Opini
Peran Mahasiswa dan Demo Harga BBM
KENAIKAN harga bahan bakar minyak (BBM) pada Juni 2013 ini kembali mengusik ketenangan mahasiswa
Mahasiswa sebagai ikon pemimpin masa depan yang memiliki kemapanan intelektual mestinya mempunyai pemikiran dan tindakan konstruktif, bukan destruktrif seperti yang dilakukan selama ini dalam menyikapi rencana kenaikan harga BBM yang dilakukan pemerintah. Tindakan destruktif berupa anarkisme yang berkibat pada bentrok dengan warga dan pihak kepolisian, perusakan gedung dan fasilitas negara, atau kemacetan yang berkepanjangan, menadai bahwa mahasiswa sejatinya belum mampu membangun keadaban diri, sebagai modal utama dalam proyek jangka panjang membangun keadaban negerinya yang membentang luas dari ujung Sabang sampai Merauke dengan ratusan juta jiwa penduduknya.
Siapa yang dibela?
Ali Syari’ati, seorang intelektual muslim dan sosiolog revolusioner Iran, pernah mengeluarkan diktum, bahwa hanya intelektual yang tercerahkan yang bisa berperan sebagai “nabi” yang memiliki tanggung jawab sosial. Maka mahasiswa sebagai kaum intelektual harus “mencerahkan” dirinya sendiri sebelum mencerahkan pemerintah dan bangsanya. Sebab sangat nyata, tindakan anarkisme berdampak destruktif terhadap negara dan rakyat. Lalu, bila demikian, siapa yang dibela mahasiswa dalam demonstrasi menolak kenaikan harga BBM yang anarkis?
Demonstrasi mestinya dijalankan dengan jalan keadaban, sebagai bukti jika mahasiswa benar-benar memiliki kemapanan intelektual yang tercerahkan. Karena itu, intelektual organik kata Antonio Gramsci, adalah mereka yang melebur secara langsung dan membela rakyat jelata, serta bertindak konstruktif untuk kesejahteraan dan keadaban bangsanya.
Masduri, Mahasiswa dan Peneliti di Jurusan Teologi dan Filsafat Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Ampel, Surabaya, Jawa Timur. Email: masduri_as@yahoo.co.id