Salam

Saat Puting Beliung Jadi Ancaman Serius

Untuk kedua kalinya setelah 10 Februari lalu, kembali puting beliung melanda wilayah Aceh

Saat Puting Beliung Jadi Ancaman Serius
FOR SERAMBINEWS.COM
Warga memperhatikan Rumah Toko (Ruko) milik Ponidi di Bale Ulim, Pidie Jaya yang rusak akibat tertimpa tiang listrik akibat badai puting beliung, Selasa (5/3/2019) petang 

Untuk kedua kalinya setelah 10 Februari lalu, kembali puting beliung melanda wilayah Aceh. Jika pada peristiwa sebelumnya 13 rumah plus satu meunasah dirusak puting beliung di Bener Meriah, kali ini pada Sabtu (9/3), puting beliung kembali menerjang Kabupaten Bener Meriah dan Kota Subulussalam.

Di Subulussalam, bangunan yang rusak berupa enam rumah di Kecamatan Simpang Kiri dan satu rumah di Kecamatan Sultan Daulat. Dua di antara tujuh rumah itu rusak berat karena atapnya copot total, selebihnya rusak sedang. Rumah yang atapnya copot tersebut menyebabkan penghuninya harus mengungsi ke rumah kerabat terdekat.

Selain itu, Gedung Balai Latihan Kerja (BLK) Kota Subulussalam juga rusak atapnya diterjang puting beliung.

Pada waktu yang hampir bersamaan, Sabtu sore, puting beliung juga kembali menerjang Bener Meriah sehingga sebuah kafe yang sedang dalam tahap pengerjaan di Kampung Bale Atu, Kecamatan Bukit, rusak atapnya.

Rekaman bencana akibat angin puyuh di dua daerah itu diberitakan Harian Serambi Indonesia sebagai berita utama (headline) di halaman 1 pada edisi Minggu kemarin. Penempatan berita tersebut di halaman muka, apalagi sebagai ‘headline’, menunjukkan bahwa berita itu penting dan memerlukan perhatian dari publik, terlebih pemerintah.

Angin yang berputar pada porosnya itu pada tiga kali kejadian dalam sebulan terakhir memang tak sampai menimbulkan korban jiwa. Namun, pada peristiwa 10 Februari lalu di Kecamatan Wih Pesam, Bener Meriah, total kerugiannya ditaksir tak kurang dari Rp 250 juta.

Sementara itu, kerugian materiel akibat puting beliung di Kota Subulussalam dan Bener Meriah pada Sabtu lalu ditaksir tak kurang dari Rp 100 juta. Selain itu, delapan penghuni rumah terpaksa mengungsi karena atap rumahnya copot total.

Nah, bencana alam yang disebabkan puting beliung memang sangat perlu kita waspadai, mengingat di Aceh puting beliung kerap terjadi dan termasuk ancaman serius. Buktinya, tahun 2018 lalu, puting beliung menempati peringkat kedua ranking bencana yang terjadi di Aceh.

Dari 294 kali terjadi bencana di provinsi ini bencana yang paling banyak terjadi adalah kasus kebakaran di permukiman warga, mencapai 143 kali, disusul puting beliung 93 kali. Baru kemudian banjir genangan 90 kali serta kebakaran hutan dan lahan sebanyak 44 kali.

Sedangkan lokasi terjadinya puting beliung paling sering melanda Kota Sabang dan Aceh Besar disusul kabupaten yang terletak di Dataran Tinggi Gayo, salah satunya adalah Bener Meriah.

Sebenarnya, kerugian akibat puting beliung dapat diminimalkan dengan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, misalnya dengan memeriksa secara berkala kondisi atap rumah kita. Perkuat pakunya agar tidak rusak, lekang, atau bahkan copot total saat disedot angin puting beliung.

Selain itu, hindari pula membesarkan pohon berakar serabut di dekat rumah karena akan menjadi mangsa yang empuk bagi puting beliung. Terakhir, waspadai gejala-gejala datangnya puting beliung. Di antaranya saat pohon terlihat bergoyang kuat, malam sebelumnya cuaca gerah itu pertanda esok siangnya berpotensi terjadi puting beliung, atau pada saat di atmosfer terdapat awan hitam atau kumulonimbus yang menjulang tinggi mirip bunga kol. Ciri khas puting beliung adalah memiliki pusaran mirip awan berekor.

Nah, dengan mengenali tanda-tanda bakal terjadi atau saat terjadinya puting beliung tersebut semoga semua kita bisa menghindarinya. Di tempat yang puting beliung sering terjadi, tak salahnya pula untuk berpikir membangun bungker di pekarangan rumah.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved