Kamis, 11 Juni 2026

Cerpen

Espanto del Mundo

BEBERAPA orang Abesinia telah mengepungku. Tidak ada celah bagiku untuk melarikan diri. Mataku menatap tajam

Tayang:
Editor: bakri

“Ada apa?” tanya si jubah putih dalam bahasa kami dengan fasih.

Aku merasa tersanjung dan takjub melihat sosok si jubah putih yang tampan itu.
“Kawanku ini mengalami sakit di bagian perutnya,” jawabku masih menyimpan kekaguman kepadanya.

“Oh, baiklah! Aku akan memanggil tabib untuk memeriksa kondisinya.”

Kemudian si jubah putih kembali bersama seorang tabib yang sudah tua. Aku tidak begitu yakin dengan kehadiran si tabib yang lamban itu. Setelah memeriksa Renato, si tabib memberikan ramuan-ramuan untuk diminumnya. Meskipun begitu pahit dan getir di lidah, si jubah putih berusaha meyakinkan Renato untuk menenggak habis obat itu.

Obat itu terlalu manjur seketika. Renato merasa lebih baik. Untuk menghilangkan perjalanan yang membosankan itu, Renato tidak henti-hentinya mengoceh. Bahkan beberapa kali si parjurit Arab membentak Renato. Aku tercengang dengan perubahan sikap Renato. Padahal ia dikenal sebagai prajurit yang angkuh dan tidak pernah berbicara dengan prajurit yang lebih rendah kedudukannya. Ia kerap abai dengan kesulitan-kesulitan kami. Tapi hari ini, ia begitu lain. Sifat angkuhnya lenyap. Mungkin ia tidak pernah mengalami kejadian yang paling menyedihkan selama hidupnya seperti yang sedang dialaminya sekarang.

“Hugo Amado, kau tahu kapal apa yang berada di depan kita?”

“Kapal besar itu?” tanyaku kembali.

“Ya, kapal besar yang di dalamnya dihuni oleh Sultan.”

“Apa kau yakin Sultan ada di dalamnya?”

“Tentu saja aku yakin, tolol!” jawabnya kesal. “Kau mau tahu bagaimana asal mula kapal itu dibuat?” katanya mulai melunak. Tampaknya ia merasa jenuh sebagai tawanan.

“Ceritakanlah!” aku menjawab seadanya. Mataku tak lepas dari kapal besar itu. Penasaran dengan sosok Sultan yang telah menangkap kami.

“Konon kapal itu dibawa langsung oleh jin putih dalam keadaan yang belum selesai,” kata Renato Santos. “Berlabuh dengan tiba-tiba tanpa topan dan badai di Kuala Aceh. Seluruh warga kerajaan takjub dengan kehadiran kerangka kapal itu. Namun Sultan tidak langsung percaya. Bahkan beliau menerima laporan mencurigakan mengenai kapal itu. Bisa saja kerangka kapal itu sebuah siasat musuh. Lalu Sultan memerintahkan prajurit khusus penjinak ranjau untuk meneliti lebih jauh keadaan di dalam kerangka kapal itu. Jika pun kapal itu hancur, setidaknya tidak akan membunuh banyak warga kerajaan yang berada di dekat kapal itu. Maka berangkatlah tiga orang prajurit penjinak ranjau untuk melihat sampai ke detil yang paling rumit dari kapal itu. Berjam-jam kemudian, mereka kembali dalam keadaan utuh. Sebelum memberikan laporan, terlebih dahulu mereka bertiga diperiksa kejiwaannya oleh tabib istana agar tidak memberikan laporan palsu, atau bisa saja mereka bertiga kerasukan jin jahat.”

“Laporan dari penyelidikan awal terhadap kapal itu sangat menakjubkan,” kata Renato Santos begitu yakin. Aku masih mendengarnya tanpa menunjukkan sikap kekaguman. Aku sudah sering mendengar dongeng-dongeng heroik dari para pembual. Renato Santos melanjutkan ceritanya, “mereka tidak menemukan jebakan-jebakan mematikan yang tertanam di kerangka kapal itu. Malah mereka tidak sengaja melihat dengan nyata sesosok jin putih yang besar serupa kabut yang wajahnya sangat sulit mereka uraikan, meskipun ahli nujum berusaha mendesak mereka karena sang ahli nujum sangat ingin mendapatkan gambaran tentang sosok jin putih yang telah bertahun-tahun dicarinya ke seluruh pelosok bumi, namun tak pernah mereka jumpai. Akibat terlalu memaksakan kehendak, tabib istana berkali-kali mencegah sang ahli nujum karena dapat mengguncang kejiwaan penjinak ranjau yang masih labil selepas mendapatkan tugas kenegaraan yang maha penting itu.”

Aku masih bergeming dengan jalan cerita yang dirangkai Renato Santos. “Setelah seluruh hasil penyelidikan telah dilaporkan, seorang prajurit Sultan membacakan kesimpulan dari laporan itu. Begini laporannya kira-kira: “Hasil penyelidikan kerangka kapal besar yang berlabuh tiba-tiba di kuala Aceh disimpulkan bahwa kapal itu murni dibawa oleh jin putih dari perairan Goa yang sedang tahap penyelesaian oleh Portugis. Kerangka kapal ini dinyatakan aman dari ranjau-ranjau. Pihak kerajaan akan menyelesaikan kapal ini dengan menggunakan peralatan yang didatangkan dari negeri-negeri jauh dan maju. Kapal ini juga akan dilengkapi dengan ratusan meriam yang dapat menghancurkan musuh seketika.”

“Nah, begitulah cerita misterius dari kapal itu,” Renato mengakhiri ceritanya.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved