Opini
Wajah ‘Semrawut’ Politik Aceh
SECARA regional Aceh sering berulah (bertingkah-ed.) dengan induknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
Hal itu, misalnya, terlihat hampir seluruh ketua/anggota Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) di Aceh hari ini sudah dimiliki mereka. Konon, mereka juga tengah berupaya untuk dapat mendudukkan kader-kadernya di dinas-dinas terkait seperti Dinas Syariat Islam, Badan Dayah, dan Kemenag untuk memudahkan menguasai posisi-posisi lain ke depan. Mereka sangat sadar bahwa siapa saja yang menjadi penguasa Aceh tetap saja memerlukan mereka, karena rakyat berada bersama mereka.
Kini, mereka mengarahkan agar kader-kader lepasan dayah melanjutkan pendidikan di berbagai perguruan tinggi, termasuk pendidikan umum dalam rangka menyahuti kepentingan dan rencana manisnya tersebut. Kalau rancangan ini berjaya, maka ada kemungkinan yang berseteru adalah tiga kekuatan dari para mantan GAM tadi, tetapi yang mendapatkan kekuasaan secara manis (cok boh manok mirah) adalah pihak kader-kader dayah Aceh di masa depan. Wallahu a’lam.
Hasanuddin Yusuf Adan, Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh, dan Dosen Siyasah pada Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam UIN Ar-Raniry, Banda Aceh. Email: diadanna@yahoo.com