Opini
Kekejaman Belanda
“Setiap bangsa memiliki kekejamannya sendiri-sendiri,” demikian tulis sastrawan kawakan Indonesia, Goenawan Mohammad,
Oleh Deny Pasla
“Setiap bangsa memiliki kekejamannya sendiri-sendiri,” demikian tulis sastrawan kawakan Indonesia, Goenawan Mohammad, pada Catatan Pinggir Majalah Tempo di tahun 1981. Apa yang ditulis Goenawan itu menjadi refleksi bagi kita: Seberapa bengiskah kekejaman suatu bangsa terhadap bangsa lainnya atau seberapa sadiskah kekejaman suatu bangsa terhadap bangsa itu sendiri? Kita tahu, kekejaman Hitler terhadap bangsa Yahudi, Stalin-Lenin terhadap bangsa Ukraina, Usbezkistan, Serbia terhadap bangsa Bosnia dan Sarajevo, Vietchong terhadap rakyatnya sendiri. Rezim Pol Pot terhadap bangsa Kamboja. Dan yang tidak mungkin dapat dilupakan bangsa ini adalah kekejaman Belanda selama tiga setengah abad. Terlebih ketika masa Vaan Daalen menjadi Komandan Marechaussee di Aceh (Marsose) dan melakukan penyerangan-penyerangan ke tanah Gayo, Alas, dan Batak. Akankah kita memandang kekejaman tersebut sebagai sebuah cerita belaka?
Perbudakan Belanda
Sebenarnya kita tidak pernah belajar dari sejarah masa lalu, ketika kolonialisme Belanda menjejakkan kakinya di Bumi Pertiwi ini. Praktik perbudakan dan kerja paksa telah diberlakukan Belanda hampir di seluruh Indonesia selama tiga setengah abad . Bentuk-bentuk perbudakan itu banyak dikenal dengan sistem kerja paksa (rodi), tanam paksa (culture steelsel), dan landrente (sewa tanah). Belanda menjalankan semua sistem tersebut sebagai salah satu upaya memperkaya bangsanya dengan cara memeras bangsa terjajah. Kekejaman perbudakan Belanda tersebut tidak akan terbayar dengan dilaksanakannya politik balas budi. Meskipun melalui politik etis itu kita mulai menyadari arti pentingnya kebebasan untuk mendapatkan hak-hak asasi kita yang selama ini telah dirampas oleh kaphe-kaphe Belanda.
Beruang-beruang Rantai
Selain diberlakukannya sistem kerja paksa dan tanam paksa oleh Belanda pada masa Gubernur Jendral Van den Bosch, Daendels, dan Thomas Stamford Reffles tersebut, ternyata ada kisah paling memilukan selama terjadinya peperangan Aceh-Belanda (1873-1904). Kisah yang jarang ditulis sejarawan kita tentang adanya sistem perbudakan oleh tentara-tentara Belanda terhadap bangsa pribumi yang dijadikan TPO (Tenaga Pembantu Operasi) yang sering disebut Belanda sebagai “Batalyon 19 atau “Batalyon Merah” karena mereka dikenakan pakaian merah. Ada masanya juga para budak-budak itu digelar sebagai “perwira-perwira marine” atau beruang-beruang rantai.
Keberadaan para pekerja paksa itu pernah menjadi masalah besar di negeri Belanda ketika Niew Rotterdasche Courant milik seorang sosialis Belanda menurunkan suatu laporan tentang keberadaan “para beruang rantai” pada Januari 1938. Isi laporan di koran itu antara lain, “Bilakah seorang penulis akan menulis sejarah yang mengungkapkan saham yang pernah diberikan oleh beruang-beruang rantai dalam usaha fasifikasi dan pembukaan daerah-daerah yang sekian banyak itu” (sebagaimana dikutip Zenteengraaff dalam Abu Bakar Aceh, 1985:453)
Kisah-kisah perbudakan (beruang-beruang rantai masa kolonial ini) menjadi lembaran tersendiri bagi kerajaan Belanda. Tanpa mereka tak akan terwujud sebuah ekspedisi pun; mereka telah bekerja dengan beban yang jauh lebih berat dari orang-orang lain dan dengan penderitaan-penderitaan yang lebih parah dibandingkan dengan orang-orang lain pula. Bahkan kebanyakan mereka telah turut memainkan peran-peran langsung dalam suatu pertarungan; mereka telah melaksanakan perintah-perintah yang sangat berbahaya yang sebenarnya lebih baik dibebankan sama serdadu, sementara imbalannya mereka hanya memperoleh kesempatan menerima pengampunan hukuman, baik seluruhnya maupun sebagian.”
Dalam kisah penyerbuan ke Tangse yang dipimpin oleh Van Heutsz, Mayor van Loenen, para pekerja paksa banyak jatuh sakit dan dibiarkan begitu saja tanpa mendapatkan makanan maupun obat-obatan. Sebagian lain yang dianggap masih memiliki kekuatan tetap dibawa untuk mengangkut semua perbekalan meskipun merekaa dalam keadaan dingin dan kaku di tanah. Dan pada malam penyerangan ke Tangse tersebut kebanyakan “beruang-beruang merah” itu meregang nyawa. Maut merenggut mereka.
Mengapa para pekerja paksa itu kehilangan nyawa mereka? Tidak lain karena mereka kurang mendapat jatah makanan sehingga kehabisan tenaga. Sebagian memang mendapatkan cukup makanan terutama yang berada di bagian “beruang-masak.” Mereka dapat mencicipi makanan yang dimasaknya secara mencuri atau secara diam-diam sebelum makanan itu diserahkan kepada serdadu.
Ada juga yang tidak mendapatkan perlakuan apa pun. Kawan-kawan “beruang” yang tak beruntung itu harus bekerja terus sampai mereka tersungkur disebabkan keletihan. Dan jika mereka membangkang, maka akan dikeluarkan rotan dan diikat pada batang kayu untuk menerima 25 kali pukulan rotan.
Dapat kita bayangkan bagaimana perlakuan kolonial terhadap para tawanan pribumi yang dianggap bersalah pada Belanda. Mereka harus menerima perlakuan tidak manusiawi. Ada yang menjadi tukang masak, pencuci pakaian, pembuat teh dan pengangkut logistik. Mereka bekerja tanpa digaji dan hanya berharap adanya pengurangan hukuman yang dikenakan padanya tanpa ada proses pengadilan.
Tidak diketahui persis berapa sebenarnya jumlah para pekerja paksa yang dipekerjakan Belanda selama perang Aceh berlangsung. Belanda sendiri tidak pernah mau mencatat nama-nama mereka yang merupakan orang-orang hukuman, dikarenakan melakukan tindakan kriminal. Mereka telah menjadi kisah tersendiri dalam sejarah peperangan kita.
Namun, ada kritikan dari kaum sosialis di Parlemen Belanda waktu itu yang menguasai hampir 67% kursi di parlemen. Kritik-kritik kaum sosialis ini pula yang nantinya mampu mengungkapkan bahwa pihak Belanda terutama pada masa Gubernur Jenderal Van Daleen berkuasa telah melakukan tindakan-tindakan yang keji dan mengundang reaksi masyarakat Belanda sendiri.
Penyerangan ke Gayo
Kita ketahui bahwa Van Daalen melakukan penyerangan ke daerah Gayo, Alas, dan Batak (De tocht van Overste Van Daalen Door de Gayo, Alas en Batak dikarang oleh Kempees). Mereka menyerbu 8 tempat, di antaranya Kuto Reh, Badek, Cane Ukon Tunggol, Penosan, Tampeng, Liket, dan Kuto Lengat Baro. Tercatat korban jiwa mencapai 2.549 orang, 1001 orang di antaranya adalah wanita dan anak-anak.
Tentu saja Van Daalen tidak berjalan sendiri untuk penyerbuan ke beberapa daerah yang menjadi barisan kekuatan pribumi. Van Daalen memanfaatkan para pekerja paksa untuk mengangkut perbekalan serdadu-serdadunya yang berjumlah besar dalam menumpas perlawanan rakyat Gayo, Alas, dan Batak. Agaknya Van Daalen menjadi hantu yang paling menakutkan, tidak hanya bagi pejuang-pejuang pribumi yang menghadapi keganasannya melebihi “binatang buas”, tetapi juga menjadi maut bagi “beruang-beruang rantai.”
Berkaca dari sini, seharusnya peristiwa kekejian dan kekejaman itu tidak harus terjadi. Apalagi jika kita mengakui sebagai bangsa yang beradab dan menjunjung tinggi peradaban. Sistim eksploitasi buruh, kekerasan pada perempuan dan anak, agaknya menjadi kekejaman kita terhadap orang lain. Goenawan Mohammad, penyair gaek itu agaknya mengingatkan kita bahwa setiap bangsa memiliki kekejamannya sendiri-sendiri. Artinya, kita tidak perlu menampik dan berlagak suci. Kekejaman masa lalu itu harus menjadi pelajaran manusiawi untuk masa kini: Bahwa kekejaman adalah catatan hitam kemanusian yang tak boleh terulang lagi di Aceh, oleh siapa pun, dan di mana pun tempat lainnya..
* Penulis adalah pendidik di SMP Negeri 2 Kejuruan Muda Aceh Tamiang, alumnus FKIP Sejarah Unsyiah. Email: denypasla@yahoo.com