Opini
Aceh di Antara Brunei dan Malaysia
PADA 28-30 Desember 2013, saya bersama rekan dari Aceh, yakni Hasan Basri, Tarmizi A Hamid, Mulyadi Nurdin, Safaruddin, Irfan, melakukan kunjungan
Inilah yang melatarbelakangi saya memilih judul tulisan ini “Aceh di Antara Brunei dan Malaysia”. Kenapa pula dengan Malaysia? Karena negara jiran ini yang juga melaksanakan syariat Islam, tapi kehidupan penduduknya terlihat sangat bebas. Di jalanan dan mal-mal, banyak didapati orang-orang yang memakai celana pendek dan tidak berjilbab. Di Malaysia juga ada lokalisasi judi, yakni Genting Highland.
Relatif konservatif
Kondisi ini sangat berbeda dengan Brunei yang terkesan sangat tertutup untuk orang luar. Dalam kunjungan ke Pusat Da’wah Islamiyah Brunei, kami melihat negara ini mempraktikkan Islam yang relatif konservatif ketimbang Malaysia dan Aceh. Brunei melarang penjualan dan konsumsi alkohol, dan membatasi agama-agama lain, termasuk melarang peredaran beberapa film dan buku-buku tertentu yang dianggap dapat mendangkalkan akidah penduduknya.
Dalam museum di Pusat Da’wah Islamiyah Brunei, kami melihat beberapa barang yang disita karena dilarang beredar. Ada cincin dan benda-benda jimat, beberapa baju milik klub sepakbola yang melambangkan agama lain, beberapa VCD film panas asal Indonesia, serta VCD film Escape from Thaliban. Padahal, hampir semua benda itu sangat mudah ditemui di Aceh.
Singkatnya, dalam hal pelaksanaan syariat Islam, Aceh masih lebih terbuka dibandingkan Brunei. Mungkin ini karena Aceh belum sepenuhnya menjalankan pemerintahan sendiri, juga karena masih sangat tergantung dari bantuan pihak luar. Tapi, Aceh tidak pula seperti Malaysia, yang memberikan kebebasan luas kepada warga nonmuslim untuk bermain judi, mabuk-mabukan, dan perbuatan maksiat lainnya di negeri mereka.
Lalu mau dibawa kemana Aceh ini? Ingin seperti Brunei atau Malaysia? atau sudah cukup seperti saat ini? Semuanya sangat tergantung kepada para pemimpin dan penduduknya. Wallahua’lam bis shawab.
Zainal Arifin M. Nur, Wartawan Harian Serambi Indonesia, dan aktivis Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) Aceh.