Jurnalisme Warga
Dilema Anak-Anak Pencari Nafkah
Alam pikiran seorang anak sadar betul bahwa ia perlu sekolah demi masa depan. Terlebih di zaman yang terus berubah,
NELLIANI, M.Pd., Guru SMAN 1 Baitusalam, melaporkan dari Aceh Besar
Kesempatan belajar dan melanjutkan pendidikan adalah impian setiap anak. Menyandang status sebagai pelajar, berinteraksi dengan teman dan guru, belajar ilmu dan keterampilan baru adalah pengalaman menarik walau melelahkan.
Alam pikiran seorang anak sadar betul bahwa ia perlu sekolah demi masa depan. Terlebih di zaman yang terus berubah, pendidikan tidak saja memberikan pengetahuan akademis, tetapi juga membekali individu dengan keterampilan hidup yang diperlukan menghadapi era yang semakin kompetitif.
Beruntunglah mereka yang mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan. Sayangnya, tidak semua berada di posisi itu. Di luar sana, masih banyak anak yang harus menukar masa-masa paling indah dengan beban pekerjaan yang belum semestinya menjadi tanggungan mereka. Waktu yang harusnya dimanfaatkan menimba ilmu malah digunakan mengumpulkan rupiah untuk menyambung hidup.
Impitan ekonomi menempatkan anak pada pilihan sulit. Melanjutkan pendidikan atau memutuskan bekerja. Bila memilih yang pertama, maka banyak tekanan yang akan ia hadapi. Mulai dari ketiadaan uang untuk biaya sekolah, orang tua yang mendesak untuk bekerja hingga tidak ada dukungan secara emosional dari mereka.
Akan berbeda ceritanya jika ia memantapkan diri pada pilihan kedua. Bagi sebagian orang tua yang minim pemahaman jelas bahagia. Sudah ada tempat berbagi kesempitan hidup. Ada anak yang bisa diandalkan menopang keberlangsungan ekonomi keluarga. Setidaknya mereka tidak dipusingkan lagi oleh anggaran yang makin hari makin panjang daftarnya. Dengan upah kerja yang diterima, si anak bisa membiayai diri dan juga keluarganya.
Di usia yang masih belia “anak-anak kurang beruntung” ini terpaksa menyerah. Melihat teman sebaya gagah dalam balutan seragam, berharap dia salah satunya. Namun, apalah daya, alih-alih bersekolah, untuk makan sehari-hari saja susah. Akhirnya, cita-cita masa kecil yang dengan bangga dia ceritakan di depan kelas layu sebelum berkembang.
Saya atau siapa pun bisa jadi punya pengalaman tentang ini. Berhadapan dengan anak-anak yang penuh dilema. Di satu sisi, mereka sadar pendidikan merupakan jalan keluar dari kemiskinan dan jembatan menuju masa depan yang lebih baik. Di sisi lain kondisi ekonomi memaksa mereka mencari nafkah dan meninggalkan bangku sekolah.
Sebut saja Budi, usianya baru menginjak 16 tahun ketika ia berstatus pelajar jenjang menengah atas. Budi jarang sekolah, jika hadir pun sering terlambat. Setiap ditanya alasannya kerja atau tidak sanggup bangun pagi karena kelelahan. Menurut temannya, ia bekerja sebagai sopir ‘dumptruck’, posisi yang menjanjikan untuk anak seusianya.
Budi berasal dari keluarga tidak mampu. Mungkin itu alasan ia memutuskan banting tulang dan meninggalkan sekolah. Pernah memilih kerja paruh waktu, mengambil pekerjaan sepulang sekolah saja, tetapi itu membuat posisinya digantikan orang lain dan ia kehilangan pendapatan. Padahal, Budi siswa cerdas, kemampuan matematisnya lebih baik dari sebayanya.
Seperti halnya Budi, kisah Ali (nama samaran) lebih kurang sama. Ali memilih melaut karena tempat tinggalnya berada di wilayah pesisir. Ali dari keluarga sangat sederhana dengan banyak saudara. Pekerjaan itu dilakukan agar bisa membantu orang tua yang kesulitan biaya sehari-hari.
Ali turun melaut setiap sore hari dan baru kembali esok paginya. Semalaman ia berada di atas boat kecil mencari ikan sebanyak mungkin. Ia bercerita, saat di laut hampir tidak pernah tidur. Cuaca dingin, angin kencang, dan ombak besar sudah biasa baginya. Pekerjaan itu dilakoninya sejak duduk di bangku SMP.
Meskipun lelah, Ali berusaha sekolah pada paginya. Namun, hampir saban hari ia terlambat. Alasannya, membereskan dulu tangkapannya, menjual ke agen, baru berangkat ke sekolah. Terkadang, ia terlambat karena ketiduran. Tidur di kelas, jarang buat tugas menjadi pemandangan biasa. Ketika ditanya apa ada keinginan melanjutkan pendidikan setelah tamat, dengan mantap ia menjawab akan bekerja saja.
Pencari nafkah
Hari ini, anak-anak yang bekerja mencari nafkah bisa kita temukan di mana-mana. Di restoran, pembantu rumah tangga, perkebunan, bahkan area pertambangan. Mirisnya, tidak sedikit anak di bawah umur dipaksa bekerja oleh orang tuanya, sebagai pengemis jalanan atau pengamen, sedangkan mereka mengawasi dari kejauhan.
| Jembatan Awe Geutah, si Kecil yang Tangguh |
|
|---|
| Langkahan Pascabanjir: Kesaksian dari Tanah yang Dihantam Bah dan Kayu |
|
|---|
| TKA Aceh di Peringkat 31: Apa yang Salah dengan Pendidikan Kita? |
|
|---|
| Kokurikuler sebagai Jalan Menuju Sekolah Aman Bencana di SMAN 1 Matangkuli |
|
|---|
| Pendidikan Aceh: Sinergi dan Optimis Pascabencana |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Nelliani-90ikl.jpg)