Cerpen
Espanto del Mundo
BEBERAPA orang Abesinia telah mengepungku. Tidak ada celah bagiku untuk melarikan diri. Mataku menatap tajam
Sampai detik ini, aku belum bisa memercayai omong kosong Renato. Sulit bagiku untuk menerima kenyataan bahwa kapal itu dibuat dengan bantuan para jin. Ditambah lagi aku belum pernah melihat kehebatan langsung dari kapal itu.
“Kau lihat ada tiga buah lonceng di kapal itu?” tunjuk Renato dengan ujung dagunya.
“Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Tapi ketika kita berangkat tadi, kudengar ada suara lonceng yang sangat nyaring,” jawabku. Aku mulai penasaran.
“Itulah lonceng kematian. Lonceng raksasa dari Kaisar Tiongkok. Ketika kau mendengar lonceng itu berbunyi, maka siap-siaplah kau menghadapi kematian. Tahukah kau, ketika Sebastian kita mendengar lonceng itu berdentang, kemaluan Sebastian menyusut hingga ke ukuran yang paling kecil, hahaha….” Renato tidak mampu menahan tawanya. Aku pun ikut tertawa.
“Uskut! Uskut! Uskut!” bentak seorang prajurit Sultan. Ternyata bukan kami saja yang tertawa mendengar lelucon Renato. Para tawanan lain ikut tertawa berderai.
Si jubah putih yang tampan diam-diam ikut tertawa. Aku tidak tahu sudah berapa lama dia berada di belakang kami. Mungkin dia ikut menyimak cerita Renato tadi. Setelah suasana menjadi tenang, si jubah putih bertanya dengan nada angkuh kepada kami. “Tahukah kalian sebutan apa yang pantas kita sematkan kepada armada itu?”
Tidak ada seorang pun yang menjawab.
“Ketahuilah oleh kalian semuanya, armada itu adalah teror bagi dunia, momok bagi musuh. Kalian bisa lihat sendiri dari jauh, betapa mulianya, betapa kuatnya! Betapa indahnya, betapa kayanya! Kalian bisa memanggil armada itu dengan Espanto del Mundo!”
Keterangan:
1. Uskut! (bahasa Arab) yang artinya diamlah!
2. Kalimat yang dimiringkan pada paragraf terakhir, adalah salah satu ungkapan Faria Y Sousa (Manuel de). Ia adalah seorang sejarawan berkebangsaan Spanyol (18 Maret 1590 - 3 Juni 1649). Ungkapan di atas dikutip dari Dennys Lombard, Kerajaan Aceh, Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636), Jakarta: Balai Pustaka, 1991, hal 116.
* Teuku Mukhlis adalah guru SMA Negeri 1 Baktiya Barat Aceh Utara