Home »

Opini

Opini

Teri Krueng Raya, Beras Blang Bintang, dan Rambutan Indrapuri

IDENTITAS suatu daerah menjadi terkenal disebabkan berbagai faktor antara lain seperti tempat lahirnya ulama

Teri Krueng Raya, Beras Blang Bintang, dan Rambutan Indrapuri

Oleh Azhar

IDENTITAS suatu daerah menjadi terkenal disebabkan berbagai faktor antara lain seperti tempat lahirnya ulama, tokoh pemuka masyarakat, maupun sebagai penghasil produk pertanian. Identitas yang masih wujud dalam masyarakat Aceh dari dimensi sosok agamawan maupun panutan masyarakat, misalnya dapat dilihat dari pemberian nama daerah kelahiran di belakang nama, seperti Muhammad Hasan Di Tiro, Ayah Hamid Samalanga, Hasan Krueng Kale, Syekh Abdur Rauf Al-Singkili, dan lain-lain.

Secara lebih spesifik, sesuai dengan fokus tulisan ini, identitas suatu daerah dapat menjadi kenangan disebabkan oleh produk yang dihasilkan seperti ikan teri (kareng), padi (breuh), dan rambutan (boh rambot). Tiga komoditi ini sengaja dipilih untuk mewakili sektor pertanian dalam arti luas, yaitu teri sebagai representasi sektor perikanan, beras sebagai representasi tanaman pangan, dan rambutan sebagai bagian dari komoditi hortikultura.

Sentra produksi ikan teri
Sektor perikanan terkenal dengan produksi laut dan merupakan sumber protein hewani untuk pembangunan sumber daya manusia (SDM). Nama Krueng Raya sudah dikenal sejak lama, baik sebagai destinasi wisata laut dan permandian air panas, pelabuhan Malahayati, serta akhir-akhir ini dikenal pula sebagai kawasan kerajaan Islam Lamuri. Pada era 1980-an, kawasan yang pernah dilanda tsunami ini terkenal sebagai sentra produksi ikan teri.

Ketika itu, produksi ikan teri hasil tangkapan nelayan dalam bentuk segar maupun olahan sederhana memenuhi pasar lokal maupun luar daerah serta keperluan ekspor melalui Medan. Walaupun dihasilkan di Krueng Raya, namun di pasaran produk ini lebih dikenal sebagai teri Medan. Ibarat kata pepatah, kerbau punya susu, sapi punya nama. Hari ini, sebutan teri semakin hilang dari pasaran. Pertanyaannya mungkinkah, era “keemasan” teri Krueng Raya bangkit kembali? Jika mungkin, apa strategi untuk mengangkat kembali komoditi ini?

Ada dua strategi yang dapat dilakukan yaitu perbaikan teknik penangkapan, pengolahan, penyimpanan, dan pengemasannya. Keberadaan alat tangkap dan teknologi harus diatur semula agar ketersediaan atau stok ikan terdistribusi, sehingga tersedia secara merata. Menurut Wakil Sekretaris Panglima Laot Aceh (2017), di kawasan Krueng Raya telah disusun qanun mengenai penangkapan ikan berbasis kearifan lokal. Apabila strategi di atas dijalankan maka nelayan tidak kesulitan memperoleh ikan sebagai bahan baku pengolahan teri.

Selain itu, teri harus dikemas dan diberi label sehingga tahan disimpan lama dan tersedia sepanjang waktu, serta dapat dijadikan oleh-oleh bagi siapapun yang berkunjung ke Krueng Raya. Kondisi ini jika dapat direalisasikan, potensi ekonomi masyarakat pesisir akan terangkat, serta kawasan Krueng Raya sebagai klaster kawasan industri menjadi poros penggerak ekonomi. Membangun dari pesisir, mengapa tidak!

Dari laut ke naik ke darat. Tidak dapat dinafikan kemajuan industri pertanian telah berdampak terhadap menghilangnya beberapa jenis komoditas berbasis lokal seperti padi (baca: beras) Blang Bintang. Maraknya beras produksi luar daerah, khususnya dari Sumatera Utara dengan berbagai jenis kemasan mulai masuk pasar konsumen di Aceh. Beras Blang Bintang yang diproduksi dari padi varietas lokal kini sudah sukar ditemui. Pertanyaannya mengapa padi lokal hilang?

Produksi rendah dan waktu yang diperlukan relatif lama, yaitu 4-5 bulan merupakan alasan utama menghilangnya padi lokal. Di satu sisi, kita dapat memahaminya sebagai salah satu instrumen pemerintah menjaga ketahanan pangan, sehingga penggunaan teknologi semakin “menggila” demi mengejar target produksi. Pada sisi lain, ironisnya upaya tersebut tidak dibarengi dengan kebijakan harga yang berpihak kepada petani.

Akhirnya, petani berada pada posisi lemah sehingga menerima apapun keputusan pemerintah termasuk mobilisasi penggunaan benih unggul yang juga sarat dengan kepentingan perusahaan produsen benih padi. Ternyata alih teknologi belum berdampak positif terhadap peningkatan hasil produksi padi. Apapun ceritanya, rata-rata produksi padi di Aceh Besar masih tergolong rendah, yaitu di bawah 7 ton/ha. Upaya mendorong peningkatan produksi padi sawah juga tidak terlepas dari teknologi budidaya.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help