Opini
Setiap Anak adalah ‘Bintang’
TIDAK bisa dibayangkan betapa bahagianya kita jika memiliki harta melipah, rumah megah, dan mobil mewah
Oleh Nurul Yaqin
TIDAK bisa dibayangkan betapa bahagianya kita jika memiliki harta melipah, rumah megah, dan mobil mewah. Tetapi, kita tidak memiliki seorang keturunan (anak) yang akan meneruskan idealisme perjuangan kita. Maka, segala materi di depan mata terasa kurang bermakna. Jika tidak mempunyai keturunan, bisa saja semua yang kita miliki diwariskan kepada kerabat atau sanak famili. Namun, apakah kita mempunyai cukup “emosi” untuk memberikan kekayaan kita seikhlas dan setulus kepada anak sendiri?
Oleh karena itu, kita harus menyadari bahwa anak adalah amanah Tuhan. Kehadiran seorang anak tentunya akan menjadi tambahan energi baru bagi orang tua. Konotasi “bapak” akan terasa lebih bermakna jika ada seorang anak dalam dekapan kita. Konotasi “ibu” akan terasa lebih berharga dengan kehadiran seorang anak di pelukan kita. Kalau bukan anak, siapa lagi yang akan memanggil orang tua dengan sebutan bapak dan ibu dengan penuh ta’dhim dan hormat?
Namun, zaman telah berubah. Adagium “sebuas-buasnya singa tidak akan memakan anaknya sendiri” sudah mulai luntur. Deretan peristiwa kekerasan terhadap anak di negeri ini semakin menjamur. Hasil pemantauan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebutkan bahwa tahun 2011 terjadi 2178 kasus kekerasan, 2012 ada 3512 kasus, 2013 ada 4311 kasus, dan 2014 ada 5066 kasus (Harian Terbit, 14/6/2015).
Anak adalah master piece (karya agung) Tuhan yang dititipkan kepada kita. Dalam diri anak telah mengalir darah kita yang tentunya akan melanjutkan estafet kehidupan di masa yang akan datang. Hanya anak yang menjadi harapan sentral untuk melanjutkan karier orang tua. Ketika orang tua telah tiada, hanya anak yang diharapkan selalu menangis mendoakannya. Bukan tetangga, apalagi hanya orang lain di sekeliling kita.
Anak kita
Sebuah fakta ilmiah yan telah diungkapkan oleh Dale Carnagie dalam buku klasik You and Heridity telah membutikan bahwa di antara tiga ratus miliar kemungkinan, hanya ada satu kemungkinan yang akan lolos akan menjadi seorang anak manusia. Dengan kata lain, ada sekitar tiga ratus miliar saudara kita yang tak lolos seleksi. Yang lolos hanya satu, yaitu anak kita. Oleh karena itu, kehadiran anak jangan pernah disia-siakan. Apalagi ditelantarkan.
Tak dapat dimungkiri kehadiran seorang anak memang sedikit menambah beban orangtua. Mereka harus mendidik dan membesarkannya. Membiyai sekolahnya hingga perguruan tinggi. Memperjuangkannya agar menjadi orang yang berguna. Tentu, semua itu membutuhkan waktu, biaya dan tenaga yang tak sebentar dan tak sedikit. Tapi, percayalah bahwa anugerah dan kebahagiaan yang orangtua terima lebih melimpah dan tak sebanding dengan beban yang diterima. Anak dilahirkan memang pembawa sejuta kebahagian dan rezeki bagi orang tuanya.
Laju perkembangan teknologi yang begitu pesat tidak seimbang dengan laju perkembangan keilmuan orang tua. Tak sedikit orang tua masih belum bisa memahami kepribadian anaknya. Mereka selalu mengeluh atas kenalan anaknya sejak kecil hingga dewasa. Orangtua cenderung memaksa agar anaknya mengikuti perintahnya yang terkadang bukanlah solusi. Alih-alih ingin memberikan pelajaran terbaik malah terjebak pada paradigma kuno yang menjadi bumerang bagi masa depan anak kelak.
Ketika anak kita melakukan kesalahan sepele seperti mencoret tembok, bermain lumpur ketika hujan, dan tidak bisa mengerjakan soal matematika, refleks orangtua memaharinya dan melontarkannya dengan kata-kata negatif “kamu nakal!”, “kamu ini sering main hujan-hujanan nanti sakit, gak mikir otakmu ini!”, “berapa kali ibu sudah mengajarinya materi perkalian ini? dasar tolol” (hukuman psikis).
Bahkan ketika emosi meluap, tak jarang mereka memukul, mencubit, menjewer bahkan menampar anaknya (hukuman fisik). Begitulah orang tua kita menyikapi anaknya dengan kata-kata yang tidak mendidik. Jika orangtua selalu melakukan discovering disability atau melabeli anak dengan narasi negatif, maka kelebihan dan bakat anak tak akan pernah muncul. Orang tua telah sukses menjadi mesin pembunuh bagi perkembangan bakat anak.
Ketika orang tua mengatakan narasi negatif kepada anak, maka itu akan menjadi cambuk yang akan menghancurkan konsep dirinya. Menurut Adi W Gunawan dalam Genius Learning Strategy, konsep diri adalah semacam sistem operasi mental yang akan menghasilkan sebuah label diri setiap anak. Anak-anak yang sering menyebut dirinya: “aku malas”, “aku bodoh”, dan “aku nakal”, konsep dirinya adalah “aku malas”, “aku bodoh”, dan “aku nakal”. Sebaliknya anak-anak yang sering menyebut dirinya: “aku rajin”, “aku bisa”, “aku genius”, konsep diri anak adalah “aku rajin”, “aku bisa”, dan “aku genius”.
Adi W Gunawan juga menegaskan, bahwa konsep diri bukanlah takdir Tuhan atau nasib yang tak bisa diubah. Dan lingkungan adalah faktor paling berpotensi untuk membentuk konsep diri anak. Lingkungan di sini adalah rumah yang di dalamnya terdapat orang tua, sekolah yang di dalamnya terdapat guru, dan tempat pergaulan sehari-hari anak yang di dalamnya terdapat teman dan orang-orang sekitar.
Peran sentral
Orang tua mempunyai peran sentral dalam menentukan sikap dan pribadi anaknya. Mereka harus menyadari bahwa dalam diri anak terdapat fitrah Ilahiah yang cenderung kepada kebaikan. Paradigma bahwa kecenderungan anak kepada kebaikan, seharusnya dimiliki oleh orang tua agar meningkatkan optimisme bahwa anak yang telah berperangai buruk bisa diarahkan menjadi lebih baik. Bukan keburukan permanen yang seolah-seolah tidak bisa diubah.
Tidak ada anak bodoh. Tidak ada anak dilahirkan dalam keadaan sia-sia. Semua anak hadir dengan berbagai macam kelebihan seperti apa pun kondisinya. Muhammad Ammar, penyandang sindrom asperger sukses menulis Kamus bergambar tiga bahasa. Jamaluddin Cahya, penyandang lumpuh dengan tinggi badannnya hanya 75 Cm berhasil menjadi designer hebat. Galuh Sukmara, tunarungu yang ahli Bahasa Isyarat Indonesia. Tiga orang tersebut adalah bukti kecil bahwa setiap anak adalah “bintang” yang bisa memancarkan cahayanya. Setiap anak adalah harta karun yang bisa digali kemampuannya.
Maka dari itu, orangtua dan guru harus menjadi penyelam (discovering ability) bagi kemampuan anaknya. Buang jauh-jauh narasi negatif yang bisa membunuh potensi anak. Berikan mereka apresiasi jika melakukan hal-hal positif. Peluklah anak kita dengan penuh kasih sayang dan doa. Kecuplah keningnya dengan rasa cinta. Berilah motivasi yang tinggi. Didik mereka sesuai dengan bakat dan minatnya. Maka, dengan sendirinya anak akan memperoleh kondisi terbaiknya. Sebuah kondisi di mana anak bisa memberi manfaat bagi sendiri maupun orang lain di sekitarnya (anfa’uhum linnas).
Nurul Yaqin, S.Pd.I., Guru Madrasah Ibtidaiyah Unggulan Daarul Fikri, Cikarang Barat, Bekasi, Jawa Barat. Email: mutiarayaqin@gmail.com