Cerpen

Mad Brek

HUJAN mengguyur bumi dengan lebatnya. Sulit dibedakan, apakah hari masih fajar atau sudah senja

Editor: bakri

Karya Iswandi Usman

HUJAN mengguyur bumi dengan lebatnya. Sulit dibedakan, apakah hari masih fajar atau sudah senja. Waktu merangkak cepat bagaikan macan yang sedang mengejar mangsa. Alam disekap kebutaan.

Asap memenuhi udara dan tercium bau ganja. Aroma itu semakin dekat, menusuk hidung. Mad Brek mengucek-ucek  matanya yang terasa pedih. Kemudian dia menarik sisa ganja terakhir, mencampakkannya ke lantai, menginjak-injaknya dengan sandal jepit.

Dalam kepekatan, sebuah cahaya kecil muncul saat Mad Brek menyundut sebatang rokok lagi. Sepintas Madanya manangkap wajah kasar yang berdiri tepat di hadapannya. Ia tersentak. Ingin rasanya ia memekik sekuat tenaga. Tapi tidak jadi. Tubuh itu kurus.  Lebih kurus dari Mad Brek. Rambut orang itu jarang, kulit kepalanya mengkilap terkena cahaya. Kumisnya besar. Pakaian yang dikenakannya seperti yang dikenakan Gubernur Rasyib, jubah berwarna merah.

“Siapa kau?”

“Aku yang seharusnya bertanya. Siapa kau? Mengapa kau kemari?”

“Ceritanya panjang. Namun intinya aku ingin bertemu Gubernur Rasyib. Karena aku ingin menagih janji lamaku padanya.”

“Janji lama Gubernur Rasyib?”

“Janji lama dari Kuala Keureuto.”

“Dari siapa?”

“Mad Brek!” sahut Mad Brek sambil menyebut namanya.

“Mad Brek?” si pemilik jubah merah itu terdiam sejenak. Menghela nafas panjang. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di ingatannya. Tapi, bukankah Panglima Tar dan Nahkoda Kim memanggilnya Kutil Kuala?

“Ya, namaku Kutil dari Kuala Budok. Tapi Gubernur Rasyib memanggilku Mad Brek.”

Mungkin mulut orang yang bertanya itu sedang ternganga dalam gelap.

“Kalau kau tahu dimana Gubernur Rasyib, tolong katakan aku ingin bertemu dia. Tolonglah,” ujar Mad Brek memelas.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved