Salam

Seharusnya Tak Ada Lagi yang Terseret Arus

Sudah terlalu sering kita baca berita seperti ini: pengunjung terseret arus di pantai Lampuuk, Aceh Besar

Seharusnya Tak Ada Lagi yang Terseret Arus
ist
Sejumlah pengunjung Pantai Babah Dua Lampuuk, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar sedang melihat proses pencarian terhadap satu korban yang dilaporkan hilang atas nama Pardi K (19) mahasiswa asal Samadua, Aceh Selatan, Sabtu (21/7/2018). 

Sudah terlalu sering kita baca berita seperti ini: pengunjung terseret arus di pantai Lampuuk, Aceh Besar. Berita ikutannya adalah tak semua yang terseret arus ini selamat. Itu pula yang tersurat dalam pemberitaan Harian Serambi Indonesia, Minggu (22/7) kemarin. Di halaman Serambi Kutaraja diwartakan bahwa dua pengunjung terseret arus di pantai Lampuuk. Satu selamat, satu hilang.

Seperti insiden-insiden sebelumnya, kali ini pun korban yang terseret arus dan akhirnya tenggelam itu juga sedang asyik mandi-mandi di bibir pantai. Mereka yang terseret arus pada Sabtu (21/7) menjelang siang itu adalah Andi Maulana (21), anggota polisi dan Pardi K (19), mahasiswa asal Gampong Payonan Gadang, Kecamatan Samadua, Aceh Selatan.

Kedua pria yang diseret arus itu ditolong oleh pengunjung lainnya yang juga sedang mandi-mandi, tapi mengenakan pelampung. Pada saat-saat kritis seperti itu hanya Andi Maulana yang terselamatkan, sedangkan Pardi K terlepas dari pegangan si penolong dan kembali diseret arus lebih ke tengah.

Dalam hitungan detik dia timbul tenggelam hingga akhirnya hilang digulung ombak. Sampai kemarin sore jasad korban belum ditemukan. Pencarian korban pun tak begitu mulus karena laut memang sedang bergolak lantaran Aceh sedang dilanda musim badai. Nah, sebetulnya di sinilah akar masalahnya. Sudah berkali-kali Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberi peringatan (warning) bahwa Aceh sedang dilanda fase cuaca buruk.

Mulai dari angin kencang, badai, puting beliung, hujan deras, banjir, longsor, hingga gelombang tinggi. Kondisi seperti ini akan terus berlanjut hingga September 2018. Semua ini mestinya dicermati dengan saksama oleh masyarakat Aceh, khususnya mereka yang ingin rekreasi ke pantai. Siapa pun mestinya selalu ingat bahwa pada musim angin kencang pastilah laut ikut bergolak sehingga tidaklah kondusif bila seseorang memaksakan diri untuk mandi-mandi di pantai. Apalagi nekat berenang agak ke tengah.

Itu sama artinya, sengaja mengundang bencana. Selain itu, di pinggir pantai Lampuuk itu ada beberapa papan peringatan agar pengunjung jangan mandi di titik tertentu yang arusnya kuat atau ombaknya besar. Juga ada peringatan agar sebaiknya tidak mandi-mandi di laut saat laut tak bersahabat. Nah, andainya peringatan itu dipatuhi mestinya ada lagi pengunjung yang terseret arus lalu tewas tenggelam di lokasi yang sama.

Kejadian berulang ini justru makin memperlihatkan betapa kita tak peduli pada upaya-upaya pengurangan risiko bencana. Sebaliknya, sebagian di antara kita malah bertindak seperti orang yang sengaja mengundang bencana. Terakhir, untuk memperkecil bahkan untuk menihilkan jumlah korban di pantai Lampuuk atau pantai-pantai rawan lainnya di Aceh, mohon hendaknya kita setiap hari menyimak dan mematuhi ‘warning’ dari BMKG. Jangan pernah menganggapnya angin lalu. Prakiraan cuaca yang mereka lakukan itu bukanlah nujum, bukan pula isapan jempol belaka. Probabilitas (tingkat kemungkinannya terjadi) malah di atas 51 persen.

Artinya, peluang terjadinya lebih besar daripada tidak kemungkinan tidak terjadi. Maka biasalah bertindak dalam keseharian dengan memedomani prakiraan cuaca yang rutin dikeluarkan BMKG. Ini semata-mata untuk mencegah jatuhnya korban sia-sia di laut maupun di darat. Semoga.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved