Salam

Tiga Penambang Tewas, Apa Sikap Pemerintah?

Bupati Pidie, Roni Ahmad alias Abusyik memperlihatkan sikap kecewanya atas tragedi yang menewaskan

Tiga Penambang Tewas, Apa Sikap Pemerintah?
KETIGA jenazah penambang emas dibaringkan di rumah keluarga di Kecamatan Geumpang, Pidie, Minggu (2/9). 

Bupati Pidie, Roni Ahmad alias Abusyik memperlihatkan sikap kecewanya atas tragedi yang menewaskan tiga penambang emas. “Musibah ini harusnya bisa dihindari andai saja mereka mengindahkan amaran yang dikeluarkan Pemkab Pidie dan Pemerintah Aceh.”

Ia mengatakan, Pemkab Pidie selama ini telah berupaya memberi pemahaman kepada masyarakat yang melakukan aktivitas penambangan liar di Kecamatan Geumpang, Mane, dan Tangse. Namun, sampai sekarang mereka tetap ngotot menambang dengan risiko yang sangat mengancam keselamatan pekerja.

“Saat jatuh korban seolah-olah kita tidak peduli kepada masyarakat. Padahal, dari awal Pemkab Pidie telah melarang aktivitas penambangan emas secara liar. Bahkan Forkopimda Pidie telah mengeluarkan imbauan untuk menghentikan sementara penambangan emas ilegal di wilayah Pidie,” ujar Abusyik

Menurut Bupati Pidie, larangan penambangan itu mengacu kepada amanah Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, dan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Kerusakan Hutan. Namun, amaran demi amaran dari Pemkab Pidie maupun Pemerintah Aceh tetap saja tak mampu menghentikan penambangan ilegal di sejumlah lokasi. Padahal, penambangan ilegal itu selain mencemari lingkungan karena pemakaian merkuri, juga sangat mengancam nyawa pekerja. Ada puluhan pekerja yang meninggal saat menambang.

Tragedi terakhir menimpa tiga penambang emas di pegunungan Gampong Pulo Loih, Kecamatan Geumpang, Pidie, tiga hari lalu. Mereka ditemukan tewas di lubang galian yang diduga akibat kekurangan oksigen di kedalaman lebih kurang 17 meter. Sebelumnya, selain di Pidie, di Aceh Jaya, dan beberapa daerah lainnya juga sudah berkali-kali terjadi kasus meninggalnya pekerja di lubang-lubang pencarian batu berkandung emas. Ada yang karena kekurangan oksigen, ada pula karena lubang mendadak tertutup longsor, dan berbagai sebab lainnya.

Banyak juga pekerja yang terserang berbagai penyakit karena bekerja secara tradisonal. Di antara mereka banyak yang terserang penyakit malaria, penyakit kulit, dan lain-lain. Sedangkan masyarakat yang tak terlibat dalam penambangan itu terpakasa menerima dampak buruknya. Antara lain, karena sungai atau lingkungan di sekitar tambang yang dikabarkan sudah tercemar merkuri, akhirnya ikan-ikan dan kerang/lokan yang diambil masyarakat dari sungai itu sudah sulit dijual. Masyarakat sudah enggan mengonsumsi ikan-ikan dan lainnya dari sungai yang dianggap tercemar kimia beracun itu.

Sebagaimana diakatakan Abusyik tadi, bahwa sebetulnya pemerintah tidak membiarkan masyarakat menambang secara liar. Sudah ada sejumlah upaya yang dilakukan di Pidie, Aceh Jaya, Nagan Raya, dan Aceh Barat untuk menghentikan aktivitas yang sering merenggut nyawa pekerja, namun masyarakat tetap tak mau meninggalkan kegiatan yang berisiko itu.

Meski demikian kita berharap pemerintah jangan bosan-bosan memberi pengertian kepada para pengusaha ladang tambang emas itu. Sebab, aktivitas itu selain terlarang juga sudah banyak menelan korban jiwa!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help