Breaking News
Senin, 20 April 2026

Video

VIDEO - Riuh Krueng Baro di Malam Syawal: Meriam Karbit Delima Tak Pernah Padam

Ribuan orang datang dari berbagai daerah, memenuhi setiap sudut bantaran sungai. Aroma karbit yang khas bercampur dengan udara malam

|

SERAMBINEWS.COM - Dentuman pertama pecah di udara malam Delima, memantul di antara pepohonan dan permukaan air Krueng Baro. Suaranya menggelegar, panjang, dan dalam, seolah membawa gema masa lalu yang tak pernah benar-benar hilang. Malam kedua Idulfitri, 1 Syawal 1447 Hijriah atau Sabtu (21/3/2026), menjadi saksi kembali hidupnya tradisi Meriam Karbit di Kabupaten Pidie.

Sejak selepas Isya, warga mulai memadati bantaran sungai. Di sepanjang aliran Krueng Baro, terutama di Kecamatan Delima, di Gampong Dayah Baro, Ulee Tutue Raya, hingga Pante Aree, serta Gampong Garot, deretan meriam rakitan berdiri kokoh. Sebagian lain tersebar hingga wilayah Indrajaya dan Kota Sigli, membentuk jalur panjang yang siap menggetarkan malam Lebaran.

Meriam-meriam itu bukan sembarang alat. Dibuat dari empat hingga lima drum minyak bekas yang dilas menjadi satu, atau dari batang bambu besar yang dikenal dengan sebutan Beude Trieng, alat ini menghasilkan dentuman keras yang mampu terdengar hingga radius 10 hingga 20 kilometer. Setiap letusan disambut sorak sorai warga, menciptakan harmoni antara suara ledakan dan riuh kebahagiaan.

Baca juga: VIDEO - Warga Ikut Jalan Santai, Senam, dan Teut Beude Trieng  Bersama Polres Bireuen

Tradisi yang dikenal dengan nama Teut Beude Karbit atau Teut Beude Trieng ini bukan sekadar hiburan. Ia menyimpan jejak sejarah panjang, konon berasal dari masa perlawanan rakyat Aceh terhadap penjajah Belanda. Dahulu, dentuman meriam menjadi simbol perlawanan dan tanda kekuatan. Kini, ia bertransformasi menjadi penanda kemenangan, sukacita, dan kebersamaan di hari raya.

Malam itu, suasana terasa berbeda. Ribuan orang datang dari berbagai daerah, memenuhi setiap sudut bantaran sungai. Aroma karbit yang khas bercampur dengan udara malam, sementara cahaya lampu dan api dari mulut meriam menciptakan panorama yang dramatis.

Delpri, seorang pengunjung asal Banda Aceh, mengaku telah datang sejak sore hari demi mendapatkan posisi terbaik. Baginya, Meriam Karbit bukan sekadar tontonan, tetapi pengalaman yang selalu dirindukan.

“Saya setiap tahun datang ke sini. Dentumannya itu punya rasa tersendiri, beda dari yang lain,” ujarnya. Ia berharap ke depan pemerintah dapat mengelola kegiatan ini dengan lebih tertata, mengingat kemacetan panjang hingga berkilo-kilometer kerap terjadi saat acara berlangsung.

Baca juga: Semarakkan HUT Bhayangkara Ke-76, Meriahnya Lomba Teut Beude Trieng di Halaman Mapolres

Di sisi lain, Muzammil, warga setempat, tampak sibuk bersama kelompoknya menyiapkan meriam. Wajahnya memancarkan rasa syukur.

“Alhamdulillah, tradisi Teut Budee Karbit masih bisa kita laksanakan tahun ini. Ini sudah jadi bagian dari identitas kami,” katanya.

Tradisi ini memang tidak lepas dari tantangan. Di tengah berbagai aturan keamanan yang diterapkan demi keselamatan warga, semangat untuk menjaga warisan budaya tetap menyala. Warga bahu-membahu, mulai dari pengumpulan dana hingga proses pembuatan meriam, yang sering kali melibatkan para pemuda dan perantau.

Dentuman demi dentuman terus menggema hingga menjelang subuh. Malam yang panjang terasa singkat, seolah waktu ikut larut dalam irama ledakan yang berulang. Di Delima, Meriam Karbit bukan hanya suara, ia adalah cerita, sejarah, dan harapan yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved