Opini
Aceh vs Indonesia 2045
ARTIKEL singkat ini mencoba meramal masa depan hubungan Aceh dengan Indonesia pada 2045. Sengaja dimunculkan angka
Oleh Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad
ARTIKEL singkat ini mencoba meramal masa depan hubungan Aceh dengan Indonesia pada 2045. Sengaja dimunculkan angka 2045, karena pada tahun tersebut, Indonesia akan memperingati Hari Kemerdekaan ke-100 tahun. Aceh tentu saja akan mengalami perubahan wajah pada tahun tersebut, walaupun tidak begitu diperhitungkan secara global, regional, maupun nasional. Sebab, kontribusi Aceh dalam geo-politik, tidak memiliki kekuatan sumber daya manusia (SDM), melainkan pada sumber daya alam (SDA), yang agaknya akan diperebutkan oleh negara-negara luar dan pemangku kepentingan di Indonesia.
Banyak yang meramal bahwa Indonesia akan menjadi negara penting pada 2045. Namun peran Indonesia tidaklah pada level internasional, melainkan pada tingkat regional semata (ASEAN). Hal ini disebabkan Indonesia akan menjadi pasar terbesar di dunia. Dalam bidang keamanan nasional, pada 2045, Indonesia akan mengalami proses transisi yang amat kuat, dimana pasar akan mengalahkan ideologi kebangsaan. Akibatnya, peran aktor-aktor non-negara akan lebih banyak tampil sebagai pemain global, ketimbang peran negara itu sendiri. Hal ini menyebabkan pada 2030, Indonesia akan memasuki era baru, seperti yang dialami oleh negara-negara maju, namun tidak pada tahap memberikan pengaruh yang cukup signifikan secara internasional.
Indonesia akan menjadi negara penentu kestabilan regional. Bangsa ini cenderung menciptakan konflik di dalam negeri untuk mempertahankan ideologi kebangsaan. Tentu saja, peran strategis Indonesia akan diperhitungkan, bukan karena kekuatan ekonomi dan militer, melainkan karena kemampuan menciptakan kestabilan sebagai negara pasar. Faktor jumlah penduduk agaknya yang menjadi kebanggaan Indonesia. Ini kemudian yang menyebabkan Indonesia hanya disejajarkan bersama Turki, India, Afrika Selatan, dan Kolumbia. Indonesia belum disejajarkan dengan negara-negara seperti Cina, Jepang, dan Korea Selatan, terlebih lagi disandingkan dengan Russia.
Bagaimana Aceh?
Bagaimana wajah Aceh pada 2045? Hampir dapat dikatakan bahwa pemicu konflik ideologi di Aceh lebih banyak dikendalikan dari luar negeri. Pemicu konflik di kalangan orang Aceh lebih banyak dipicu oleh pola dan sikap pemerintah pusat. Pada 2013 lalu, misalnya, telah dibuktikan dengan “proses sandera politik” terhadap para pemicu konflik ideologi selama 30 tahun lebih. Adapun konflik internal orang Aceh lebih banyak diarahkan pada konflik etnik dan konflik agama. Jadi wajah Aceh pada 2045, lebih banyak ditentukan dalam dekade 2019-2029. Karena saat itu, jilid baru konflik Aceh bukan lagi pada level ideologi, tetapi kebangkitan kesadaran baru orang Aceh. Jika pun terjadi, pada pola mempertahankan tanah dan air mereka dari cengkraman kepentingan nasional dan internasional. Walaupun kesadaran untuk mempertahankan tanah dan air di kalangan orang Aceh cenderung telah menipis secara drastis.
Di Aceh tentu saja tidak lembaga-lembaga strategis yang memberikan blue print yang menyangga kebijakan pemerintah lokal, terlebih lagi meretas perjalanan masa depan rakyat Aceh. Selama ini, rakyat Aceh hanya berjalan pada sejarah yang telah dikondisikan, bukan karena dikondisikan oleh orang Aceh sendiri. Walaupun tingkat intelektual orang Aceh pernah mampu untuk berbuat kejayaan, namun kesadaran tersebut, bukan diarahkan pada kesatuan sebagai orang Aceh yang murni. Konflik Aceh versus Indonesia pada dekade 2019-2029 lebih banyak digunakan untuk menstabilkan kepentingan asing, ketimbang untuk kesejahteraan orang Aceh. Orang Aceh pintar, memang, tetapi terlalu miskin untuk mempertahankan kesadarannya sebagai orang Aceh yang satu.
Adapun alasan mengapa disebutkan 2019, karena aktor pelaku konflik selama 30 tahun terakhir, akan menjadi penentu hubungan Indonesia dengan Aceh pada 2014, akan segera berakhir. Kontribusi nasionalisme Aceh dengan nasionalisme Indonesia akan menyatu pada pemilu yang akan datang. Sejauh ini, orang Aceh, walaupun agamis, tidak begitu tertarik bergabung dengan kekuatan politik agamis Indonesia. Nasionalisme Aceh dan nasionalisme Indonesia, akan sangat menentukan wajah Indonesia lima tahun yang akan datang. Inilah sebabnya, konstelasi politik Indonesia, sangat ditentukan oleh hubungan antara Aceh dengan Jakarta, seperti Pemilu 2004 dan 2009.
Satu bukti konkret adalah jalinan nasionalisme-Aceh, seperti Partai Aceh (PA) pernah bergabung dengan jalinan nasionalisme-Indonesia seperti Partai Demokrat dan Partai Gerindra. Diperkirakan, pada 2019 Partai Demokrat bersama Partai Golkar akan bangkit lagi hingga mempertahankan ideologi negara ini hingga dua periode berikut. Saat itu, hingga 2029, pola hubungan Aceh dengan Indonesia akan mencapai titik keemasan. Nantinya, tidak sedikit elite di tingkat nasional yang berasal dari Aceh, karena golongan muda memiliki tingkat nasionalisme. Untuk merespons ini, disadari atau tidak, orang Aceh sudah mulai membingkai rasa nasionalisme seperti nama Partai Nasional Aceh (PNA), yang seolah-olah memperkuat tesis artikel ini tentang kemunculan Nasional-Aceh dan Nasional-Indonesia.
Akan tetapi menjelang 2030, Indonesia akan menghadapi satu rembesan konflik global, dimana beberapa provinsi akan menuntut kemerdekaan dari Indonesia. Dalam hal ini, Kalimantan dan Sulawesi akan mengalami pusaran untuk meminta kemerdekaan, akibat dari persaingan global di Laut Cina Selatan. Sementara di Selat Melaka, Aceh akan mengalami pusaran konflik yang tentu saja oleh kepentingan global di Selat Melaka. Malaysia dan Singapura akan memainkan peran penting, untuk menengahi tiga kepentingan raksasa dunia; Amerika Serikat, Cina, dan Russia. Saat itu, Indonesia akan menjadikan Aceh sebagai “ladang amal untuk penyemaian nasionalisme kebangsaan” untuk memperkuat nilai tawar Indonesia. Saat itu juga, hasil bumi Aceh sudah mulai dikeruk di beberapa kawasan. Namun sentimen kebencian terhadap pemerintah akan dikelola secara sistematik supaya tidak menginternasional, seperti pengalaman GAM.
‘Global mind’
Berikutnya, pada 2030-an, satu babak sejarah akan terjadi lagi, dimana hubungan Indonesia dan Aceh akan mengalami masa-masa sulit. Sebab, generasi muda Aceh tidak lagi peduli akan ideologi dan nasionalisme Aceh dan Indonesia. Mereka tidak berfungsi sebagai eksponen pemberontak, sebagaimana pola eksponen GAM pada 1970-an. Generasi ini akan mirip dengan generasi di negara-negara Arab atau Amerika Latin. Mereka membentuk ideologi sendiri yang dikelola melalui sosial media dengan pola penyatuan pikiran seperti global mind. Inilah tampaknya babak baru model konflik masa depan yang akan terjadi antara Indonesia dan Aceh.
Pola keterasingan secara nasional di kalangan generasi muda Aceh dan keaktifan dalam kancah lembaga-lembaga internasional akan membentuk satu kesadaran baru bagi mereka. Pola pemerintah mengerdilkan Aceh dari sisi SDM dan memuliakan Aceh dari sisi SDA, merupakan alat baru permusuhan di masa yang akan datang. Pada 2040-an akan muncul satu episode ‘hubungan baru’ antara Indonesia dan Aceh. Episode ini boleh jadi berwujud pada proses self determination (determinasi diri), maupun pada kemampuan pengaruh dari usaha global mind yang sedang direkayasa hingga 2030.
Artikel ini bukanlah ingin memperburuk hubungan Aceh dan Indonesia, melainkan meletakkan Aceh secara proporosional di hadapan pemerintah pusat. Konflik masa depan, bukan lagi dipicu oleh ‘adu domba’ atau ‘adu isu’, melainkan siapa yang ‘mengelola domba’ dan ‘memainkan isu’. Timur Tengah sudah runtuh oleh pola ini. Asia Timur sedang bersiap untuk menghadapinya pada 2030-an nanti. Setelah itu, baru Asia Tenggara mendapat jatah. Di sinilah Indonesia kembali diuji untuk mampu menciptakan rekayasa baru tentang nasionalisme. Sekali lagi, apakah Aceh dapat menyelamatkan Indonesia saat itu?
* Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad, Ph.D, Dosen Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam UIN Ar-Raniry, Banda Aceh. Email: abah.shatilla@gmail.com