Anggota DPRA Sambangi Polda Metro Jaya, Ini Tujuannya

"Setiap orang yang memasuki wilayah hukum Aceh wajib mematuhi syariat yang diatur dalam bentuk perda atau qanun,"

Anggota DPRA Sambangi Polda Metro Jaya, Ini Tujuannya
FOR SERAMBINEWS.COM
Anggota DPRA, Adly Tjalok bin Ibrahim (dua dari kiri) bersama pengacaranya Muhammad Ari Syahputra mendampingi warga Aceh, Munazir Nurdin mendatangi Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Metro Jaya di Jakarta, Jumat (23/11/2018). Kedatangan mereka untuk melaporkan Ketua Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Grace Natalie terkait isi pidatonya yang menolak Perda Syariah tanggal 11 November 2018. 

Laporan Saifullah | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM - Anggota DPRA, Adly Tjalok bin Ibrahim bersama pengacaranya Muhammad Ari Syahputra mendampingi warga Aceh, Munazir Nurdin mendatangi Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Metro Jaya di Jakarta, Jumat (23/11/2018).

Kedatangan mereka untuk melaporkan Ketua Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Grace Natalie terkait isi pidatonya yang menolak Perda Syariah tanggal 11 November 2018.

Laporan warga Aceh ini telah diterima dengan tanda bukti lapor polisi Nomor TBL/6419/XI/2018/PMJ/Dit.Reskrimsus di Polda Metro Jaya, tertanggal 23 November 2018.

Baca: Kronologi Polisi Gadungan Ditangkap, Sudah Tipu dan Kencani Mahasiswa, Perawat hingga Polwan

Baca: VIDEO Ular Piton 8 Meter Lilit Warga saat Hendak Ditangkap, Awalnya Dikira Batang Pohon Besar

Adly Tjalok kepada Serambinews.com, Selasa (27/11/2918), mengatakan, pihaknya sengaja melapor ke pihak berwajib karena pidato Grace Natalie mengandung unsur penistaan agama dan ujaran kebencian.

Pernyataan Ketua PSI yang menyatakan tidak mendukung Perda Injil dan Perda Syariah, ulas politisi PA ini, menimbulkan ketidakadilan, diskriminasi, dan intoleransi, serta telah membuat keresahan bagi masyarakat Aceh sebagai daerah yang kini sedang menerapkan syariat Islam.

"Hal ini dikarenakan Aceh mempunyai keistimewaan tersendiri berdasarkan Undang-Undang No 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Termasuk di dalamnya membuat dan menerapkan perda (qanun) syariat Islam," tegasnya.

Baca: Pesan Ustadz Abdul Somad (UAS) di Subulussalam, Jangan Berkelahi Gara-gara Pilkada

Baca: Rela Berpayung Kardus, Ribuan Warga Subulussalam Antusias Saksikan Ceramah Ustadz Abdul Somad

Menurut pelapor Munazir Nurdin, pernyataan Grace Natalie itu secara langsung menyerang dan ingin mengebiri keistimewaan Aceh pada saat ini.

Karena masyarakat Aceh sudah melaksanakan perda syariat/qanun dalam kehidupan sehari-hari yang merupakan suatu ketentuan hukum yang wajib dilaksanakan dan dipatuhi.

"Setiap orang yang memasuki wilayah hukum Aceh wajib mematuhi syariat yang diatur dalam bentuk perda atau qanun," tukasnya.

Baca: Terciduk di Lapak Judi, Polres Galus Amankan 8 Warga Putri Betung, Salah Satunya Sekretaris Desa

Baca: Hari Ini, Rupiah Ditutup Melemah Terhadap Dollar Amerika Serikat 

Adly Tjalok menambahkan, Grace Natalie seakan menyatakan bahwa perda syariat tidak adil, intoleransi, dan diskriminatif.

"Padahal dalam Quran Surah An-Nisa ayat 135 sangat jelas bahwa Allah menekankan janganlah karena hawa nafsu kamu, kamu menyimpang dari yang benar dan berlaku tidak adil. Oleh karena itu, masyarakat Aceh sangat kecewa dan sangat dirugikan oleh Grace Natalie yang diduga akan berupaya merubah perda syariah jika mereka berkuasa," ungkap Adly Tjalok.

Mantan Ketua PSSI Aceh ini menegaskan, pidato Ketua PSI tersebut telah melukai perasaan masyarakat Aceh.

Baca: Badai Pasir Setinggi 100 Meter Hantam Kota Zhangye, Gansu, Barat Laut Tiongkok

Baca: Kisah Antropolog India yang Berhasil Kontak dengan Suku Sentinel, Bawa Hadiah Wajan Hingga Pisau

"Kami telah nyaman dan tentram dengan Perda syariat dan Perda syariat dibuat dengan perjalanan panjang serta penuh perjuangan, dan penuh tantangan, bukan segampang membalikkan telapak tangan. Kami warga Aceh rela mengorbankan apa aja jika agama dan aturan hukum syariat/qanun yang telah kami laksanakan sesuai amanah undang-undang, diganggu. Dan jangan coba-coba ganggu hukum syariat/qanun untuk kepentingan politik," tandas Adly Tjalok.(*)

Penulis: Saiful Walido
Editor: Hadi Al Sumaterani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved