Opini

Ketika Bumi Kian tak Hijau

SEBUAH sebuah film animasi garapan Andrew Stanton dengan judul Wall E, digambarkan hamParan bumi masa

Ketika Bumi Kian tak Hijau
IST
Muazzah, S.Si., M.A. Guru Sekolah Sukma Bangsa Pidie dan anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Pidie Raya

Oleh Muazzah, S.Si., M.A. Guru Sekolah Sukma Bangsa Pidie dan anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Pidie Raya.

SEBUAH sebuah film animasi garapan Andrew Stanton dengan judul Wall E, digambarkan hamParan bumi masa depan begitu mengerikannya. Dalam film yang dirilis pada 2008 lalu itu, tampak tak ada lagi kehidupan, sehingga manusia harus mengungsi ke luar angkasa. Bumi hanya berisi tumpukan sampah yang dihasilkan manusia, hingga tak menyisakan ruang untuk tinggal. Film ini bagai prediksi masa depan bumi dengan jumlah sampah yang kian meningkat dari tahun ke tahun.

Keadaan yang digambarkan melalui film tersebut jelas mencerminkan sifat konsumtif pada hampir semua orang, sehingga jumlah sampah yang dihasilkan sangat banyak. Dan kenyataan yang terlihat sekarang jelas nyata bahwa jumlah sampah yang dihasilkan benar-benar sangat banyak, dengan jenis sampah yang tidak dapat diurai secara alami.

Sampah dan efeknya
Berdasarkan data dari ScienceMag, jumlah produksi sampah plastik global sejak 1950 hingga 2015 cenderung meningkat. Pada 1950, produksi sampah dunia mencapai 2 juta ton per tahun. Pada 2015, produksi sampah meningkat hingga 381 juta ton per tahun. Selanjutnya, data dari Our World in Data, sampah paling banyak berasal dari jenis plastik kemasan produk, yakni sebanyak 146 ton per tahun. Disusul sampah bangunan dan konstruksi sebanyak 65 juta ton. Jenis sampah lainnya adalah tekstil, produk konsumsi dan institusional, transportasi, elektronik, dan mesin industri (Luthfia, 2018).

Tingginya jumlah sampah dunia, jelas membahayakan alam. Banyak biota laut yang mati akibat cemaran oleh sampah manusia, begitu juga kondisi tanah yang memburuk akibat polusi yang kita buat, baik secara sengaja maupun tidak. Akibat yang ditimbulkan oleh sampah sebenarnya juga berdampak pada manusia sendiri. Kualitas air yang memburuk menyebabkan krisis air terjadi di banyak negara, begitu juga dengan kualitas udara yang menyebabkan meningkatnya penyakit-penyakit tertentu.

Sebenarnya, banyak sedikitnya sampah yang dihasilkan oleh suatu negara tidak menjadi penentu rusaknya lingkungan di negara tersebut. Karena ada negara-negara dengan jumlah produksi sampah yang tinggi, namun mampu mengelolanya dengan sangat baik. Sehingga mereka tak mengalami dampak negatif yang ditimbulkan oleh sampahnya. Negara-negara Eropa dan Amerika adalah negara dengan tumpukan sampah yang tinggi, namun rendah mengalami risiko pencemaran, dan kerusakan lingkungan akibat sampah. Sebaliknya, negara-negara di Asia Timur dan Tenggara memiliki masalah dalam pengelolaan sampahnya.

Indonesia termasuk negara dengan pengelolaan sampah yang sangat buruk, sehingga tercatat sebagai penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia. Sebagian besar sampah tersebut mencemari perairan dan berakhir di laut lepas yang jelas akan merusak ekosistem laut, dan menganggu negara lain. Bahkan menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Kementrian Perindustrian (2016), jumlah timbulan sampah di Indonesia sudah mencapai 65,2 juta ton pertahun. Sedangkan dari limbah B3, sisa industri yang dikelola pada 2017 sebesar 60,31 juta ton, dan secara akumulasi dari 2015 hanya mencapai kurang dari 40% dari target pengelolaan limbah B3 sebesar 755,6 juta ton di 2019.

Jenis usaha yang mengelola limbah B3 terbesar adalah pertambangan, energi dan mineral. Sejalan dengan itu, permasalahan lingkungan dan kesehatan akibat sampah dan limbah juga bertambah. Kualitas air sungai di Indonesia umumnya berada pada status tercemar berat. Tahun 2018, 25,1% desa mengalami pencemaran air, dan sekitar 2,7% desa tercemar tanahnya. Sampah juga berkontribusi terhadap kejadian banjir yang terus meningkat dari tahun ke tahun, pada tahun 2016 dan 2017 sebanyak 1.805 banjir terjadi di Indonesia serta menimbulkan 433 korban jiwa.

Eksploitasi alam
Selain masalah sampah, eksploitasi alam juga kian marak terjadi. Pembukaan lahan baru oleh masyarakat demi pemenuhan kebutuhan hidup tak dapat dibendung. Jutaan hektar hutan tergantikan dengan pemukiman dan kebun bukan lagi pemandangan asing. Kebutuhan minyak dan mineral bumi juga semakin meningkat, sehingga banyak hutan yang terancam rusak karena proses penambangan.

Seperti yang baru-baru ini terjadi di Aceh, protes atas pembukaan hutan oleh perusahaan tambang di Nagan Raya yang dilakukan oleh mahasiswa jelas menyiratkan kekhawatiran para generasi muda akan kondisi alam. Di satu sisi, kekayaan hasil tambang merupakan anugerah bagi Indonesia, namun pengelolaan yang tidak tepat justru akan menimbulkan efek negatif yang berkepanjangan bagi lingkungan dan warga setempat.

Jumlah area hijau di Indonesia jelas menurun dari tahun ke tahun. Ada banyak hutan yang berubah fungsi menjadi pemukiman warga dan pusat industri. Jumlah penduduk yang kian meningkat, menyebabkan kebutuhan konsumsi juga ikut meningkat, sehingga eksploitasi alam kian meningkat dan jumlah serta variasi sampah ikut meningkat pula. Kekhawatiran akan terus menurunnya konservasi alam menjadi sangat lumrah, karena hal ini menjadi salah satu konsern utama pada pembangunan berkelanjutan di tingkat dunia.

Pendidikan lingkungan hidup
Harusnya kita dapat menikmati hasil bumi dengan baik tanpa harus merusak keseimbangan alam. Dan kesadaran akan kepedulian terhadap lingkungan perlu dilakukan oleh semua pihak. Untuk menjamah semua kalangan, maka pendidikan adalah jalan paling mudah untuk disentuh. Hal ini karena hampir semua orang akan mengenyam pendidikan. Dan pembiasaan sejak dini adalah kunci utamanya.

Jika setiap insan memiliki pemahaman yang baik akan lingkungan, mengetahui berbagai efek dari rusaknya alam bagi manusia, diharapkan kesadaran untuk menjaga dan melestarikan alam akan tumbuh dengan baik. Siswa dengan kesadaran berlingkungan yang baik, sejatinya akan tumbuh menjadi pribadi yang mampu menjaga lingkungan.

Nantinya, merekalah yang akan menjadi pemangku kebijakan di tingkat pemerintahan, menjadi pemilik perusahaan, dan pelaku bisnis yang sadar benar akan pentingnya bersahabat dengan alam. Karena jika dalam film-film Hollywood, manusia bisa hidup di planet lain, namun kenyataannya hingga kini belum ada planet yang bisa kita tempati layaknya bumi. Jika kita tak mampu menjaga bumi dengan baik, maka bersiaplah untuk tak memiliki tempat tinggal yang nyaman, yang mampu menyediakan segala kebutuhan kita.

Dengan momentum Hari Bumi 2019, mari bersama kita tumbuhkan kesadaran untuk menjaga lingkungan agar tetap asri. Kita boleh memanfaatkan hasil bumi, namun harus dengan cara yang bijak, mengelola secara berkelanjutan, dan minim sampah serta limbah. Karena keberlangsungan bumi akan memengaruhi keberlangsungan hidup manusia pula. Selamat Hari Bumi! (muazzahmuhammad@gmail.com)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved