Rabu, 5 Agustus 2015
Home » Opini

Mewaspadai Ajaran Sesat di Aceh

Rabu, 12 September 2012 08:47

ACEH kembali “diserang” paham sesat, aliran Laduni di Desa Beuragang dan Meunasah Rambot, Kecamatan Kaway XVI, Aceh Barat. Pengikutnya berprinsip shalat fardhu cukup Maghrib, Isya dan Shubuh saja, sedangkan Zuhur dan Ashar tergantung pada kesanggupan pengikutnya. Kalau sanggup boleh ditunaikan (Serambi, 2/9/2012). Tahun lalu, umat Islam di Aceh dihebohkan dengan munculnya ajaran sesat Millatta Abraham, di Peusangan, Bireuen, yang konon telah berhasil merekrut 700 orang pengikutnya di seluruh Aceh (Serambi, 8/4/2011).

Ajaran yang dinilai sesat itu bukanlah kasus baru yang terjadi di Aceh. Jauh sebelumnya, berbagai aliran sesat telah muncul di Aceh. Misalnya, aliran sesat pimpinan Ahmad Arifin tumbuh di Aceh Tenggara pada 1978 yang meyakini bahwa alam raya sudah ada sebelum adanya Allah. Ada pula gerakan Ma’rifatullah pimpinan Ilman Lubis di Simeulue pada 1982, yang sempat merembes ke Banda Aceh. Ajaran ini menerangkan kiblatul iman terdiri dari kiblat tubuh, nyawa, hati, dan sirr.

Ada pula aliran tarekat Sufiyah Sumaniyah yang konon warisan Syeikh Ibrahim Bonjol juga sempat berkembang di Aceh pada 1982. Aliran ini menganggap haji tidak wajib, tapi cukup dengan mensucikan diri. Tak lama berselang, aliran sesat juga muncul di Kuala Simpang yang disebarkan oleh Abdul Majid Abdulah. Aliran ini, mengharamkan surat yasin dan wirid, namun daging anjing malah dihalalkan.

Ada pula aliran Bantaqiyah yang diduga punya garis keyakinan yang sama dengan ajaran Wujudiyah (bersatu dengan Allah), yang sejak abad 16 merupakan aliran paling terkenal di daerah ini. Ajaran ini mengumbar tata cara ibadah bak ajaran Syekh Siti Jenar yang menyebarkan keyakinan fana fillah (musnah dalam Allah) dan anal al-haq (akulah tuhan). Ajaran yang digagas sufi kontroversial Al-Hallaj.

Kemudian, aliran Pembaru Isa Bugis sempat mewarnai kehidupan beragama rakyat Aceh. Aliran ini mengklaim lembaga pembaru yang dipimpin oleh Isa Bugis adalah nur, sedangkan orang-orang yang berada di luar lembaga Isa Bugis adalah zhulumat, sesat serta kafir. Selain itu Islam Jamaah/Lemkari yang selanjutnya berubah nama menjadi Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) sempat pula muncul di Aceh. Aliran ini mengklaim orang Islam di luar kelompok mereka adalah kafir dan najis.

Selain itu, ada aliran Syiah yang mulai berkembang di kalangan sebagian anak muda di Aceh. Aliran ini pada 1984 telah difatwakan sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat. Keputusan bersama yang Muspida dan Majelis Permusyawaratan (MPU) Aceh, pada 2011 lalu juga melarang aliran Syiah, karena akidah Syiah sangat berbeda dengan akidah Islam. Aliran ini mencaci-maki para sahabat, bahkan mengkafirkan Abu bakar, Umar, Usman dan para sahabat lainnya, serta mengkafirkan Ahlus sunnah waljama’ah.

Itulah di antara berbagai aliran/paham sesat yang sempat berkembang di Aceh. Bisa jadi masih ada lagi aliran/paham sesat lain yang belum penulis sebutkan. Sebagian aliran/paham sesat tersebut sudah hilang, namun sebahagian masih terus melancarkan aktivitasnya untuk menyebarkan paham sesatnya.

Halaman123
Editor: bakri
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas