Opini
Ketulusan Ibu
HARI ini, 22 Desember oleh masyarakat dunia diperingati sebagai Hari Ibu
Oleh Yelli Sustarina
HARI ini, 22 Desember oleh masyarakat dunia diperingati sebagai Hari Ibu. Hari ini ditetapkan sebagai hari untuk menunjukkan cinta dan kasih sayang kepada kaum ibu. Walaupun sebenarnya cinta dan kasih sayang itu, haruslah setiap detik diberikan kepada ibu yang sudah sukarela mengandung, merawat, dan membesarkan kita. Kenyataannya seberapa banyak yang tahu peringatan apa yang terjadi pada hari ini, khususnya kaum remaja?
Dibandingkan dengan peringatan Hari Valentine, Hari Ibu masih kurang populer di kalangan remaja. Biasanya, pada Hari Valentine, para remaja sibuk mempersiapkan kado spesial untuk pasangannya. Mereka heboh mencari ucapan selamat valentine yang tepat, untuk diberikan kepada orang yang belum menjadi mahram bagi mereka. Padahal, itu jelas bukan budaya kita, bukan budaya kaum muslimin. Kemudian, bagaimana halnya dengan hari ibu? Adakah kado spesial yang dipersiapkan untuk beliau, atau sudahkah kita mempersiapkan kata-kata indah sebagai ucapan terimakasih atas ketulusan yang beliau berikan? Berat terkadang mulut ini mengucapkan rasa cinta kepada ibu walaupun hanya sekadar ucapan terima kasih. Mengapa hal ini bisa terjadi? Apakah karena lantaran malu atau gengsi mengucapkan kata-kata manis untuk ibu yang mestinya kita cintai?
Dan, mengapa ketika menggombal seorang gadis, kata-kata manis itu mengalir begitu indah dengan penataan bahasa yang super lebay? Patutkah kita menomorduakan ibu yang selama 9 bulan mengandung, yang kemudian menyusui dan membesarkan kita selama ini. Oleh karena itu penulis ingin memaparkan bagaimana ketulusan seorang ibu kepada anaknya.
Saat dalam kandungan
Pada saat ibu mengandung, banyak perubahan fisik maupun psikologis yang terjadi pada dirinya. Awal kehamilan ibu merasakan mual akibat dari perubahan pada saluran pencernaan. Nafsu makannya berkurang dan bahkan sering terjadi muntah, tapi rasa itu akan segera hilang ketika beliau mendengar bahwa ia sedang hamil.
Hari-hari berikutnya ia mulai memberikan perhatian lebih terhadap bayi yang di kandungnya. Ia sering mengajak anaknya berbicara, bercerita dan mendengarkan musik berharap perkembangan otak anaknya dapat terangsang. Ia juga memilih makanan yang bernutrisi supaya nutrisi anaknya tercukupi. Tak lupa setiap hari ia mengelus perutnya untuk menunjukkan betapa besar rasa cinta kepada bayi yang dinantikannya.
Bulan-bulan berikutnya mulai tampak perubahan pada tubuhnya. Perutnya mulai membesar, sehingga pada saat bernafas ia mersakan sesak akibat pergeseran diafragma keatas yang didesak oleh rahim yang semakin membesar. Tekanan pada pembuluh darahnya juga meningkat, sehingga ibu mengalami pembengkakan di area kakinya.
Perubahan keseimbangan hormon pada saat hamil, memunculkan bintik-bintik kecoklatan pada area wajahnya, sehingga sering disebut dengan topeng kehamilan. Gusinya juga sering berdarah, perut kembung, pusing dan tak jarang terkadang ibu mengalami pingsan. Kemudian apa yang dikatakan ibu ketika mengalami hal tersebut, “Ibu ikhlas menerimanya nak, karena dirimu jauh lebih berharga dari tubuh dan kecantikan ibu”. Tidakkah kita melihat bagaimana tulusnya seorang ibu menerima kedatangan kita? Sungguh ketulusan yang tidak bisa dibayar dengan apa pun.
Kemudian di saat kita akan dilahirkan, ibu merasakan sakit yang luar biasa hebatnya. Ia harus menunggu selama kurang lebih 16 jam. Tubuhnya terasa dingin, keringat mulai membasahi tubuhnya, dan setiap kali kontraksi rahim ibu meringis kesakitan. Tapi harapan dan penantian akan kelahiran bayinya, ia nikmati setiap kali rasa sakit itu datang. Ibu mempertaruhkan nyawanya dan berjuang sekuat tenaga walaupun ia merasa sudah tidak kuat lagi. Dengan tubuh yang terkulai lemas dan kaki tangan gemetar, ia paksakan hingga kita terlahir ke dunia ini.
Mendengar suara tangisan itu, ucapan rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa tidak terhenti dari bibirnya. Kebahagiaan menyelimuti rasa sakitnya. Ia mulai melihat dan memperhatikan setiap bagian anggota tubuh bayi yang di letakkan ke pangkuannya. Air mata bahagia mulai membasahi pipinya dan ucapan terimakasih sekali lagi terucap dari bibirnya “Terimakasih Tuhan, Engkau telah mempercayakan anak ini kepadaku”. Ini lah saat seorang ibu merasakan hal yang paling bahagia di dalam hidupnya.
Setelah dilahirkan
Selama 9 bulan ibu mengandung dengan berbagai macam cobaan dan rasa sakit yang dialaminya. Kini rasa sakit itu hilang dengan kehadiran buah hati tercinta. Dengan ketulusan hati ia merawat dan menjaga buah hatinya, bahkan seekor nyamuk pun tak dibiarkan menyentuh anaknya. Beliau mengusahakan rasa nyaman dan aman untuk anaknya, memeluk, menggendong, menatap matanya, mengajaknya tersenyum dan memberikan air susu ibu (ASI) setiap kali ia merasa lapar dan haus.
Ibu tidak pernah merasakan nyenyaknya tidur dan enaknya makan. Setiap dua jam sekali ia harus rela terbangun dari tidur nyenyaknya untuk menyusui. Dia juga tidak bisa makan makanan yang enak, karena harus memilih makanan tertentu untuk menunjang produksi ASI nya. Semua ia lakukan dengan ikhlas tanpa berharap suatu saat si anak akan mengganti semua pengorbanan dan ketulusan yang diberikan ibu.
Ketika berumur 1 tahun, ia mulai mengajari kita berjalan, menemani bermain, memperkenalkan benda-benda yang berada di sekitar kita dan menstimulus setiap tumbuh kembang kita. Saat tejatuh atau terluka ketika bermain, ia menghampiri kemudian memeluk kita. Tanpa sadar setiap kali kita menangis, ibulah yang selalu kita panggil. Ibu selalu ada ketika kita membutuhkannya, ibu selalu setia menemani kita dan ibu jugalah yang sering memberi motivasi kepada kita.
Seiring waktu kita pun mulai beranjak dewasa. Peran ibu tidak pernah lepas dari setiap kehidupan yang kita lalui. Beliau menfasilitasi semua keperluan kita, mulai dari semenjak masuk taman kanak-kanak atau sekolah dasar hingga masuk perguruan tinggi pun tidak pernah terlepas dari tanggung jawab beliau.
Ibu rela ‘melilit’ perutnya demi mengirimkan uang kuliah kita, menggadai dan menjual harta yang disayanginya untuk belanja kita, dan bahkan terkadang ia harus berutang kepada tetangga atau sanak saudara supaya kita tetap bisa kuliah. Patutkah kita tidak cinta terhadap ketulusan yang beliau berikan, pantaskah kita mengenyampingkannya demi orang lain yang belum tentu mencintai kita seperti ibu mencintai kita?
Semoga tulisan ini menjadi renungan bagi kita semua terhadap ketulusan yang diberikan ibu.
Yelli Sustarina, Mahasiswi Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK) Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Banda Aceh. Email: yellsaints.paris@gmail.com