SerambiIndonesia/

Salam

Dari Darat Keluar Ganja, dari Laut Masuk Sabu-sabu

Badan Nasional Narkotika (BNN) bersama kepolisian menyita sabu-sabu dengan berat total 212,430 kg, 8.500 butir

Dari Darat Keluar Ganja, dari Laut Masuk Sabu-sabu
EMPAT tersangka dihadirkan pada konferensi pers pengungkapan kasus sabu-sabu 212 kg dan 18.500 butir pil ekstasi, serta pil happy five oleh BNN Pusat di Mapolres Langsa, Minggu (5/11) sore. 

Badan Nasional Narkotika (BNN) bersama kepolisian menyita sabu-sabu dengan berat total 212,430 kg, 8.500 butir pil ekstasi, dan 10.000 pil happy five yang diselundupkan dari Malaysia. Bersama dengan barang bukti itu, juga ditangkap empat terduga anggota sindikat penyelundup dan pengedarnya di kawasan Aceh Timur dan Aceh Tamiang. Sabu-sabu tersebut dibawa dari Malaysia naik kapal nelayan melalui jalur laut. Ini jumlah terbesar dalam sejarah penangkapan sabu-sabu di Aceh.

Kepala Bidang Pemberantasan dan Penindakan BNN Pusat, Irjen Pol Arman Depari kepada pers mengatakan pihak BNN bersama kepolisian masih memburu sejumlah anggota sindikat lainnya. “Sindikat narkoba yang kita tangkap ini adalah sindikat narkoba Malaysia-Aceh-Sumut,” kata perwira tinggi itu.

Ya, inilah persoalan berat Aceh dalam beberapa tahun terakhir. JIka dulu hanya berpikir bagaimana memberantas tanaman ganja dan mencegah peredarannya ke luar Aceh, tapi kini masalahnya tambah rumit. Yakni laut atau perairan kita masih sering “bocor” sehingga kapal-kapal nelayan dijadikan pengangkut berbagai jenis narkoba dari Malaysia.

Demikian pula di darat, pengangkutan ganja ke luar Aceh sepertinya berlangsung hampir setiap hari. Ini terbukti dari begitu banyaknya penangkapan ganja dari truk dan bus asal Aceh. Yang paling sering ditangkap di kawasan Sumtera Utara, Riau, Sumsel, Lampung, Jakarta, dan kota-kota lainnya.

Artinya, di darat ganja Aceh masih terus diproduksi serta gencar pula diangkut ke luar Aceh dengan berbagai cara. Sedangkan dari laut, berbagai jenis narkoba seperti sabu-sabu, pil happy five, dan ekstasi juga bagai tak terbendung.

Karena begitu hebatnya “gempuran” para pebisnis narkoba lokal maupun internasional, maka BNN kini merangkul masyarakat agar ikut dalam memberantas narkoba. Sebab, bersama masyarakat, kini BNN bisa melakukan empat peran sekaligus. Yaitu pencegahan, pemberantasan, pendayagunaan masyarakat, dan kerja sama.

Jika melihat empat peran yang akan ditingkatkan oleh BNN, sangat jelas, BNN akan benar-benar merangkul masyarakat dalam berbagai lapisan untuk memerangi narkoba. Masyarakat akan menjadi faktor penting dalam pencegahan narkoba. Ketika masyarakat secara luas menyadari tentang narkoba, barang tersebut akan dihindari masyarakat sekaligus menjadi musuh para pengedar.

Namun, merangkul masyarakat tidak gampang. Perlu upaya yang luar biasa dari BNN untuk bisa melakukan empat peran tersebut. Memberdayakan masyarakat adalah bukan pekerjaan mudah karena seperti menggerakkan organ di luar tubuh organisasi untuk bisa seirama dalam mengikuti peran yang dilakukan BNN.

Akhirnya, kita ingin katakan, BNN tidak bisa sendiri menjalankan empat peran di atas. Pemerintah yang sudah menyatakan perang terhadap narkoba perlu melakukan dukungan penuh kepada BNN dalam melaksanakan empat peran tersebut. Niat memberantas narkoba akan menjadi omong kosong jika BNN hanya berjalan sendiri tanpa ada dukungan dari pemerintah dan pihak-pihak lain.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help