Salam

Ikrar Damai vs Hoaks

Ketika berikrar melaksanakan pemilihan umum (Pileg dan Pilpres) 2019 secara damai, akhir pekan kemarin

Ikrar Damai vs Hoaks
PLT Gubernur Aceh, Nova Iriansyah bersama Kapolda Aceh, Irjen Pol Rio S Djambak, Pangdam IM, Mayjen TNI Teguh Arief Indratmoko, Wali Nanggroe, Tgk Malik Mahmud Al-Haythar, Komisioner KIP dan Panwaslih Aceh, pimpinan parpol, serta calon anggota DPD RI melepas burung merpati pada deklarasi Kampanye Damai Pemilu 2019, di Lapangan Blangpadang, Banda Aceh, Minggu (23/9). 

Ketika berikrar melaksanakan pemilihan umum (Pileg dan Pilpres) 2019 secara damai, akhir pekan kemarin, mulai dari pusat hingga daerah, para peserta pemilu mencanangkan perang melawan hoaks serta ujaran kebencian. Juga menyatakan pileg dan pilpres ini antipolitik uang serta menolak eksploitasi isu SARA. “Saya mengajak seluruh pimpinan partai politik, alim ulama, tokoh masyarakat, akademisi, dan seluruh elemen masyarakat Aceh mari kita sukseskan Pemilu 2019 dengan tidak menyebarkan hoaks dan kebencian, dengan mengedepankan kepentingan bersama di atas segala perbedaan, serta dengan mengatakan tidak pada politik uang,” kata Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah MT.

Ia meminta semua kalangan bersama-sama menjaga agar Pemilu 2019 berjalan secara demokratis, jujur, adil, dan jauh dari segala sikap dan aksi yang bisa mencederai tegaknya demokrasi di Aceh. Dan yang tidak kalah pentingnya, kata Nova, jangan sampai hanya karena perbedaan pilihan, membuat masyarakat Aceh terpecah belah dan tercerai-berai. “Mudah-mudahan deklarasi kampanye damai Pemilu 2019 pada hari ini, menjadi awal yang baik bagi kita demi suksesnya Pemilu 2019 yang damai dan berkualitas,” katanya.

Ketika bicara hoaks dan ujaran kebencian, sasarannya tentulah warganet. Sebab, kedua hal yang ditakutkan itu hanya tumbuh subur di dunia maya, lebih khusus lagi media sosial. Dan, kerena itu, tim pemenangan capres dan cawapres serta para bacaleg lebih memetingkan memperkuat tim kampanye di dunia maya ketimbang kampanye tatap muka. Sebab, kampanye di media sosial kini dipandang jauh lebih efektif ketimbang kampanye tatap muka. Sebaliknya, menyerang lawan melalui media sosial juga lebih efektif ketimbang berkoar-koar di panggung-panggung kampanye.

Maka terkait dengan pemilu damai, maka yang jauh lebih penting adalah mengajak tertib para warganet. Pakar komunikasi politik dari Universitas Paramadina Hendri Satrio mengajak seluruh masyarakat lebih bijaksana bila berselancar di dunia maya menjelang Pilpres 2019. “Kubu Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno juga harus lebih bijak saat berkampanye. Saya percaya kalau bicara politik hanya sampai dagu, enggak sampai hati. Kalau sampai dagu itu, selesai. Asal otaknya dingin. Kalau sampai hati, susah. Sebab, di sana ada cinta dan benci,” tegas Hendri.

Selain itu, parpol kini juga jangan lagi mengerahkan massa untuk menarik simpatik masyarakat. Upaya untuk menarik simpatik kini justru harus dilakukan para caleg. Intinya, caleg dan calon anggota DPD RI semestinya mampu menampilkan citra sebagai figur yang santun dan mengutamakan akal pikiran dalam menyampaikan visi dan misinya.

Ingatlah, di satu sisi kampanye adalah perang ideologi, perang strategi, dan perang gengsi. Namun, di pihak lain melihat berbagai kondisi dalam masyarakat sekarang ini, maka kampanye pemilu sebagai ajang politik sangat potensial terhadap konflik horisontal dan konflik vertikal. Bahkan, bisa menimbulkan konflik tanpa pola, yakni amuk massa yang sama sekali ingin kita jauhi!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved