Sabtu, 23 Mei 2026

Kupi Beungoh

Ketika Balai Pengajian Mulai Tergeser oleh Dunia Digital

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, kebiasaan anak-anak dan remaja di Aceh mulai mengalami perubahan.

Tayang:
Editor: Amirullah
for serambinews
Nurul Amalia, Mahasiswi Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam, UIN Ar-Raniry. Email: nuramaliatj168@gmail.com 

Oleh: Nurul Amalia

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, kebiasaan anak-anak dan remaja di Aceh mulai mengalami perubahan.

Kehadiran smartphone membuat waktu yang dulu dihabiskan di meunasah, balai pengajian, atau rumah teungku perlahan tergeser oleh media sosial, game, dan hiburan digital.

Aktivitas pengajian yang dahulu ramai setiap sore hingga malam hari kini tidak lagi seramai sebelumnya, terutama di wilayah perkotaan.

Fenomena ini menunjukkan adanya perubahan pola kehidupan generasi muda. Jika dulu anak-anak selepas magrib berbondong-bondong pergi mengaji, sekarang sebagian besar lebih memilih menghabiskan waktu dengan gadget mereka.

Perubahan tersebut bukan hanya dipengaruhi oleh perkembangan teknologi, tetapi juga oleh berkurangnya kebiasaan dan dorongan untuk menghadiri pengajian secara rutin.

Perubahan Pola Kehidupan Remaja

Berdasarkan hasil wawancara dengan Tgk. H. Fakhruddin Lahmuddin, M.Pd selaku akademisi Fakultas Dakwah dan Komunikasi sekaligus pimpinan umum Pesantren Modern Al-Manar,

Menurunnya minat remaja mengikuti pengajian dipengaruhi oleh perubahan pola kehidupan masyarakat dan perkembangan teknologi digital.

“Dulu anak-anak lebih dekat dengan lingkungan pengajian karena aktivitas hiburan masih sangat terbatas dan hampir setiap kampung memiliki balee beut yang aktif pada sore hingga malam hari. Namun sekarang semuanya bisa diakses dari HP,” ujarnya.

Menurutnya, dahulu hampir setiap kampung memiliki balai pengajian yang aktif pada sore dan malam hari. Anak-anak hadir secara rutin tanpa harus dipaksa. Namun sekarang, perhatian remaja lebih banyak tersita pada dunia digital.

Gadget sebenarnya bukan musuh utama. Namun, perubahan ini juga tidak terlepas dari berkurangnya peran orang tua dalam mengarahkan kebiasaan anak di rumah. Jika dahulu orang tua aktif menyuruh dan mengantar anak ke balai pengajian, kini sebagian mulai memberikan kebebasan penggunaan gadget tanpa pengawasan yang cukup. 
Akibatnya, remaja lebih banyak menghabiskan waktu di dunia digital dibandingkan menghadiri pengajian atau halaqah di masjid.

Pergeseran Balee Beut ke TPA

Seiring perkembangan waktu, fungsi balee beut atau balai pengajian mulai bergeser ke TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an) yang biasanya hanya berlangsung dari sore hari hingga menjelang magrib. Banyak masyarakat menganggap pendidikan agama dasar sudah cukup sampai tahap tersebut, terutama pada kemampuan membaca Al-Qur’an.

Fakhruddin menjelaskan bahwa anak-anak yang telah tamat TPA tetap membutuhkan pengajian lanjutan agar memiliki pemahaman agama yang lebih luas, termasuk tentang akhlak dan nilai kehidupan.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa pengajian sore masih didominasi anak-anak usia sekolah dasar. Ketika memasuki usia SMP dan SMA, banyak remaja mulai meninggalkan lingkungan pengajian karena merasa sudah tidak cocok lagi belajar bersama anak-anak yang usianya di bawah mereka.

Kondisi ini menjadi tanda bahwa ruang pengajian remaja mulai hilang di tengah masyarakat. Padahal, pengajian malam di masjid, mushalla, atau balee beut menjadi tempat penting untuk membentuk karakter dan kedisiplinan generasi muda Aceh.

Pragmatisme Akademik dan Pendidikan Agama

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved