Selasa, 14 April 2026

Cerpen

Meugang Kelabu

Mak Beuransah diam. Tanpa terasa bulir-bulir embun di matanya menetes. Bidah, bungsunya telah menghujam kenangan

Editor: bakri

Karya Hendra Kasmi

“Kapan Bang Fazil pulang, Mak!”  tanya  Bidah. Mak Beuransah diam. Tanpa terasa bulir-bulir embun di matanya menetes. Bidah, bungsunya telah menghujam kenangan pahit itu. Sudah dua kali meugang berlalu, Fazil tak  pulang. Padahal meugang bukan sekadar ritual menyambut bulan suci Ramadhan, tapi juga momen berkumpulnya anggota keluarga yang terpencar. Anak-anak kuliahan dan pekerja di kota akan  mudik sejenak untuk menjumpai orang tuanya. Kadang niat mereka semata memperbaiki gizi, sekadar mencicipi makanan enak yang tak pernah mereka nikmati semasa di perantauan. Memang, seolah tidak lengkap ritual meugang kalau dapur tidak mengepulkan aroma daging. Tidaklah semarak hari meugang, kalau ibu-ibu tidak membuat timphan, lemang, dan ketupat.

Dan, sungguh  miris jika pada suasana meugang  anggota keluarga tidak lengkap. Betapa tersayatnya hati orang tua bila pada hari baik bulan baik, sang anak menyampaikan kabar tidak bisa pulang. Maka, hal seperti itulah yang dirasakan Mak Beuransah.  “Maaf, Mak. Jika ucapan saya menyinggung perasaan Mak,” ujar Bidah. Mak Beuransah masih terdiam. Lidahnya kelu. Sulit ia menjelaskan pada Bidah tentang kesedihannya.

Suara lesung bersahut-sahutan seperti genderang rapai yang ditabuh bertalu-talu. Semarak sekali. Padu dengan canda riang para ibu memainkan jeungki. Namun, raut riang tidak melekat pada wajah Mak Beuransah. Mukanya mendung bulan Desember.  Kemarin, Zubir, kawan Fazil menyampaikan kabar bahwa anaknya tak bisa pulang juga pada meugang ini karena pada hari tersebut, kuliahnya tidak libur. Katanya, ia akan pulang menjelang Lebaran. Raut  Mak Beurasah berkerut saat mendengarnya, karena merasa ada kejanggalan.

“Lho,  kok bisa. Bukankah semua kuliah libur pas meugang? Zubir jika kamu jumpa dengan Fazil,  suruh dia pulang ke sini. Barang sehari saja!”ujar Mak Beuransah dengan sedikit kesal. “Tidak tahu Mak! Tapi saya akan coba hubungi dia di kota!” ujar Zubir memelas. Ya, sampai sebatas itu kenangannya.

***

Mendung sudah berarak dari langit barat. Angin bertiup kencang. Tak berapa lama rinai hujan mulai mambasahi tanah. Mak Beuransah dan Bidah cepat-cepat memindahkan tepung ke dalam rumah sebelum hujan deras. Halilintar menyambar diikuti gemuruh bersahut-sahutan dari langit. Orang-orang berlarian di luar mencari tempat berteduh. Mereka hanya menudungi dirinya dengan daun pisang.  Dalam riuhnya gemuruh, Mak Beuransah menangkap siluet di pintu depan rumahnya. Diusap matanya berkali-kali. Ya, ternyata penglihatannya tidak salah. Sosok tegar itu berdiri tepat di pintu. Tak berapa lama orang itu meletakkan jaket dan tas di kursi. Sekujur tubuhnya menggigil. Pakaiannya basah.

“Fazil! Katanya kamu tidak pulang?”ujar Mak Beuransah dengan perasaan ceria bercampur kaget.

“Zubir yang menyampaikan pesan Mak semalam. Ia meneleponku melalui ponsel Hasan.”ujar Fazil sembari mencium tangan maknya. “Tapi tak apa-apa dengan kuliahmu, kan?” ujar Mak Beuransah.

“Saya bilang pada dosen bahwa ada acara di kampung!”

Fazil membuka tasnya. Ia mengeluarkan bungkusan berisi kudapan kemasan dan buah-buahan. Tak lupa sebuah benda persegi empat juga diserahkan pada Mak Beuransah. Benda itu terbungkus rapi dalam kado biru. Matanya berkaca-kaca saat membuka bungkusan  itu. Sebuah mukena putih dan kain batik. Sudah lama ia menginginkan mukena baru, apalagi dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Mukena lama sudah usang.

“Darimana kau peroleh ini?”

“Belilah Mak. Memang ada tidak yang kasih cuma-cuma.”

“Kau bekerja? Kerja apa? Apa tidak menganggu kuliah? Kenapa tidak kasih tahu Mak?”

“Kerja serabutan Mak. Nanti kok saya kasih tahu takut menyusahkan Mak.”

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved