Cerpen
Espanto del Mundo
BEBERAPA orang Abesinia telah mengepungku. Tidak ada celah bagiku untuk melarikan diri. Mataku menatap tajam
Karya Teuku Mukhlis
BEBERAPA orang Abesinia telah mengepungku. Tidak ada celah bagiku untuk melarikan diri. Mataku menatap tajam ke arah mereka yang memamerkan seringai senyum kemenangan. Salah seorang dari mereka memberi isyarat kepadaku untuk meletakkan senjata. Dalam posisi yang tidak menguntungkan, terlintas di benakku untuk mati terhormat dengan menyerang mereka secara membabi buta. Namun di saat yang bersamaan juga terlintas bayangan wajah istriku yang cantik. Sebelum berangkat ke medan perang, aku pernah berjanji untuk kembali ke Lisboa. Kerinduan terhadap istriku yang telah menumpuk mampu mengalahkan pikiran konyolku untuk mati di tangan musuh. Aku meletakkan senjata.
Perang telah berakhir dengan kekalahan kami. Aku menyaksikan betapa dahsyatnya serangan musuh. Beberapa mayat dari pihak kami nyaris hancur dengan isi tubuh yang terburai. Yang masih hidup dan terluka ditawan dan dikumpulkan dalam sebuah kapal. Kami didudukkan dengan tangan terikat di belakang. Beberapa prajurit Sultan bertampang Arab, Abesinia, dan Turki selalu awas mengawal kami.
Di atas kapal, aku bertemu dengan Renato Santos. Ia adalah salah satu prajurit senior dan kaki tangan panglima kami, Sebastian de Sausa yang telah meninggalkan kami di pesisir Pasai. Sebastian de Sausa layak mendapatkan kutukan dari Tuhan karena tidak bertanggung jawab terhadap pasukannya. Ia memilih untuk melarikan diri ke selatan ketimbang melontarkan peluru-peluru yang tersisa ke arah pasukan Sultan.
“Apa yang terjadi denganmu, Renato? Bukankah kau seharusnya bersama Sebastian?” bisikku pelan. Aku mengabaikan sikap hormat berlebihan yang kerap kami tunjukkan kepadanya.
“Sebastian terkutuk!” geramnya.
Ia menceritakan bagaimana piciknya Sebastian yang telah tega meninggalkan dirinya. Padahal ia hanya butuh beberapa langkah lagi untuk mencapai kapal Sebastian sebelum sauh diangkat. Tapi Sebastian pura-pura tidak melihatnya. Ia juga mengutuk diarenya yang tak kunjung sembuh selama berhari-hari sehingga menyebabkan dirinya menjadi lamban. Memang, semalam aku sempat melihatnya keluar masuk jamban darurat dan betah berlama-lama di dalamnya. Sungguh penderitaan lain yang harus dialaminya di masa perang.
Kapal kami telah berangkat. Lonceng dari kapal utama berbunyi sangat nyaring seakan-akan langit bergemuruh. Bunyi lonceng itu mengingatkanku pada sebuah gereja yang ada di kotaku. Namun lonceng ini bukan untuk mengingatkan kami untuk berdoa kepada Tuhan, melainkan semacam bunyi yang telah membuat jiwa kami menjadi begitu kerdil.
Dengan begitu, kami memang hanya bisa berdoa agar kami tidak dipancung.
Seiring bunyi lonceng yang membahana, prajurit Sultan berteriak penuh kemenangan. Aku mencoba untuk mengintip keberadaan Sultan yang berada di kapal utama. Sungguh, bertahun-tahun lamanya aku dibuat penasaran oleh cerita-cerita pedagang Goa tentang keperkasaan sang Sultan. Seorang prajurit Sultan bertampang Arab membentakku. Entah apa yang dikatakannya, namun dari raut wajahnya bisa kulihat bahwa dia melarangku untuk berdiri apalagi mendongakkan kepala melewati dinding geladak kapal.
Kapal utama Sultan mulai berlayar membelah lautan. Dua kapal perang besar mengiringinya. Sedangkan kapal kami berada di belakang kapal pengangkut hasil rampasan perang. Kini sangat sulit bagiku untuk melihat wajah Sultan yang paling ditakuti oleh dunia.
***
Aku terbangun karena seseorang mengusikku. Di sampingku, Renato Santos terkulai lemah dalam keadaan yang sungguh menyedihkan. Beberapa kali dia berusaha mengerutkan tubuhnya untuk menghilangkan rasa sakit di perutnya.
“Renato, kau tak apa-apa?” tanyaku.
“Sungguh hari yang paling sial bagiku, Hugo Amado. Rasa sakit di perutku belum hilang.”
Lalu aku berusaha memanggil seorang prajurit Sultan dan menjelaskan keadaan Renato Santos dengan isyarat tubuh. Kupikir ia bisa memahaminya ketika berlalu dari hadapan kami. Tapi tak lama kemudian, ia kembali bersama seseorang yang berjubah putih.