Jumat, 10 April 2026

Video

VIDEO - Keagungan Masjid Raya Baitul Khairaat, Jam Raksasa & Kubah 90 Meter

Kubah raksasanya tampak mendominasi cakrawala, salah satu menaranya dilengkapi jam analog raksasa berdiameter 19,3 meter

SERAMBINEWS.COM - Di tepian Teluk Palu yang tenang, berdiri megah Masjid Raya Baitul Khairaat. Dari kejauhan, kubah raksasanya tampak mendominasi cakrawala, seakan menjadi penanda baru kemajuan arsitektur Islam di Indonesia.

Bangunan ini bukan sekadar rumah ibadah. Ia telah mencatatkan namanya dalam tinta emas sejarah nasional. Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) menganugerahkan dua penghargaan sekaligus atas pencapaian arsitekturalnya. Kubah utamanya berdiameter 90 meter, menjadikannya sebagai struktur kubah masjid terbesar di Indonesia saat ini.

Tak hanya itu, salah satu menaranya dilengkapi jam analog raksasa berdiameter 19,3 meter. Jam tersebut menempatkan Masjid Raya Baitul Khairaat sebagai pemilik jam dinding terbesar kelima di dunia, sejajar dalam percakapan arsitektur global dengan kompleks megah Abraj Al-Bait di Mekkah.

Baca juga: Ramadhan Bulan Pembentukan Karakter Taqwa

Filosofi dalam Setiap Detail

Memasuki ruang utama masjid, kemegahan tidak hanya terasa dari skala bangunan, tetapi juga dari makna yang tersirat di setiap sudutnya. Terdapat 99 ornamen jendela yang merepresentasikan Asmaul Husna, nama-nama indah Allah. Cahaya yang menembus jendela-jendela itu menciptakan suasana teduh dan khusyuk.
Menara kembar setinggi 66,66 meter dibangun sebagai simbol jumlah ayat dalam Al-Qur’an. Angka-angka tersebut bukan sekadar perhitungan teknis, melainkan penegasan bahwa arsitektur masjid ini bertumpu pada nilai spiritual.

Dengan anggaran pembangunan mencapai Rp376 miliar, masjid ini dirancang untuk menampung hingga 10.000 jemaah. Struktur masifnya memadukan seni bina modern dengan estetika Islami, menghadirkan ruang ibadah yang monumental namun tetap fungsional.

Masjid Raya Baitul Khairaat menjadi bukti bahwa kemajuan teknologi dan keteguhan iman dapat berjalan seiring. Ia berdiri sebagai simbol dedikasi kolektif dalam membangun peradaban yang berakar pada nilai-nilai religius.

Baca juga: Perumdam Tirta Abdya Pastikan Suplai Air Bersih Aman Selama Ramadhan 

Ruang Publik dan Spiritualitas di Bulan Ramadhan

Memasuki Ramadhan 1447 Hijriah atau 2026 Masehi, kawasan pelataran masjid berubah menjadi ruang publik yang hidup. Masyarakat datang untuk menikmati suasana sore yang asri. Anak-anak berlarian di halaman luas, keluarga duduk bersantai menanti waktu berbuka, sementara remaja berswafoto dengan latar kubah dan jam raksasa yang ikonik.

Angin sepoi dari Teluk Palu menambah kenyamanan, menjadikan pelataran masjid sebagai lokasi favorit untuk ngabuburit. Setiap sudutnya terasa fotogenik, namun tetap menghadirkan nuansa khidmat yang terjaga.

Bagi yang ingin mengisi waktu dengan kegiatan lebih mendalam, perpustakaan masjid dan ruang utama yang sejuk menjadi tempat ideal untuk tadarus Al-Qur’an atau mengikuti kajian menjelang azan Magrib.

Seorang pengunjung asal Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, Muhammad Hafid Saleh mengaku merasa tenang salat di Masjid Raya Baitul Khairaat.

“Sangat menyenangkan atau tenang ketika kita melaksanakan salat di sini karena begitu megahnya masjid ini”, ujarnya pada Jumat (20/2/2026).

Senja yang Menguatkan Ukhuwah

Ketika azan Magrib berkumandang, suasana hangat penuh syukur menyelimuti seluruh kawasan. Cahaya lampu yang berpijar keemasan menerangi kubah dan menara, memantul indah di permukaan Teluk Palu. Senja yang berganti malam justru menegaskan kemegahan bangunan ini.

Sumber: Tribun palu
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved