Salam

Tindak Tegas Siapa pun Penyeleweng Elpiji 3 Kg

Harian Serambi Indonesia kemarin menempatkan berita “Aceh Krisis Elpiji 3 Kg” sebagai headline

Tindak Tegas Siapa pun Penyeleweng Elpiji 3 Kg
SERAMBINEWS.COM/MUHAMMAD NAZAR
Sat Reskrim Polres Pidie mengamankan 80 tabung gas di Mapolres Pidie 

Harian Serambi Indonesia kemarin menempatkan berita “Aceh Krisis Elpiji 3 Kg” sebagai headline (berita utama) di halaman 1. Dalam pemberitaan itu dilaporkan bahwa gas elpiji 3 kilogram (kg) krisis di sejumlah kabupaten/kota di Aceh. Kalaupun ada, harga jualnya justru jauh melampaui harga eceran tertinggi (HET).

Di Gayo Lues, elpiji 3 kg pada tingkat agen pengecer dijual di atas HET, yaitu Rp 28.000 hingga Rp 29.000/tabung, padahal HET di tingkat kabupaten itu hanya Rp 22.000/tabung.

Di Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe terjadi kelangkaan elpiji 3 kg sejak sepekan terakhir. Kalaupun ada, harganya mencapai Rp 20.000 di pangkalan dan Rp 25.000 di kios pengecer. Padahal, HET di bekas “kota petrodolar” ini hanya Rp 18.000/tabung.

Di Meulaboh kelangkaan gas elpiji masih berlanjut. Gas melon itu hanya tersedia ketika dipasok oleh agen ke pangkalan-pangkalan, selanjutnya langsung habis. Harga jualnya pun jauh di atas HET.

Konsumen gas elpiji 3 kg di Pidie hingga Sabtu lalu masih mengeluhkan sulitnya mendapatkan gas bersubsidi tersebut. Harga jual di tingkat pengecer berkisar Rp 25.000 hingga Rp 30.000, padahal HET-nya hanya Rp 18.000/tabung.

Di Gayo Lues, selain isu kelangkaan stok juga mencuat sinyelemen tentang kekurangan isi gas elpiji 3 kg yang beredar di kabupaten itu.

Spekulan diduga bermain di balik kelangkaan gas yang biasa disebut “gas melon” ini. Gas bersubsidi ini juga banyak yang lari ke pihak yang tidak berhak, seperti terdeteksi di Aceh Barat. Selain itu, longgarnya pemantauan dari pihak Pertamina dan pihak keamanan, sangat memungkinkan terjadinya penyelewengan dalam pendistribusian gas bersubsidi yang seharusnya hanya diperuntukkan bagi keluarga miskin ini.

Bukan rahasia lagi sebetulnya bahwa selama ini ada saja pihak yang diduga bermain untuk mencari keuntungan dari gas bersubsidi itu. Misalnya, ada orang berduit yang ikut antre membeli elpiji 3 kg pada pangkalan di Meulaboh. Orang berduit itu bahkan mengongkosi orang lain untuk ikut antrean. Selanjutnya elpiji murah itu dijualnya dengan harga mahal ke warung dan kafe-kafe.

Karena praktik itu berlangsung sangat tertutup, makanya pemerintah yang didukung pihak keamanan perlu menelusuri secara mendalam dan harus menjatuhkan sanksi yang tegas terhadap siapa pun yang menyelewengkan gas jatah masyarakat miskin tersebut. Tindak tegas siapa pun mereka dan siapa pun dekingnya, lalu umumkan ke publik.

Selain itu kita berharap, Pertamina bisa secepatnya mengendalikan pasokan untuk mencegah spekulasi harga yang sangat merugikan masyarakat. Jangan sampai kondisi seperti ini dibiarkan berlarut-larut dan terus terulang terutama pada momen-momen tertentu, misalnya, saat Iduladha, Idulfitri, dan pada saat musim kenduri maulid. Jangan sampai muncul kesan, umat Islam di Aceh memang dipersulit merayakan hari-hari besarnya.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved