Selasa, 21 April 2026

Kajian Islam

Hati Masih Kotor, Apakah Amal Tetap Diterima? Ini Penjelasan Buya Yahya

Lalu, bagaimana sebenarnya hukum amal yang dikerjakan ketika hati belum sepenuhnya bersih?

Penulis: Firdha Ustin | Editor: Muhammad Hadi
youtube/YouTube Al Bahjah
Pendakwah Buya Yahya 

SERAMBINEWS.COM – Banyak orang merasa khawatir amal ibadahnya tidak diterima oleh Allah karena masih memiliki penyakit hati seperti sombong, dengki, atau dendam.

Lalu, bagaimana sebenarnya hukum amal yang dikerjakan ketika hati belum sepenuhnya bersih?

Pertanyaan ini pernah disampaikan seorang jamaah kepada ulama kharismatik Buya Yahya dalam sebuah kajian.

Jamaah tersebut mengaku bingung setelah mendengar penjelasan bahwa ibadah seperti salat, puasa, hingga sedekah bisa tidak diterima jika di dalam hati masih ada kesombongan.

Menjawab hal itu, Buya Yahya meluruskan bahwa yang benar-benar dapat menghapus pahala amal adalah riya, yakni melakukan kebaikan bukan karena Allah, melainkan demi pujian manusia.

“Yang menghapus pahala adalah riya, berbuat baik bukan karena Allah,” jelasnya dikutip Rabu (11/3/2026).

Baca juga: Buya Yahya Ungkap Tanda Orang Mendapat Malam Lailatul Qadar, Terlihat dari Perubahan Usai Ramadhan

Ia menambahkan bahwa kesombongan memang termasuk dosa besar. Namun, bukan berarti seseorang yang masih memiliki kekurangan dalam hatinya tidak boleh beramal atau amalnya pasti tertolak.

Menurut Buya Yahya, pada dasarnya setiap manusia memiliki benih penyakit hati seperti iri, dengki, sombong, hingga dendam.

Karena itu, dalam ajaran Islam ada konsep mujahadah, yaitu upaya terus-menerus memerangi hawa nafsu dan membersihkan hati.

“Tidak ada orang yang benar-benar bersih dari riya, sombong, atau dengki. Kita semua punya benih itu. Yang hebat adalah orang yang memerangi hawa nafsunya,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan agar seseorang tidak merasa dirinya sudah suci dari penyakit hati. Justru orang yang baik akan selalu merasa hatinya masih perlu dibersihkan.

“Jangan mengatakan ‘Alhamdulillah saya sudah bersih dari sombong’. Tidak bisa begitu. Justru kita harus terus merasa hati ini perlu dibersihkan,” katanya.

Baca juga: Dilarang Puasa oleh Mandor, Bolehkah Berbohong Demi Ibadah? Ini Jawaban Buya Yahya

Buya Yahya kemudian memberi contoh bagaimana seseorang bisa memerangi penyakit hati.

Misalnya ketika seseorang bersedekah dalam jumlah besar lalu muncul rasa bangga karena dilihat orang lain. Jika ia menyadari hal itu sebagai riya dan kemudian memperbaiki niatnya, bahkan berusaha bersedekah secara diam-diam, maka itu termasuk usaha memerangi hawa nafsu.

Contoh lain, ketika muncul rasa iri kepada tetangga yang usahanya sukses. Cara memeranginya adalah dengan justru mendoakan kebaikan untuk tetangga tersebut atau bahkan membantu mempromosikan usahanya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved