dan bijak dalam pengelolaan dana. Hemat berarti memastikan setiap rupiah yang kita keluarkan membawa manfaat, bukan sekadar memenuhi keinginan sesaat.
Prinsip syariah mengajarkan bahwa harta adalah amanah, dan penggunaannya harus berorientasi pada kemaslahatan.
Tradisi masyarakat Aceh di bulan Ramadhan, seperti meugang dan berbagi takjil, adalah contoh nyata bagaimana hemat dan berbagi berjalan beriringan. Kita tidak perlu berlebihan dalam konsumsi, tetapi tetap bisa menikmati nikmat Ramadhan dengan penuh syukur.
Hemat menjadikan kita lebih peka terhadap kebutuhan orang lain, lebih peduli terhadap sesama, dan lebih siap untuk menunaikan kewajiban sosial seperti zakat dan sedekah. Praktik hemat yang kita lakukan di bulan puasa juga akan membiasakan kita setelah Ramadhan usai. Kebiasaan menahan diri dari konsumsi berlebihan melatih kita untuk lebih bijak dalam mengelola harta.
Dari sini, kita belajar mengalokasikan sebagian pendapatan untuk investasi masa depan, baik dalam bentuk tabungan, usaha produktif, maupun dukungan terhadap kegiatan sosial.
Dengan demikian, hemat di bulan Ramadhan bukan hanya memberi manfaat sesaat, tetapi juga membentuk pola hidup berkelanjutan yang lebih sehat secara finansial dan penuh keberkahan.
Mari jadikan Ramadhan sebagai madrasah hemat. Hemat bukan sekadar mengurangi pengeluaran, tetapi mengarahkan pengeluaran pada hal-hal yang lebih bermakna.
Dengan hemat, kita belajar menahan nafsu, memperkuat solidaritas sosial, dan menumbuhkan keberkahan dalam setiap aspek kehidupan. Semoga Ramadhan kali ini benar-benar menjadi bulan nikmat yang mengajarkan kita arti hemat, syukur, dan berbagi.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/M-Hendra-Supardi-OKE.jpg)