Salam

Malaria Knowlesi Harus Dicegah Sebelum Meluas

Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh sudah melaporkan ke pusat mengenai adanya warga di Aceh Barat

Malaria Knowlesi Harus Dicegah Sebelum Meluas
IST
SAPTO AJI PRABOWO, Kepala BKSDA Aceh

Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh sudah melaporkan ke pusat mengenai adanya warga di Aceh Barat yang terjangkit malaria Plasmadium knowlesi atau malaria dari parasit monyet. Rupanya, kasus knowlesi yang langka ini sebelumnya juga pernah ditemukan di Sabang. “BKSDA akan ambil sampel darah beberapa monyet di Aceh Barat, baik itu liar maupun dipelihara warga. Kita akan cek darahnya,” jelas Kepala BKSDA Aceh, Sapto Aji Prabowo.

Sebelumnya, Kadis Kesehatan Aceh Barat menghubungi pihak BKSDA soal kejadian itu. “BKSDA akan ambil sampel darah beberapa monyet, baik itu liar maupun dipelihara warga. Kita akan cek darahnya,” jelas Sapto.

Menurut pejabat itu, persoalan malaria dari parasit monyet sudah dibahas di tingkat pusat, termasuk langkah penanggulangannya. “Namun, malaria knowlesi ini dinilai belum endemis sehingga masih mampu diatasi pemerintah daerah,” tukas Sapto Aji.

Pekan lalu, satu pasangan suami-istri di Kecamatan Panton Rheu, Aceh Barat, ditemukan terjangkit malaria knowlesi yang sangat berbahaya ini. Lalu, beberapa hari kemudian ditemukan lagi Kecamatan Woyla, kabupaten setempat yang juga terjangkit malaria berasal dari pasarasit monyet. Warga-warga yang terjangkit knowlesi itu sempat dirawat beberapa hari di Puskesmas dan kemudian dibolehkan pulang. Mereka adalah pekerja di perkebunan kelapa sawit.

Tim Dinas Kesehatan Aceh Barat sudah turun ke kawasan perkebunan kelapa sawit tempat para penderita knowlesi itu bekerja. Sedikitnya, 25 pekerja diperiksa darah, namun hasilnya negatif. Namun, tim ini tetap berusaha mengambil langkah-langkah penangangan yang tepay agar jangkitan malaria knowlesi tidak meluas.

Plasmodium knowlesi ini lazim ditemukan pada kera ekor panjang (Macaca fascicularis), kera ekor babi (Macaca nemestrina), dan langur (Presbytis melalophos). Plasmodium knowlesi ini ditularkan melalui nyamuk. Gejala klinis malaria akibat infeksi Plasmodium knowlesi mirip dengan gejala malaria lainnya, tetapi pada malaria knowlesi keluhan gastrointestinal sering terjadi dan trombositopenia lebih menonjol. Angka kematian malaria knowlesi berkisar 1-2%. Pemeriksaan mikroskopis tidak dapat diandalkan untuk menegakkan diagnosis malaria knowlesi. Pemeriksaan yang paling baik adalah polymerase chain reaction (PCR), tetapi pemeriksaan ini mahal dan butuh tenaga dengan keterampilan khusus.

Pernyataan terakhir dari peneliti itu pantas digarisbawahi. Bahwa mikroskop tak bisa diandalkan untuk mendiagnosis malaria yang bersumber dari monyet. Dan, jenis-jenis monyet yang menjadi “produsen” plasmadium knowlesi itu, dalam pengamatan kita memang banyak di Aceh Barat dan dan daerah-daerah lainnya. Jadi, meski pada pemeriksaan darah terhadap 25 pekerja itu negatif, pemerintah harus tetap berhati-hati. Sebab, dalam beberapa tahun terakhir, tempat-tempat petani atau pekebun beraktifitas sudah menjadi habitat monyet. Bahkan, monyet-monyet secara bergerombolan kini tak takut lagi “menyambangi” pemukiman warga. Namun demikian, harus diingat, monyet bukan binatang yang boleh diberantas sembarangan seperti nyamuk! Pemberantasan hanya boleh dilakukan atas rekomendasi pemerintah.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved