Rabu, 3 Juni 2026

Jurnalime Warga

Perjuangan Akhir Haji Salman di Depan Guru Besar UIN Ar-Raniry

Di sana, di lantai tiga, yang kerap disebut ruang “Bedah Berdarah-darah” biasanya dikupas habis disertasi mahasiswa

Tayang:
Editor: mufti
for serambinews/IST
AMIRUDDIN 

AMIRUDDIN dan Eva Khairani, keduanya Penyuluh Agama Islam Kanwil Kemenag Aceh, melaporkan dari Banda Aceh

Forum Komunikasi Penyuluh Agama Islam (FKPAI) Aceh amat beruntung mendapat undangan menghadiri Sidang Promosi Doktor, H Salman SPd, MAg di Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Rabu, 6 Mei 2026.

Di sana, di lantai tiga, yang kerap disebut ruang “Bedah Berdarah-darah” biasanya dikupas habis disertasi mahasiswa yang ingin meraih gelar doktor (Dr).

Kini, giliran Haji Salman mempertanggungjawabkan hasil penelitiannya pada Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI).

Siang itu, Haji Salman Arifin berdiri gagah di hadapan guru besar berseragam toga merah. Ya, mereka adalah penguji, yang akan mengupas disertasi Salman berjudul "Analisis Kebijakan Pemerintah Aceh dalam Pengembangan Profesionalisme Guru Pendidikan Agama Islam."

Bersamanya, sejumlah media pendukung terlihat jelas. Laptop bermerek terus menyala di podium tempat presentasi hasil penelitian. Ringkasan disertasi tidak pernah lekang dari jemarinya. Pulpen dan buku kosong telah disiapkan untuk mencatat semua masukan para penguji.

Presentasi disertasi lancar, penuh kekeluargaan. Sosok Salman yang dikenal humoris membuat suasana sidang yang seharusnya menegangkan, justru lebih ringan, seakan tiada beban. Sesekali, terselip kata lelucon dari mulutnya yang membuat suasana sidang kian cair. Di balik gemuruh tawa yang terdengar dari audiens dan penguji, Salman tetap mempertahankan pertemuan penting ini sebagai forum ilmiah, tempat menguji ketajaman analisis dan ruang menerima kritikan tim penguji.

Salman mempresentasikan disertasi dengan tetap mengedepankan konsep pemaparan karya ilmiah. Desertasi ini berawal dari kegelisahannya terhadap model pengembangan profesionalisme guru PAI yang lebih condong administratif. Sementara persentase keahlian dan keterampilan hampir terabaikan.

Argumentasi yang diutarakan membuat penguji harus acung jempol. Ya, para tamu melangitkan tepuk tangan setiap kali sang promovendus mendapat pujian bapak dan ibu terhormat serta amat terpelajar itu.

Bergaya santai, tapi penuh makna, Salman beberapa kali melontarkan kelakar pencair suasana. Ia sempat menyinggung fenomena kecerdasan buatan atau AI yang kini marak digunakan di berbagai bidang.

“Sekarang semua orang menggunakan AI atau aplikasi pintar. Namun, saya juga berhasil melaksanakan sidang ini berkat AI,” ujarnya sambil tersenyum.

Para peserta sidang tampak menunggu kelanjutan kalimat tersebut. “AI itu adalah Anak dan Istri,” lanjutnya, disambut gelak tawa seluruh ruangan.

Candaan itu tidak berhenti sebagai humor semata. Bernada penuh penghargaan, Salman menyisipkan pesan sederhana tentang pentingnya dukungan pasangan dalam perjalanan akademik seseorang.

“Nah, ini salah satu tip pria berhasil, yaitu berada di bawah anak dan istri,” pungkasnya.

Ayah empat anak ini dikenal bukan hanya sebagai intelektual, Salman juga tercatat sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakankemenag) Kota Banda Aceh. Bahkan, ini daerah ketujuh yang ia pimpin di level kabupaten kabupaten/kota. Salman pernah jadi Kakankemenag Simeulue, Aceh Tenggara, Lhokseumawe, Sabang, Aceh Timur, dan Aceh Besar. Rasanya, ia pantas disebut angkatan laut dan udara, sebab pernah memimpin lembaga keagamaan di daerah perairan dan daratan.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved