SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Islam telah Meninggikan Martabat Orang Aceh

SEBELUM datang Islam, orang Aceh beragama Hindu, mereka hidup dengan status bermartabat rendah

Islam telah Meninggikan Martabat Orang Aceh
getty images
Ilustrasi seorang pemuda sedang membaca Alquran. 

Oleh Razali Muhammad Ali

SEBELUM datang Islam, orang Aceh beragama Hindu, mereka hidup dengan status bermartabat rendah dan berkasta. Ada kasta yang derajat tinggi yaitu penguasa dan rakyat jelata berkasta terendah yang hina dan mertabatnya tidak dihargai. Islam agama yang tinggi dan mulia, maka ketika Islam datang mereka memeluk Islam, sehingga orang Aceh telah mengangkat mertabatnya, berkarakter tinggi, lebih berkualitas, sangat mulia, dan status derajat sama tinggi sesuai dengan tingginya Islam. Nabi saw bersabda, “Islam itu agama yang tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi dari pada Islam.” (HR. Baihaqi).

Islam agama yang tinggi, agama yang hak, suci dan mulia, maka dengan memeluk Islam mertabat dan derajat orang Aceh menjadi tinggi dan mulia selaras dengan status agamanya. Dengan memeluk, mengamalkan Islam maka orang Aceh telah meninggikan mertabat, mengangkat harga diri, reputasi dan citranya sesuai dengan status agamanya yang tinggi.

Islam agama yang tinggi sesuai dengan fitrah, pemikiran dan dapat diterima akal sehat manusia dengan konsep ketuhanan hanya Allah saja yang berhak disembah. Sebelum Islam, orang Aceh beragama Hindu dengan konsep banyak tuhan yang disembah seperti menyembah dewa-dewa, roh nenek moyang dan percaya dongeng-dongeng yang sukar dimengerti dan dipahami.

Islam datang menerapkan konsep ketuhanan yang satu, hanya Allah yang Esa, konsep persamaan derajat tanpa kasta, diikat oleh tali persaudaraan yang kuat, sama tinggi mertabat dan derajat. Islam agama yang tinggi dengan akhlak mulia, sopan santun, ramah tamah, ikhlas, amanah, adil, jujur, menampati janji, dapat meninggikan mertabat, mengangkat jati diri orang Aceh tinggi, lebih berdedikasi sesuai dengan status agamanya yang tinggi dan mulia.

Pandangan hidup
Islam sebagai pandangan hidup, panduan, pedoman bagi orang Aceh yang kemudian menjelma menjadi kriteria, ciri khas, bangga dengan Islam sebagai selogan, gaya dan corak hidupnya. Komitmen, pendirian dan keyakinan orang Aceh pada Islam begitu kuat dan tinggi, maka Islam menjadi karakteristiknya yang tinggi, unik dan menarik untuk dipelajari. Islam telah mengangkat mertabat orang Aceh berprestasi tinggi, sangat mulia, masyhur, megah, gagah, dan bermarwah.

Oleh karena itu, Islam tidak dapat dipisahkan dengan jiwa raga, profil, prilaku, dan watak orang Aceh. Islam telah terhunjam sangat dalam, jauh tertanam, kuat tersemat, telah berkarat dalam lubuk dan relung hatinya. Kalau kita tanya orang mana, lalu dia jawab orang Aceh; maka tidak perlu lagi menanyakan agamanya apa, sudah pasti Islam.

Islam sesuai logika, pemikiran dan agama kebenaran, maka Islam senada, seirama dan sangat cocok dengan orang Aceh yang kemudian Islam menjadi darah dagingnya, jiwanya, harga diri, simbol orang Aceh, maka mereka ingin terus hidup dan mati bersama Islam. Islam telah membawa keimanan, amalan, kebahagian, kesenangan, kemudahan hidup, kesehatan, ketenangan jiwa dan ketetapan hati orang Aceh. Islam telah menyelamatkan orang Aceh dari kemungkaran di dunia dan azab di akhirat nanti.

Dengan memeluk Islam orang Aceh menjadi mulia, lebih tinggi, bermarwah, sejahtera dan telah mengeluarkan mereka dari kegelapan, kejahilan, kekufuran, kebodohan menuju cahaya iman yang benar, suci, jauh dari kurafat, tidak sesat jalan dan tidak makan harta haram. Betapa Islam telah menempa jiwa orang Aceh, membentuk watak, membina karakter orang Aceh, mengangkat mertabatnya tinggi dan mulia sesuai dengan status agamanya yang tinggi.

Islam kemudian menjadi jiwa, sebagai ruh, jasad orang Aceh, mengangkat harga diri yang dikenal fanatik, unik dan populer karena taat mengamalkan ajaran Islam. Tanpa Islam, orang Aceh mungkin tidak jadi apa. Islam yang mendidik, menempa jiwa berkerakter tinggi, unggul, masyhur, bermutu, hebat sehingga orang Aceh dihormati, dikagumi, disegani, ditakuti oleh lawan dan kawan.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help