Sabtu, 6 Juni 2026

Video

VIDEO - Sosok KH Mohammad Luthfi Ditempa Sejak Dini: Ngaji Itu Harga Diri Keluarga

Dalam perjalanan hidupnya, ia menyebut keluarga sebagai fondasi utama pembentukan karakter.

Tayang:

Ia belajar hampir satu dekade bersama sang guru yang juga merupakan kerabat dekatnya.

Baca juga: Niat Puasa Ramadhan 2026, Cukup Sekali untuk Sebulan atau Harus Tiap Malam? Ini Penjelasan Ulama

Menurutnya, tantangan terbesar saat muda adalah membagi waktu antara belajar ilmu agama dan pendidikan formal, terlebih di usia yang masih gemar bermain.

Namun ia meyakini bahwa keduanya harus dikuasai secara seimbang.

Di tengah perkembangan zaman, ia memandang perpaduan ilmu agama dan ilmu umum sebagai sebuah keharusan.

Ia berpendapat bahwa manusia harus mampu mengikuti perkembangan zaman, bukan sebaliknya.

Ia menilai perubahan karakter generasi dan kemajuan teknologi menuntut pendekatan dakwah yang lebih adaptif dan kontekstual.

Dalam perjalanan dakwahnya, ia membagi aktivitas tersebut ke dalam dua bentuk, yakni dakwah internal dan eksternal.

Dakwah internal dimulai sejak ia duduk di kelas dua Aliyah dengan mengajar santri yang lebih muda. 

Sementara dakwah eksternal mulai aktif ia jalankan sekitar tahun 2010-an melalui berbagai kajian dan seminar keagamaan.

Baca juga: Jalan Panjang Abu Sibreh: Dari Keluarga Biasa hingga Jadi Ulama Aceh

Ia menilai tantangan dakwah di era digital semakin kompleks karena generasi saat ini lebih kritis dan berani menyampaikan pendapat.

Oleh sebab itu, menurutnya, seorang pendakwah harus menyertakan rujukan dan data yang kuat dalam setiap penyampaian materi agar pesan dapat diterima secara meyakinkan.

Dalam strategi dakwah, ia menekankan pentingnya memahami karakter audiens.

Ia meyakini bahwa seorang dai harus menyesuaikan bahasa, kedalaman materi dan pendekatan sesuai dengan latar belakang orang yang diajak bicara agar pesan yang disampaikan efektif.

Ia juga mengisahkan pengalaman berdakwah di Yogyakarta, ketika harus menyampaikan materi di hadapan jemaah yang secara organisasi memiliki latar belakang berbeda.

Dengan pendekatan yang egaliter dan penuh penghormatan, ia menilai perbedaan tersebut justru menjadi ruang dialog yang produktif.

Sumber: Tribunnews
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved