Opini
Malu dan Bala
Langit langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak. Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Oleh Ampuh Devayan
Langit langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak. Hukum tak tegak, doyong berderak-derak. Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak. Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza Berjalan aku di Dam, Champs Elysees dan Mesopotamia. Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata Dan kubenamkan topi baret di kepala. Malu aku jadi orang Indonesia.
Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu,
Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi berterang-terang curang susah dicari tandingan,
Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek secara hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu (Taufiq Ismail).
Puisi Taufiq Ismail di atas yang berjudul ‘Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia’ itu adalah cermin realitas saat ini atas ulah kita sendiri. Ketika rasa malu sudah kehilangan, maka tali-tali kencang persaudaraan menjadi putus tercincang. Lisan, jemari dan perbuatan bisa bertolak-belakang dari kebenaran. Para bandit pun begitu leluasa hebohnya mencari dalih atas suatu pembenaran, dengan senyum kebanggaan saat berbicara di ruang rapat, dan rakyat terus dibiarkan memeras airmata
Kenapa? Karena rasa malu telah hilang dari jiwa-jiwa kita. Bahkan rasa takut kepada Allah telah hilang, dan lebih takut penjara dunia. “Jika tidak ada lagi rasa malu, maka menjadi bala,” kata seorang khatib dalam khutbahnya, Jumat (22/6).
Hilangnya perasaan malu seseorang adalah bala kepada diri seseorang. Hilang perasaan malu anggota satu kelompok, akan menjadi bala bagi kelompok yang lain. Orangtua melakukan kejahatan akibat hilang malu kepada anak-anak. Inilah bala! Pemimpin berbuat salah hilang malu. Inilah bala. Sikap pongah penguasa, hidup mewah dari memeras pajak rakyat, sibuk jumpa pers ke mana-mana. Dia membela diri di depan publik, membalikkan fakta dengan menyatakan diri adalah korban yang dizalimi.Inilah bala!
Rakyat merupakan pihak yang selalu membiayai aneka ongkos kerakusan pemimpinnya. Rakyat dijadikan kuda tunggangan oleh pemimpinnya yang berpidato berkemasan slogan pemberdayaan rakyat. Dan rakyat diperdaya dengan berbagai eksploitasi, mulai urusan indentitas harus begini dan begitu, bangun ini dan bangun itu, sampai soal surga neraka. Inilah bala!
Jadi, bala rupanya bukan dalam bentuk bencana fisikal (gempa, smong, badai, dan banjir), tapi juga dalam bentuk moral. Bala moral penyebabnya kemiskinan “akal sehat”. Dunia pendidikan adalah penyumbang utama persoalan ini. Hasilnya benar-benar mengagetkan, karena banyak manusia berpendidikan tetapi sedikit saja yang terdidik alias tidak malu.
Malu dan bala seperti dua sisi mata uang yang saling melengkapi. Buktinya, banyak jalan tak berambu bukan karena tak dipasangi, melainkan karena raib dijarah pencuri. Ada saja barang milik rakyat yang dibawa pulang ke rumah karena berdalih sisa gudang. Ada saja orang yang tak rampung sekolah tetapi punya ijazah , orang yang mengaku beragama tetapi kejam luar biasa. Mengklaim diri paling bersyariat tetapi tingkah laku tak lebih seperti hewan. Semua ini menegaskan karena rasa malu telah sirna, dan telah menjadi ijazah bagi kejahatan. Gilirannya bala moral terjadi dimana-mana.Virusnya telah membuat masyarakat gampang dibuat linglung dan cenderung lebih mempercayai gosip ketimbang fakta.
Padahal Rasulullah saw telah bersabda, bahwa malu adalah sebagian dari iman. Tapi malu yang seperti apa? Nabi menegaskan, “Orang yang malu kepada Allah dengan sepenuh malu adalah orang yang menjaga kepalanya dari isinya, menjaga perutnya dari segala rezeki tidak halal, selalu mengingat kematian, meninggalkan kemewahan dunia dan menjadikan perbuatan akhirat sebagai hal yang lebih utama. Sesiapa yang melakukan semua itu, maka ia telah malu kepada Allah dengan sepenuh malu.”
Budaya malu sebagai warisan budaya Islami justru yang melaksanakannya mereka yang notabene bukan muslim. Orang Jepang beragama sinto, mereka mengedepankan rasa ‘malu’ dalam sikap dan budayanya. Dan itu membawa implikasi sangat luas dalam berbagai sendi kehidupan mereka, seperti soal law enforcement, kebersihan moral aparat, dan sebagainya.
Seperti dilansir dalam satu artikel, bagaimana masyarakat Jepang bersikap terhadap lalu lintas. Mereka lebih senang memakai jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan raya. Bagaimana taatnya mereka menunggu traffic light menjadi hijau, meskipun di jalan itu sudah tidak ada kendaraan yang lewat lagi. Bagaimana mereka secara otomatis langsung membentuk antrian dalam setiap keadaan yang membutuhkan, pembelian tiket kereta,masuk ke stadion untuk nonton sepak bola, di halte bus, bahkan untuk memakai toilet umum di stasiun-stasiun. Mereka berjajar rapi menunggu giliran.
Orang Jepang juga malu terhadap lingkungannya bila telah melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum, sikap refleksnya untuk mengatakan ‘gomennasai’ (maaf) dalam setiap kondisi yang tidak mengenakkan orang lain. Bahkan jika kita berjalan tergesa-gesa dan menabrak orang Jepang, sebelum kita mengatakan maaf, orang Jepang dengan cepat akan mengatakan ‘gomennasai’ (maaf) kepada kita.